Isu data center AI Indonesia mendadak jadi perdebatan panas di meja pemerintah daerah. Perdebatannya bukan soal teknologi. Yang dibahas listrik dan air. Dalam sebulan terakhir, satu proyek pusat data di Jatiluhur, Purwakarta, dihentikan sementara karena izinnya belum lengkap. Di saat yang sama, PLN mengungkap proyeksi bahwa kebutuhan listrik untuk pusat data bakal naik hampir lima kali lipat dalam sepuluh tahun.
Dua peristiwa itu saling nyambung. Indonesia sedang dikejar gelombang investasi kecerdasan buatan, sementara infrastruktur energi dan sumber daya airnya belum tentu siap menampung.
Kenapa Data Center AI Indonesia Jadi Sorotan Sekarang
Pusat data biasa dan pusat data AI beda jauh soal konsumsi daya. Ini akar kenapa data center AI Indonesia jadi perhatian. Fasilitas konvensional rata-rata menarik 5 sampai 15 kilowatt per rak server. Fasilitas yang dirancang khusus untuk AI butuh minimal 40 kW per rak, dan sering melewati 100 kW. Beberapa desain generasi terbaru bahkan menyiapkan rak sampai 500 kW untuk akselerator AI terbaru.
Satu gedung pusat data AI bisa menyedot listrik sebanyak kawasan industri kecil. Itu sebabnya topik ini berhenti jadi urusan teknis dan mulai masuk ke ranah izin, lingkungan, dan politik daerah.
Listrik: dari 1.098 MW ke 5.226 MW dalam Satu Dekade
Angka paling konkret datang dari PLN. Mengacu pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kebutuhan listrik untuk industri pusat data diperkirakan naik dari sekitar 1.098 megawatt pada 2025 menjadi sekitar 2.122 MW pada 2026. Proyeksinya terus naik sampai sekitar 5.226 MW pada 2034, atau hampir lima kali lipat dalam satu dekade.
“Guna mengantisipasi lonjakan konsumsi daya data center dalam beberapa tahun ke depan, Pemerintah bersama PLN telah menyiapkan langkah ekspansi melalui RUPTL 2025–2034 dan inisiatif energi terbarukan,” kata Executive Vice President Komunikasi Korporat & TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, dalam keterangan persnya awal September 2026.
Dalam RUPTL itu PLN menargetkan tambahan kapasitas pembangkit 69,5 gigawatt, dengan 76 persen berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi. PLN juga merencanakan jaringan transmisi sepanjang 47.758 kilometer sirkuit sampai 2034 untuk menghubungkan sumber listrik dengan pusat kebutuhan. Pemerintah menambah Program PLTS 100 GWp yang diluncurkan 25 Agustus 2026.
Soal listriknya tidak berhenti di pembangkit. Yang lebih berat justru mengirim dayanya. Mayoritas pusat data sekarang menumpuk di Cikarang, Karawang, dan Jabodetabek, semuanya bergantung pada sistem kelistrikan Jawa-Bali. Menambah beban ratusan megawatt di titik yang sama butuh transmisi baru, bukan sekadar pembangkit baru.
Baca juga: Marvell Investor Day 2026: Target Pendapatan Fiskal 2028 Naik ke US$20 Miliar
Kasus Jatiluhur: 640 MW yang Ditahan Sebelum Beroperasi
Contoh paling telanjang ada di Kabupaten Purwakarta. Proyek pusat data milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur mulai dibangun 22 September 2026, di atas lahan 8.000 meter persegi dengan pengembangan total 11 hektare. Jaraknya sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur.
Rencananya kapasitas fasilitas itu mencapai 640 MW. Gedung pertama disiapkan bertahap dengan kapasitas 120 MW dan dijadwalkan mulai beroperasi awal 2027. Fasilitas ini memakai pendingin cair langsung ke chip (direct-to-chip liquid cooling), dirancang untuk beban 500 kW per rak. Ekspansinya didukung fasilitas pinjaman US$320 juta pada 2026, dan disebut bisa membuka 2.000 sampai 3.000 lapangan kerja secara bertahap.
Seremonialnya dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bersama CEO BDx Data Centers Mayank Srivastava dan CEO BDx Indonesia Agus Hartono Wijaya. Tapi tak lama setelah itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menghentikan sementara proyek tersebut. Alasannya, syarat pembangunan belum lengkap, terutama Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
“Betul, sampai dengan perizinan dikeluarkan Pemkab Purwakarta. Ada beberapa persyaratan izin yang masih dalam proses,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, kepada CNBC Indonesia, 30 September 2026.
Air 384 Liter per Detik dan Kekhawatiran Warga
Yang bikin warga sekitar gerah bukan cuma listriknya, tapi airnya. Data teknis menunjukkan fasilitas itu diproyeksikan menyerap hingga 384 liter air per detik saat beroperasi penuh, setara sekitar 33.000 meter kubik per hari. Angka itu memunculkan kekhawatiran soal kelangkaan air dan polusi suara di kalangan petani setempat.
Kementerian Lingkungan Hidup kemudian angkat bicara. Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Air KLH, Tulus Laksono, menjelaskan air sebanyak itu dipakai untuk sistem pendingin mesin, bukan diserap habis.
“Data center itu sebenarnya hanya untuk pendingin. Tidak digunakan untuk apa-apa. Habis itu dari pendingin, dari proses di data center, didinginkan, dibalikin lagi ke sungai-sungai,” kata Tulus, seperti dikutip Bisnis.com, 30 September 2026.
Meski begitu, ia menegaskan air bekas pendingin tetap harus melewati tahap pengolahan dan penyaringan sebelum kembali ke badan air. Klaim “airnya cuma dipinjam” baru sah kalau pengolahan dan pengawasannya benar-benar jalan.
Pemkab Purwakarta sendiri sudah menggelar pertemuan pada 5 Oktober 2026 di Aula Janaka Sekretariat Daerah, dipimpin Bupati Saepul Bahri Binzein. Hadir akademisi dari Universitas Indonesia dan peneliti BRIN. Agenda utamanya: dokumen AMDAL, PBG, dan penggunaan air untuk sistem pendingin.
Baca juga: Project Suncatcher Google: Chip AI TPU Dikirim ke Orbit Buat Uji Data Center Luar Angkasa
Konteks Global: 415 TWh Menjadi 945 TWh
Persoalan data center AI Indonesia tidak berdiri sendiri. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat pusat data mengonsumsi sekitar 415 terawatt-jam listrik pada 2024, atau kira-kira 1,5 persen konsumsi listrik dunia. Amerika Serikat menyumbang 45 persen, disusul China 25 persen dan Eropa 15 persen.
IEA memproyeksikan konsumsi itu lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, sedikit lebih besar dari total konsumsi listrik Jepang hari ini. Pendorong utamanya adalah AI, ditambah permintaan layanan digital lain yang terus tumbuh.
Kalau tren globalnya seperti itu, wajar kalau daerah yang jadi lokasi pembangunan pusat data mulai bertanya soal bagi hasil, daya dukung lingkungan, dan siapa yang menanggung beban infrastrukturnya.
Apa Artinya buat Kita
Ada tiga hal yang layak dicermati dari kasus ini.
Pertama, izin jadi titik lemah. Proyek bernilai ratusan juta dolar bisa berhenti hanya karena AMDAL dan PBG belum kelar. Bagi investor, ini pengingat bahwa kecepatan membangun gedung tidak secepat kecepatan mengurus dokumen.
Kedua, listrik bukan sekadar soal jumlah. Tambahan 69,5 GW pembangkit dan 47.758 km transmisi adalah angka besar, tapi lokasinya harus tepat. Pusat data butuh pasokan stabil 24 jam, dan itu tidak selalu tersedia di daerah yang airnya melimpah.
Ketiga, air adalah isu yang paling sensitif. Berbeda dari listrik yang bisa dibeli dari grid nasional, air diambil dari daerah sekitar. Begitu jumlahnya terasa bagi petani, negosiasi pindah ke ranah sosial, bukan teknis.
Bagusnya, arah kebijakannya sudah terlihat: RUPTL berpihak ke energi terbarukan, PLTS 100 GWp jalan, dan pemda mulai memaksa AMDAL dibahas terbuka. Yang belum jelas, apakah semua itu cukup cepat dibanding laju permintaan AI.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kenapa pusat data AI butuh listrik jauh lebih besar? Karena chip akselerator AI bekerja lebih rapat dan lebih panas. Rapat daya per rak naik dari belasan kW menjadi ratusan kW, dan hampir semua energi itu berakhir sebagai panas yang harus dibuang.
Apakah airnya hilang terpakai? Menurut KLH, air hanya melewati sistem pendingin lalu dikembalikan ke sungai. Tapi air itu wajib diolah dulu, dan pengawasan di lapangan tetap jadi penentu.
Apakah proyek Jatiluhur batal? Tidak. Statusnya dihentikan sementara sampai perizinan dari Pemkab Purwakarta keluar. Jadwal operasional Gedung 1 tetap ditargetkan awal 2027 bila izin rampung.
Apakah Indonesia kekurangan listrik? Secara cadangan daya, PLN menyatakan siap. Yang jadi tantangan adalah kecepatan pembangunan transmisi dan penyebaran lokasi pusat data.
Sumber
RRI —
proyeksi kebutuhan listrik pusat data dari RUPTL PLN 2025–2034 dan pernyataan PLN.
CNBC Indonesia —
detail proyek CGK4 BDx di Jatiluhur dan penghentian sementara oleh Pemprov Jawa Barat.
Bisnis.com —
penjelasan KLH soal pemakaian 384 liter air per detik untuk pendingin.
Portal Jabar —
pertemuan Pemkab Purwakarta dengan UI dan BRIN soal AMDAL, PBG, dan air.
IEA, Energy and AI —
konsumsi listrik pusat data dunia 415 TWh (2024) dan proyeksi 945 TWh (2030).