Penipuan royalti musik AI akhirnya masuk ruang sidang pidana di Amerika Serikat. Michael Smith, pria 54 tahun asal North Carolina, dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena memakai ribuan akun bot untuk memutar lagu-lagu buatan kecerdasan artifisial miliknya di layanan streaming. Dari cara itu dia mengumpulkan US$8,09 juta. Kalau dirupiahkan, media Indonesia menyebut angka yang berbeda-beda, dari Rp126 miliar sampai Rp157 miliar, tergantung kurs yang dipakai saat menulis.
Vonisnya diumumkan Departemen Kehakiman AS (DoJ) pada awal Oktober 2026. Pria ini sudah didakwa sejak September 2024 atas tuduhan konspirasi penipuan kawat dan pencucian uang, lalu mengaku bersalah pada Maret 2026. Ancaman hukumannya semula sampai 5 tahun, tapi hakim memutuskan lebih ringan.
Menurut DoJ, Smith adalah orang Amerika pertama yang didakwa pidana atas penipuan streaming yang dibantu AI. Sebelumnya sengketa seperti ini biasanya berhenti di level penghapusan lagu atau pemutusan kontrak distribusi.
Kronologi: dari 2017 sampai ditangkap 2024
Smith menjalankan aksinya sejak 2017. Dia membuat ribuan akun palsu di Amazon Music, Apple Music, Spotify, dan YouTube Music. Akun-akun itu didaftarkan pakai alamat email palsu dan kartu debit curian, jadi platform tidak punya jejak identitas asli untuk ditelusuri.
Untuk memutar lagunya, dia memakai software khusus yang bisa mengoperasikan sampai 10.000 akun bot sekaligus. Setiap pemutaran dari akun-akun itu masuk hitungan royalti. Karena jumlah akunnya besar dan tersebar, tidak ada pola mencurigakan yang gampang ditangkap sistem pengawasan.
Saat ditangkap pada 2024, Smith sudah menghasilkan ratusan ribu lagu AI. Dalam salah satu emailnya, dia menulis butuh “banyak sekali lagu dengan cepat” supaya bisa mengakali kebijakan antipenipuan platform streaming. Kalimat itu jadi salah satu bukti yang memberatkan dia di persidangan.
Cara penipuan royalti musik AI ini menghindari deteksi
Trik utamanya bukan menaikkan satu lagu sampai viral, melainkan menyebar miliaran pemutaran ke ribuan judul sekaligus. Dengan begitu, tidak ada satu lagu yang tiba-tiba melonjak dan memancing kecurigaan.
Masuk akal dari sisi pelaku. Platform streaming biasanya menandai anomali lewat pola naik turun pemutaran yang tidak wajar pada satu trek. Kalau seribu lagu masing-masing naik sedikit, grafiknya terlihat seperti pertumbuhan organik biasa. Ditambah lagi, akun bot-nya didaftarkan lewat paket langganan keluarga, yang secara desain memang mengizinkan beberapa pengguna dalam satu pembayaran.
Itu sebabnya kasusnya sulit dibongkar bertahun-tahun. Butuh pembukuan lintas platform dan penelusuran pembayaran untuk melihat hubungan antara akun, lagu, dan uang royalti yang mengalir ke satu orang.
April 2023: lagu AI Smith kalahkan Taylor Swift di YouTube Music
Angka paling sering dikutip dari kasus ini datang dari perbandingan yang dipakai DoJ sendiri. Pada April 2023, akun bot milik Smith memutar lagu AI-nya 80,9 juta kali di YouTube Music. Di bulan dan aplikasi yang sama, seluruh katalog Taylor Swift hanya diputar 9,3 juta kali.
Angka itu datang dari akun langganan keluarga, bukan dari total global platform. Tapi tetap saja perbandingannya jomplang, dan itu yang bikin kasus ini cepat menyebar ke media internasional. Bagi pendengar biasa, 80,9 juta pemutaran terlihat seperti pencapaian besar. Kenyataannya, itu hasil otomatisasi ribuan akun.
Baca juga: Spotify Chatbot AI: Langkah Baru Spotify Bikin Pencarian Musik Lebih Natural
Vonis 18 bulan dan uang Rp126 miliar yang harus dikembalikan
Selain hukuman badan, Smith diwajibkan mengembalikan US$8,09 juta hasil kejahatannya. Angka rupiahnya beda-beda di media Indonesia karena kurs yang dipakai tidak sama. Detikinet menyebut sekitar Rp126 miliar, Harianjogja menulis Rp145 miliar, dan salah satu laporan menyebut Rp157 miliar. Yang pasti, nilai aslinya dalam dollar US$8,09 juta.
Hukuman 18 bulan untuk kerugian setara puluhan miliar rupiah memang terasa ringan. Tapi ada alasan praktis kenapa kasus penipuan royalti musik AI seperti ini tidak mudah dibawa ke pengadilan dengan tuntutan berat. Pembuktiannya butuh data lintas platform, analisis pola pemutaran, sampai penelusuran aliran uang. Belum lagi, sampai beberapa tahun lalu, aturan soal lagu AI dan bot streaming belum sejelas sekarang.
Yang berubah: jalur pidananya sudah pernah ditempuh, dan berhasil. Untuk pelaku lain, itu preseden yang tidak nyaman.
Baca juga: Suno Data Breach 55 Juta User: Generator Musik AI Bocor, Apa yang Harus Kamu Lakukan
Kenapa musisi asli yang paling dirugikan
Kerugiannya bukan cuma ditanggung platform. Pemerintah AS menyebut royalti streaming diambil dari dana bersama yang diisi oleh seluruh pendapatan langganan. Artinya, setiap pemutaran palsu mengambil porsi dari kue yang sama, dan porsi itu harus dibagi dengan lebih banyak pihak.
Efeknya berlipat. Kalau 80,9 juta pemutaran palsu mendesak masuk ke perhitungan royalti, lagu asli yang diputar oleh pendengar sungguhan mendapat bagian lebih kecil per stream. Ini yang membuat penipuan royalti musik AI bukan sekadar kecurangan teknis, tapi masalah distribusi pendapatan di industri musik.
Ada masalah lain juga. Lagu AI jauh lebih murah diproduksi daripada karya manusia. Dalam jumlah ratusan ribu judul, biaya produksinya bisa ditekan hampir nol. Jadi skalanya berbeda dari penipuan streaming konvensional yang biasanya hanya menyasar beberapa lagu populer.
Pelajaran untuk platform dan pendengar
Untuk platform, kasus ini menegaskan kalau verifikasi akun, deteksi pola pemutaran, dan pengawasan distribusi royalti harus dilihat sebagai satu paket. Mengurus distribusi tanpa mengurus penyalahgunaan akun akan selalu bocor.
Untuk pendengar, tidak banyak yang bisa dilakukan langsung. Tapi ada satu hal yang berguna: curigai katalog yang jumlahnya luar biasa banyak dengan nama artis mirip-mirip, judul generik, dan sampul yang terasa dibuat cepat. Katalog seperti itu belum tentu penipuan, tapi sering muncul di kasus serupa.
Untuk musisi yang lagunya ikut terdistribusi lewat agregator, ada baiknya mengecek laporan royalti secara berkala. Lonjakan pemutaran di negara yang tidak punya dasar penggemar sama sekali adalah tanda yang layak ditanyakan ke distributor.
Yang perlu dicatat soal iklan, bot, dan lagu AI
Kasus Smith menunjukkan batas antara otomatisasi sah dan penipuan. Memakai AI untuk membuat ratusan ribu lagu itu sendiri belum tentu ilegal di banyak yurisdiksi. Yang membuatnya jadi pidana adalah kombinasi akun palsu, kartu curian, software pemutar otomatis, dan pengambilan royalti berdasarkan pemutaran yang tidak berasal dari pendengar sungguhan.
Itu sebabnya hukuman pidananya menyasar penipuan kawat dan pencucian uang, bukan status lagu AI-nya. Pembedaan ini penting, terutama saat industri musik masih berdebat soal aturan lagu AI dan hak cipta.
Bagi Indonesia, kasus ini relevan karena distribusi musik global sekarang terbuka. Musisi lokal bisa mengunggah lagu ke seluruh platform dunia lewat agregator, dan celah yang sama bisa disalahgunakan siapa pun. Tanpa pengawasan dari platform dan distributor, penipuan royalti musik AI bisa terjadi di mana saja.
Pertanyaan yang sering muncul
Siapa Michael Smith? Pria 54 tahun asal North Carolina, Amerika Serikat. Dia mengaku bersalah atas penipuan kawat dan pencucian uang, lalu dijatuhi hukuman 18 bulan penjara pada Oktober 2026.
Berapa jumlah yang dia raup? Pemerintah AS menyebut US$8,09 juta. Uang itu wajib dikembalikan sebagai bagian dari vonisnya.
Platform apa saja yang dipakai? Amazon Music, Apple Music, Spotify, dan YouTube Music. Akun-akun palsunya bermain sejak 2017 sampai penangkapan pada 2024.
Kenapa lagunya bisa mengalahkan Taylor Swift? Bukan karena banyak didengar orang. Pada April 2023, ribuan akun bot memutar lagu AI miliknya 80,9 juta kali di YouTube Music, sementara katalog Taylor Swift di periode dan aplikasi yang sama hanya 9,3 juta kali.
Apa artinya buat musisi Indonesia? Distribusi global sekarang terbuka lewat agregator, jadi pengawasan royalti dan pelaporan pemutaran yang aneh tetap perlu. Kalau ada lonjakan tak wajar di negara tanpa basis penggemar, tanyakan ke distributor.
Sumber
Kompas Tekno — Lagu Buatan AI Kalahkan Taylor Swift di YouTube Music
detikInet — Modal Bot dan AI, Pria Ini Raup Ratusan Miliar dari Spotify Lalu Dipenjara
Harianjogja Oto-Tekno — Lagu AI Diputar 80,9 Juta Kali, Pria AS Dipenjara karena Tipu Royalti Musik
Music Business Worldwide — Man behind $8M AI song and bot streaming fraud is sentenced to 18 months in prison