Pemerintah menyebut pipeline ekspansi data center AI di Indonesia sudah menembus kapasitas sekitar 1,3 gigawatt dengan potensi investasi US$15 miliar sampai US$20 miliar, atau sekitar Rp270 triliun hingga Rp360 triliun. Sementara kapasitas pusat data yang sudah beroperasi hari ini baru sekitar 580 MW. Artinya, dalam beberapa tahun ke depan Indonesia bakal membangun lebih dari dua kali lipat kapasitas yang sudah ada sekarang, dan hampir semuanya karena satu pemicu: kecerdasan buatan.
Apa Itu Data Center AI dan Kenapa Beda dari Pusat Data Biasa
Pusat data biasa dipakai untuk menyimpan data dan menjalankan aplikasi. Mulai dari website, sistem perbankan, layanan cloud, sampai aplikasi kasir toko kelontong. Beban kerjanya relatif ringan dan stabil sepanjang hari.
Data center AI bekerja dengan pola yang berbeda. Model AI generatif butuh ribuan sampai puluhan ribu GPU atau akselerator yang bekerja bersamaan, baik saat proses pelatihan model maupun saat melayani permintaan pengguna. Setiap rak server menarik daya jauh lebih besar, mengeluarkan panas bertingkat, dan butuh koneksi antarserver yang cepat.
Karena itu pusat data generasi baru mulai meninggalkan pendingin udara biasa. Mereka pakai liquid cooling langsung ke chip, rak berdensitas tinggi, jaringan kecepatan tinggi, dan sistem kelistrikan berkapasitas besar. Semua itu wajib, karena tuntutan teknisnya memang segitu.
Siapa yang Bangun dan Berapa Angkanya
Proyek terbesar yang sudah berjalan datang dari Digital Edge. Perusahaan ini mengumumkan investasi US$4,5 miliar untuk membangun CGK Campus di kawasan industri GIIC, Bekasi. Kampus itu dirancang menampung kapasitas IT sampai 500 MW pada pengembangan penuh, dan masih bisa dinaikkan menuju 1 GW. Fasilitasnya disiapkan khusus untuk beban kerja AI dengan teknologi direct-to-chip liquid cooling.
Proyek itu sudah berjalan di lapangan. Maret 2026 lalu Digital Edge mengamankan pembiayaan hijau US$665 juta untuk tahap pertama, gedung CGK1 mencapai tahap topping out, dan perusahaan mengunci pasokan listrik 1,45 GW. Keran uang terbuka, dan pasokan listrik jadi syarat pertama yang mereka amankan.
Pemain kedua yang mencuri perhatian ada di Batam. Firmus menggandeng Nvidia untuk menempatkan klaster 170.000 GPU di pusat data DayOne. Chip yang dipakai mencakup Grace Blackwell, Vera Rubin, dan Vera AI, dan pemasangannya berjalan bertahap sepanjang 2027 sampai 2028. Dari komitmen pelanggan, Firmus memperkirakan nilai kontrak jangka panjangnya mencapai US$25 miliar sampai US$30 miliar untuk enam tahun pertama. Kampus DayOne di Kabil Tech Park juga sudah menandatangani perjanjian jual beli listrik dengan PLN Batam sebesar 511 MVA, setara sekitar 450 MW, yang disalurkan bertahap pada 2026 sampai 2027.
Deretan nama yang aktif di pasar ini cukup panjang. Dari sisi lokal ada DCI Indonesia, NeutraDC/Telkom Data Ekosistem, dan Indosat. Dari sisi global ada Digital Edge, NTT, Equinix, Alibaba Cloud, AWS, Microsoft, dan DayOne.
Baca juga: Microsoft Copilot Super App Resmi Meluncur: Chat, Coding, dan Agen AI Jadi Satu
Listrik Jadi Rem Blong yang Paling Menentukan
Semua proyek di atas ujungnya bertanya hal yang sama: dari mana listriknya datang. Satu kampus pusat data bisa memakan daya setara sebuah kota kecil.
PLN mencatat penjualan listrik nasional mencapai 317,69 TWh pada 2025, tumbuh 3,75 persen dibanding 2024. Pertumbuhan di segmen bisnis sebagian didorong kebutuhan sektor pusat data. Dalam proyeksi yang mengacu pada RUPTL PLN 2025-2034, kebutuhan listrik untuk industri pusat data diperkirakan naik dari sekitar 1.098 MW pada 2025 menjadi 2.122 MW pada 2026, lalu melonjak ke sekitar 5.226 MW pada 2034.
Lonjakan hampir lima kali lipat dalam sembilan tahun itu menjelaskan kenapa kontrak pasokan listrik ditandatangani lebih dulu ketimbang gedungnya dibangun. Operator yang kebagian lokasi dengan pasokan listrik besar, stabil, dan harganya masuk akal akan punya keunggulan yang sulit dikejar pesaing.
Pemerintah sendiri ingin masalah ini dijawab dengan pembangkit gas dan energi terbarukan agar jalur listriknya tidak bertabrakan dengan target emisi. Pertanyaan lama seputar pasokan air untuk pendinginan dan pembebasan tanah di kawasan industri juga belum hilang. Ini bagian yang jarang masuk berita, padahal di sinilah proyek bisa molor bertahun-tahun.
Fiber Optik Ikut Kecipratan Rezeki
Pusat data tidak berguna kalau tidak tersambung. Kolaborasi AI, backup antarwilayah, dan layanan cloud menuntut koneksi berkapasitas besar antara fasilitas dalam negeri dengan jaringan global.
Contohnya terlihat di koridor Jakarta-Bekasi-Karawang. Indonet pada 2026 mengoperasikan jalur fiber optik bawah tanah baru sepanjang lebih dari 80 kilometer dengan kapasitas 2 x 576 core, menghubungkan Jakarta dengan kawasan industri dan pusat data di Bekasi serta Karawang.
Di ujung barat, pendaratan kabel bawah laut Nongsa-Changi memperkuat konektivitas Batam dengan Singapura. Pemerintah menyebut Batam punya posisi strategis sebagai gerbang digital, karena kombinasi kabel bawah laut, pasokan energi, dan jarak yang dekat dengan Singapura.
Baca juga: Platform Keamanan AI Nvidia Resmi Meluncur: OpenShell dan Sentry Cegah Agen AI Kebablasan
Skalanya Global, dan Taruhannya Sama
Indonesia bukan kasus unik. Microsoft dilaporkan berencana menambah kapasitas pusat data globalnya menjadi sekitar 38 GW pada 2032, lebih dari tiga kali lipat dibanding saat ini, terutama untuk kebutuhan cloud dan AI. Google juga mengumumkan investasi sekitar US$15 miliar untuk infrastruktur AI di Finlandia, termasuk pembangunan tiga pusat data dan pengadaan energi dari nuklir.
Polanya seragam. Raksasa teknologi kini bersaing soal siapa paling cepat menambah daya, tanah, gedung, pendingin, air, dan fiber. Perlombaan AI sudah berpindah jadi perlombaan infrastruktur.
Apa Artinya buat Pengguna Internet di Indonesia
Ada beberapa efek yang bisa dirasakan orang biasa dalam dua sampai tiga tahun ke depan.
Pertama, latensi layanan AI dan cloud bisa turun kalau beban kerja diproses di dalam negeri. Perintah ke chatbot atau fitur AI di aplikasi tidak perlu menyeberang ke Singapura atau Amerika dulu.
Kedua, tarif layanan cloud berpotensi lebih kompetitif karena pasokan kapasitas lokal bertambah dan persaingan operator menghangat.
Ketiga, data yang diproses di fasilitas dalam negeri lebih mudah diatur sesuai aturan perlindungan data pribadi dan sektor keuangan. Untuk bank dan layanan publik, ini nilai jual yang besar.
Keempat, kebutuhan teknisi jaringan, spesialis pendinginan, dan operator pusat data ikut naik. Pekerjaan teknis seperti ini tidak bisa dilakukan jarak jauh dari luar negeri.
Satu hal lain yang bakal jadi sorotan publik: konsumsi listrik dan airnya besar. Kalau pembangunan tidak dibarengi transparansi soal sumber energi dan pengelolaan air, kritik lingkungan akan datang cepat.
Baca juga: IBM Umumkan Chip Sub-1nm Pertama di Dunia: 100 Miliar Transistor dalam Satu Kuku
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah data center AI sama dengan cloud computing? Cloud computing adalah layanan yang dijual ke pengguna, sedangkan data center AI adalah bangunan dan infrastruktur fisik yang menjalankan komputasinya. Banyak layanan cloud berjalan di atas pusat data yang sama.
Kenapa GPU jadi rebutan? Model AI generatif butuh operasi matematika paralel dalam jumlah raksasa. GPU dan akselerator AI lebih efisien untuk pekerjaan itu dibanding prosesor biasa, sehingga permintaannya melonjak bersama kebutuhan daya listriknya.
Apakah semua proyek 1,3 GW itu pasti terwujud? Belum. Angka pipeline adalah rencana, bukan kapasitas terpasang. Eksekusinya bergantung pada pasokan listrik, pendanaan, dan izin, dan di situ jugalah risikonya.
Sumber
- Mistar.id, “AI Bikin Bisnis Data Center Meledak, Indonesia Bakal Jadi Ladang Emas Baru?”
- Digital Edge, “Digital Edge Tops Out CGK1, Secures 1.45 GW Power in Indonesia”
- Data Center Dynamics, “Firmus to deploy 170,000 GPU cluster in Batam, Indonesia”