<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Preset</title>
	<atom:link href="https://preset.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://preset.id</link>
	<description>Insight cepat, tajam, dan relevan seputar teknologi, entertainment, dan lifestyle.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 20 Oct 2026 08:34:35 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://preset.id/wp-content/uploads/2026/02/preset-favicon-512-150x150.png</url>
	<title>Preset</title>
	<link>https://preset.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>ASUS ProArt P16 dan P14 Resmi Masuk Indonesia, Laptop Kreator RTX Spark Mulai Rp79,99 Juta</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/20/asus-proart-p16-p14-resmi-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2026 08:34:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI Hardware]]></category>
		<category><![CDATA[AI on-device]]></category>
		<category><![CDATA[ASUS]]></category>
		<category><![CDATA[Laptop]]></category>
		<category><![CDATA[Nvidia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/20/asus-proart-p16-p14-resmi-indonesia/</guid>

					<description><![CDATA[ASUS ProArt P14 dan P16 resmi dijual di Indonesia mulai Rp79.999.000. Bawa superchip NVIDIA RTX Spark N1X, layar OLED 4K 120Hz, dan memori sampai 128 GB.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>ASUS ProArt P16</strong> dan adiknya, ProArt P14, resmi dijual di Indonesia. Dua laptop kreator ini sudah bisa dipesan sejak 8 Oktober 2026 dengan harga mulai Rp79.999.000, dan yang bikin beda: keduanya jadi laptop Windows pertama di sini yang pakai superchip NVIDIA RTX Spark N1X.</p>
<p>ASUS mengumumkan ketersediaan global ProArt P14 (H7407BA) dan ProArt P16 (H7607BA) mulai 17 Oktober 2026. Indonesia kebagian lebih cepat lewat jalur pre-order yang dibuka 8–23 Oktober, jadi kalau kamu memang nunggu laptop ini, waktunya mepet.</p>
<p>Yang menarik bukan cuma harganya yang bikin dompet mikir dua kali. RTX Spark itu pendekatan baru NVIDIA: GPU dan CPU digabung dalam satu paket dengan memori terpadu, mirip cara kerja chip seri M punya Apple. Artinya, kerjaan AI bisa jalan di laptop sendiri tanpa harus nyewa GPU cloud.</p>
<h2>Harga ASUS ProArt P14 dan P16 di Indonesia</h2>
<p>Ada dua model yang ditawarkan, dan selisih harganya cukup jauh:</p>
<ul>
<li><strong>ASUS ProArt P14 (H7407BA)</strong> — Rp79.999.000</li>
<li><strong>ASUS ProArt P16 (H7607BA)</strong> — Rp112.999.000</li>
</ul>
<p>Selisih Rp33 juta itu bukan tanpa alasan. P16 punya layar lebih besar, memori lebih lega, dan bodi yang justru lebih tipis dari versi 14 inci. Buat yang kerjaannya rendering video 4K atau bikin aset 3D berat, tambahan itu masuk akal. Buat yang lebih sering mobile dan kerja di kafe, P14 sudah lebih dari cukup.</p>
<p>Pre-order berlangsung sampai 23 Oktober 2026 lewat ASUS Online Store, ASUS Exclusive Store, dan ASUS Store terpilih. Khusus pemesanan via ASUS Online Store, ada bonus ASUS ProArt Mouse MD301 senilai Rp1.699.000.</p>
<h2>Spesifikasi ASUS ProArt P16: OLED 4K Sentuh dan Memori 128 GB</h2>
<p>ProArt P16 dibekali layar 16 inci UHD+ (3840 x 2400) Lumina Pro OLED, rasio 16:10, refresh rate 120Hz dengan variable refresh rate, response time 0,2ms, dan kecerahan puncak 1.600 nits untuk HDR. Layarnya touch, mendukung stylus, dan sudah PANTONE Validated dengan cakupan 100% DCI-P3. Untuk kerja warna, ini level yang biasanya cuma ada di laptop 30 jutaan ke atas.</p>
<p>Bobotnya 1,77 kg dengan ketebalan 12,9 mm. ASUS menyebutnya ProArt 16 inci tertipis yang pernah mereka bikin. Bodinya tersedia dalam dua warna, Nano Black dan Neo White.</p>
<p>Urusan memori, P16 bisa dipasangi unified memory sampai 128 GB. Menurut ASUS, kapasitas itu cukup buat menjalankan model bahasa besar sampai 120 miliar parameter dengan jendela konteks 1 juta token, langsung di perangkat. Penyimpanan pakai SSD M.2 NVMe PCIe 4.0 sampai 2 TB, dan masih ada dua slot M.2 2280 PCIe 5.0 kalau kamu mau upgrade sendiri.</p>
<p>Portnya juga lengkap: tiga USB4 Type-C dengan kecepatan 40Gbps, satu USB-A 3.2 Gen 2, HDMI 2.1, card reader SD Express 7.0, dan jack audio 3,5mm. Buat editor yang tiap hari colok SSD eksternal dan monitor, kombinasi ini praktis bikin docking station jadi opsional.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/15/microsoft-maia-300-resmi-meluncur-chip-ai-288-gb-hbm4-dan-klaim-7-kali-lipat-per-rack/">Microsoft Maia 300 Resmi Meluncur: Chip AI 288 GB HBM4 dan Klaim 7 Kali Lipat per Rack</a></p>
<h2>Apa Itu NVIDIA RTX Spark N1X?</h2>
<p>RTX Spark N1X adalah superchip yang menggabungkan GPU NVIDIA Blackwell RTX dengan 6.144 CUDA core dan CPU Grace 20 core dalam satu paket. ASUS mengklaim performa AI FP4-nya mencapai 1 petaflop. Angka itu terdengar abstrak, jadi begini terjemahannya: pekerjaan inferensi AI yang biasanya butuh server, sebagian bisa dipindah ke meja kerja.</p>
<p>NVIDIA memposisikan RTX Spark sebagai platform PC Windows yang dirancang untuk agen AI pribadi. Maksudnya, laptop ini bukan sekadar kuat buat aplikasi berat, tapi disiapkan buat menjalankan asisten AI lokal yang baca dokumen, susun jadwal, atau bantu proses kreatif tanpa kirim data ke server orang lain.</p>
<p>ASUS menambahkan beberapa aplikasi bawaan buat mendukung itu: StoryCube buat mengelola aset foto dan video, MuseTree buat brainstorming ide, dan ProArt Creator Hub buat memantau performa serta pengaturan warna.</p>
<h2>Kenapa AI Lokal Penting buat Kreator Indonesia</h2>
<p>Selama dua tahun terakhir, hampir semua tool AI kreatif jalan di cloud. Kamu upload materi, tunggu antrean, lalu bayar per generate. Model bisnisnya nyaman, tapi ada tiga masalah yang makin sering muncul: biaya langganan menumpuk, koneksi internet jadi penentu, dan kerahasiaan materi klien dipertaruhkan.</p>
<p>Laptop dengan memori 64 GB sampai 128 GB mengubah hitungan itu. Model gambar, model bahasa, atau tool transkrip bisa jalan offline. Buat studio kecil yang pegang proyek klien dengan NDA, ini alasan utamanya. Materi syuting dan aset brand tetap di dalam laptop, bukan singgah di server yang lokasinya bahkan gak jelas.</p>
<p>Soal biaya, memang perlu jujur: Rp80 juta sampai Rp113 juta bukan angka kecil. Tapi kalau dibandingkan langganan tool AI dan sewa GPU cloud selama tiga tahun, angkanya bisa ketemu. Kuncinya cuma satu, kamu memang produktif memakai AI setiap hari. Kalau cuma sesekali bikin caption, laptop ini jelas berlebihan.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/09/22/iphone-duo-vs-galaxy-z-fold8-beda-spesifikasi-harga-dan-mana-yang-masuk-akal-di-indonesia/">iPhone Duo vs Galaxy Z Fold8: Beda Spesifikasi, Harga, dan Mana yang Masuk Akal di Indonesia</a></p>
<h2>P14 atau P16? Ini Bedanya</h2>
<p>Secara otak, ASUS ProArt P16 dan P14 sama: RTX Spark N1X, 6.144 CUDA core, CPU Grace 20 core, dan performa AI FP4 sampai 1 petaflop. Yang beda ada di ukuran dan kapasitas.</p>
<ul>
<li><strong>ProArt P14:</strong> layar 14 inci OLED touch 120Hz, bodi 13,9 mm, bobot 1,48 kg, memori terpadu sampai 64 GB, harga Rp79.999.000.</li>
<li><strong>ProArt P16:</strong> layar 16 inci OLED touch 4K 120Hz, bodi 12,9 mm, bobot 1,77 kg, memori terpadu sampai 128 GB, harga Rp112.999.000.</li>
</ul>
<p>Kalau prioritasmu mobilitas dan kerja di luar ruangan, P14 lebih masuk akal. Bobot 1,48 kg masih nyaman dibawa naik kereta atau masuk tas kamera. Kalau kerjaanmu menuntut timeline video 4K berlapis, komposisi After Effects, atau model AI yang besar, memori 128 GB di P16 bakal terasa bedanya. Aku sendiri lebih milih P16 kalau dipakai buat produksi harian, karena layar 16 inci bikin kerja multitrack jauh lebih waras.</p>
<h2>Promo Pre-order dan Jadwal Coba Langsung</h2>
<p>Selain bonus mouse, ASUS juga buka sesi coba langsung di booth ProArt, Atrium Mall Pondok Indah 2, Jakarta, pada 20–25 Oktober 2026. Pengunjung bisa pegang sendiri kedua laptop ini bareng perangkat lain di ekosistem ProArt.</p>
<p>Buat yang masih ragu, mampir dulu lebih aman. Laptop Rp100 juta lebih sebaiknya dicoba sebelum dibeli, terutama buat merasakan layar OLED-nya dan mengecek apakah bobotnya masih nyaman dipakai di pangkuan selama rapat panjang.</p>
<h2>Buat Siapa Laptop Ini Sebenarnya?</h2>
<p>ProArt P14 dan P16 bukan laptop buat semua orang. Ini alat kerja buat editor video, desainer 3D, ilustrator, fotografer komersial, dan developer AI yang butuh menjalankan model di perangkat sendiri. Buat kebutuhan kantoran biasa, laptop 15 juta sudah lebih dari cukup.</p>
<p>Yang bikin aku penasaran justru efek jangka panjangnya. Kalau RTX Spark diterima pasar, laptop Windows bakal makin sering dibandingkan dengan MacBook Pro. Yang diperbandingkan pun bergeser: dari layar dan bodi ke seberapa besar model AI yang bisa jalan offline. Dan itu pertarungan yang jauh lebih menarik daripada adu benchmark CPU.</p>
<p>Pre-order ditutup 23 Oktober 2026. Setelah itu, harga dan ketersediaan bakal ikut aturan pasar. Kalau kamu memang butuh sekarang, bonus mouse dan sesi coba langsung jadi alasan masuk akal buat bergerak cepat.</p>
<h2>Sumber</h2>
<ul>
<li><a href="https://id.mashable.com/tech/35643/asus-proart-p14-dan-p16-dibanderol-mulai-rp7999-juta-bawa-nvidia-rtx-spark" target="_blank" rel="noopener">Mashable Indonesia — ASUS ProArt P14 dan P16 Dibanderol Mulai Rp79,99 Juta, Bawa NVIDIA RTX Spark</a></li>
<li><a href="https://www.asus.com/id/laptops/for-creators/proart/proart-p14-h7407/" target="_blank" rel="noopener">ASUS Indonesia — ProArt P14 (H7407)</a></li>
<li><a href="https://www.asus.com/id/laptops/for-creators/proart/proart-p16-h7607/" target="_blank" rel="noopener">ASUS Indonesia — ProArt P16 (H7607)</a></li>
<li><a href="https://www.asus.com/bt/laptops/for-creators/proart/proart-p16-h7607/techspec/" target="_blank" rel="noopener">ASUS — ProArt P16 (H7607) Tech Specs</a></li>
</ul>
<p><em>Sumber gambar: ASUS via Mashable Indonesia.</em></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Perpres AI Indonesia Segera Terbit: Isi Aturan Etika AI dan Peta Jalan AI Nasional</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/20/perpres-ai-indonesia-segera-terbit-isi-aturan-etika-ai-dan-peta-jalan-ai-nasional/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2026 02:08:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Deepfake]]></category>
		<category><![CDATA[Etika AI]]></category>
		<category><![CDATA[Kebijakan AI]]></category>
		<category><![CDATA[Komdigi]]></category>
		<category><![CDATA[Label Konten AI]]></category>
		<category><![CDATA[Meutya Hafid]]></category>
		<category><![CDATA[Perpres AI]]></category>
		<category><![CDATA[Peta Jalan AI]]></category>
		<category><![CDATA[Regulasi AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/20/perpres-ai-indonesia-segera-terbit-isi-aturan-etika-ai-dan-peta-jalan-ai-nasional/</guid>

					<description><![CDATA[Dua Perpres AI Indonesia, aturan etika AI dan peta jalan AI nasional, sebentar lagi terbit. Draf final sudah di Setneg. Ini isi dan dampaknya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pemerintah memastikan bakal segera menerbitkan dua aturan besar soal kecerdasan artifisial. Namanya <strong>Perpres AI Indonesia</strong>, dan isinya bukan cuma soal etika, tapi juga peta jalan pengembangan AI nasional sampai beberapa tahun ke depan. Draf finalnya kabarnya sudah disetor ke Sekretariat Negara dan tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Bagi kamu yang ngikutin perkembangan AI di Indonesia, ini momen yang lumayan ditunggu, karena selama ini kita jalan tanpa payung hukum yang jelas.</p>
<p>Menkomdigi Meutya Hafid sendiri yang memastikan hal ini. Katanya, dua perpres tersebut sudah selesai dibahas lintas kementerian dan lembaga, sempat direvisi setelah menerima masukan dari pelaku industri global, lalu dikirim ulang ke Setneg. &#8220;Kami berharap dalam waktu dekat segera ditandatangani. Tahun 2026, kedua perpres sudah ditetapkan,&#8221; ujarnya seperti dikutip Kompas.</p>
<h2>Apa Itu Perpres AI Indonesia dan Kenapa Baru Sekarang?</h2>
<p>Indonesia sebenarnya sudah lama punya wacana soal regulasi AI, tapi eksekusinya selalu molor. Baru tahun ini urusannya masuk ke daftar prioritas. Dua rancangan perpres itu tercantum dalam 46 rancangan peraturan presiden yang ditargetkan rampung tahun ini.</p>
<p>Sebelum perpres ini jadi, aturan soal AI di Indonesia sifatnya masih sepotong-sepotong. Ada Surat Keputusan Bersama tujuh menteri soal AI di dunia pendidikan, ada juga Peraturan Pemerintah soal tunas. Tapi belum ada satu aturan payung yang mengatur bagaimana AI boleh dan tidak boleh dipakai secara nasional. Nah, dua perpres inilah yang nanti jadi pegangan utama.</p>
<p>Menariknya, dalam pembahasan terakhir, beberapa perusahaan asing, termasuk dari Amerika Serikat, meminta drafnya dibahas ulang. Pemerintah menuruti permintaan itu dan mencari titik tengah antara mendorong inovasi dan mengatur risiko. Hasilnya, keluar draf baru yang disebut sudah final.</p>
<h2>Dua Perpres, Dua Misi yang Beda</h2>
<p>Jangan salah, kedua perpres ini punya tugas berbeda. Perpres pertama soal Etika AI, yang kedua soal Peta Jalan AI. Keduanya saling melengkapi, bukan menggantikan.</p>
<p>Perpres Etika AI mengatur hal-hal yang bersifat fundamental. Mulai dari infrastruktur, pengembangan talenta digital, sampai cara mengelompokkan produk AI berdasarkan level risikonya. Sementara Perpres Peta Jalan AI isinya lebih ke arah strategi jangka panjang: sektor apa saja yang bakal diprioritaskan buat pengembangan AI nasional. Dua-duanya bagian dari paket Perpres AI Indonesia yang sama.</p>
<h2>Isi Perpres Etika AI: Tiga Level Risiko</h2>
<p>Pada draft Perpres AI Indonesia bagian Etika AI, ada enam muatan pokok yang diatur. Pertama, nilai-nilai etika yang jadi acuan. Kedua, soal kemanfaatan AI buat masyarakat. Ketiga, cara mengidentifikasi dan memitigasi risiko. Keempat, soal pengamanan alias safeguard. Kelima, peran dan tanggung jawab tiap pihak. Keenam, soal pemantauan dan evaluasi.</p>
<p>Yang paling praktis buat pelaku industri adalah pengelompokan produk AI ke tiga kategori risiko:</p>
<ul>
<li><strong>Dilarang</strong> — produk AI yang penggunaannya tidak boleh sama sekali karena risikonya terlalu besar.</li>
<li><strong>Wajib diawasi ketat</strong> — AI yang boleh dipakai, tapi harus melewati pengawasan khusus, terutama yang menyangkut data pribadi atau keputusan penting.</li>
<li><strong>Risiko rendah</strong> — AI yang relatif aman dan bisa dipakai lebih bebas.</li>
</ul>
<p>Sebelumnya, Menkomdigi sempat menyebut pengaturan risiko ini bakal dibagi jadi tiga kategori, yaitu dilarang, wajib diawasi secara khusus, dan tidak wajib diawasi. Tiga unsur yang jadi sasaran aturan ini adalah pengguna, pelaku industri, dan kementerian sebagai regulator.</p>
<p>Perlu dicatat, Wamen Komdigi Nezar Patria sempat menegaskan bahwa tidak ada pengaturan soal sanksi bagi pelanggar pengembangan AI di dalam draft Perpres Etika AI. Jadi perpres ini lebih menekankan pada pedoman dan tata kelola, bukan hukuman.</p>
<h2>Perpres Peta Jalan AI: 10 Sektor Prioritas</h2>
<p>Kalau Perpres Etika AI fokusnya ke tata kelola, Perpres Peta Jalan AI justru soal arah pembangunan. Ada sepuluh sektor prioritas yang bakal jadi fokus pengembangan AI nasional, antara lain kesehatan, pendidikan, dan reformasi birokrasi. Beberapa laporan juga menyebut sektor seperti ketahanan pangan, transportasi, logistik, ekonomi kreatif, hingga keuangan.</p>
<p>Isinya juga mencakup delapan program quick wins, seperti dukungan buat program Makan Bergizi Gratis, layanan cek kesehatan, pemetaan wilayah, sampai penguatan koperasi. Supaya jalan, bakal dibentuk gugus tugas khusus yang mengawal implementasinya.</p>
<p>Nezar Patria cerita, penyusunan peta jalan ini melibatkan lebih dari 400 lembaga, komunitas, kementerian, dan pelaku industri. Jadi bukan cuma disusun di meja birokrat, tapi memang menyerap aspirasi dari banyak pihak.</p>
<figure class="wp-block-image size-large"><img decoding="async" src="https://preset.id/wp-content/uploads/2026/10/nezar.jpg" alt="Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria membahas aturan pelabelan konten AI" /><figcaption>Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria. Foto: CNBC Indonesia</figcaption></figure>
<h2>Label Konten AI: Aturan Baru yang Menyusul</h2>
<p>Di luar Perpres AI Indonesia, Komdigi juga sedang menggodok aturan menteri soal pelabelan konten AI. Aturan ini muncul karena video, gambar, dan suara buatan AI makin sulit dibedakan dari yang asli. Deepfake jadi salah satu kekhawatiran utama.</p>
<p>Wamen Nezar mengungkap kasus penipuan lewat pertemuan virtual di Hong Kong beberapa tahun lalu. Seorang staf keuangan sampai 15 kali transfer karena mengira dirinya menghadiri rapat dengan jajaran pimpinan perusahaan, padahal semua peserta lain di rapat itu palsu. Kerugiannya mencapai 25 juta dolar AS, atau sekitar Rp 400 miliar lebih.</p>
<p>Karena itu, aturan label nanti bakal mewajibkan penanda atau watermark pada konten yang dihasilkan AI generatif. Kalau ada konten yang tidak diberi label, pemerintah bisa meminta platform melakukan take down. Untuk sanksi lainnya, masih akan merujuk pada UU ITE yang berlaku.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/18/label-ai-youtube-music-cek-lagu-buatan-ai/">Label AI YouTube Music Mulai Muncul: Begini Cara Cek Lagu Bikinan Mesin</a></p>
<h2>Perpres AI Indonesia Diklaim Tak Bakal Hambat Inovasi</h2>
<p>Kekhawatiran terbesar dari kalangan pelaku industri adalah: kalau diatur terlalu ketat, inovasi AI di Indonesia bisa ketinggalan. Pemerintah menjawabnya dengan cukup sering: aturan ini dibuat supaya seimbang.</p>
<p>Meutya Hafid bahkan menegaskan, Indonesia harus menentukan laju pengembangan AI-nya sendiri. Jangan sampai ritme kita ditentukan negara lain atau perusahaan teknologi asing. Dalam forum Bali Tech Week 2026, dia bilang Indonesia perlu laju yang pas, supaya pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan lain bisa bergerak selaras.</p>
<p>Dia juga menyoroti perdebatan global soal kecepatan pengembangan AI. Di satu sisi ada yang mendorong inovasi secepat mungkin, di sisi lain ada perusahaan teknologi yang justru minta diperlambat karena risiko. Indonesia disebut memilih jalan tengah: mendorong manfaat, tapi tetap antisipasi risiko.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/12/ceo-microsoft-rem-darurat-ai/">CEO Microsoft Serukan Rem Darurat AI: Model Harus Bisa Dimatikan Kapan Saja</a></p>
<h2>Tantangan: Infrastruktur, Talenta, dan Waktu</h2>
<p>Terlepas dari isi Perpres AI Indonesia, tantangan terbesar justru ada di eksekusi. Infrastruktur digital Indonesia belum merata. Banyak laporan menyebut kebutuhan talenta digital di bidang AI masih jauh dari cukup, dan peta jalan AI nasional baru bisa berjalan mulus kalau sumber daya manusianya siap.</p>
<p>Kesiapan data center juga jadi PR. Belum lama ini sempat ramai soal lonjakan kebutuhan listrik buat data center AI di Indonesia, yang naik hampir lima kali lipat. Artinya, ambisi AI nasional harus dibarengi kesiapan energi dan jaringan.</p>
<p>Yang jelas, setelah dua perpres ini ditandatangani, pemerintah masih perlu aturan turunan, termasuk pelabelan konten AI dan aturan teknis lain. Perpres cuma pintu masuk. Bagian tersulitnya, seperti biasa, ada di penerapan di lapangan.</p>
<p>Buat kamu yang kerja di bidang teknologi atau menjalankan bisnis berbasis AI, dua aturan ini layak dipantau. Bukan cuma karena isinya mengatur cara kerja kamu, tapi karena arah regulasinya bakal menentukan seberapa bebas kamu bisa berinovasi beberapa tahun ke depan.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/14/data-center-ai-indonesia-listrik-jatiluhur/">Data Center AI Indonesia: Listrik Naik Hampir 5 Kali, Proyek 640 MW Jatiluhur</a></p>
<h2>Pertanyaan yang Sering Muncul</h2>
<p><strong>Kapan Perpres AI Indonesia bakal resmi terbit?</strong><br />Pemerintah menargetkan kedua perpres ditetapkan pada 2026. Draf final sudah diserahkan ke Setneg dan tinggal menunggu tanda tangan Presiden.</p>
<p><strong>Apa bedanya Perpres Etika AI dan Perpres Peta Jalan AI?</strong><br />Perpres Etika AI mengatur tata kelola, mulai dari nilai etika sampai pengelompokan risiko produk AI. Perpres Peta Jalan AI mengatur strategi dan sektor prioritas pengembangan AI nasional.</p>
<p><strong>Apakah ada sanksi buat pelanggar?</strong><br />Di draft Perpres Etika AI, tidak ada pengaturan sanksi. Sanksi untuk kasus konten AI nantinya akan merujuk pada UU ITE dan aturan pelabelan konten AI yang sedang disusun.</p>
<p><strong>Apakah aturan ini bakal menghambat startup AI lokal?</strong><br />Pemerintah mengklaim aturan ini dibuat seimbang, supaya tidak menghambat inovasi. Namun detail teknisnya masih menunggu aturan turunan.</p>
<h2>Sumber</h2>
<ul>
<li><a href="https://www.kompas.id/artikel/pemerintah-tegaskan-perpres-etika-ai-tetap-akan-dikeluarkan-2026" target="_blank" rel="noopener">Kompas — Pemerintah Targetkan Dua Perpres AI Rampung pada 2026</a></li>
<li><a href="https://portal.komdigi.go.id/kanal-publik/berita-kini/10607" target="_blank" rel="noopener">Komdigi — Deepfake Makin Sulit Dikenali, Kemkomdigi Kaji Aturan Label Konten AI</a></li>
<li><a href="https://www.cnbcindonesia.com/tech/20261019122354-37-777441/komdigi-susun-aturan-wajib-label-produk-ai-biar-warga-ri-tidak-ketipu" target="_blank" rel="noopener">CNBC Indonesia — Komdigi Susun Aturan Wajib Label Produk AI</a></li>
<li><a href="https://en.antaranews.com/news/436537/indonesia-must-determine-its-own-ai-development-pace-minister" target="_blank" rel="noopener">ANTARA — Indonesia Must Determine Its Own AI Development Pace: Minister</a></li>
<li><a href="https://gorontalo.antaranews.com/berita/422668/menkomdigi-tegaskan-ai-harus-beri-manfaat-nyata-bagi-masyarakat" target="_blank" rel="noopener">ANTARA — Menkomdigi Tegaskan AI Harus Beri Manfaat Nyata bagi Masyarakat</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>GoTo Rilis LLM Open-Source 27 Miliar Parameter: Bisa Pahami Bahasa Jawa sampai Batak, Gratis</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/19/goto-rilis-llm-open-source-27-miliar-parameter-bisa-pahami-bahasa-jawa-sampai-batak-gratis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 08:35:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[AI Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[GoTo]]></category>
		<category><![CDATA[LLM]]></category>
		<category><![CDATA[Open Source]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat-AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/19/goto-rilis-llm-open-source-27-miliar-parameter-bisa-pahami-bahasa-jawa-sampai-batak-gratis/</guid>

					<description><![CDATA[GoTo merilis LLM open-source 27 miliar parameter yang paham bahasa Indonesia dan bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, hingga Batak. Model ini dibagikan gratis untuk kampus, startup, dan institusi publik.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>GoTo resmi melepas <strong>LLM open-source GoTo</strong> berukuran 27 miliar parameter, Senin (19/10/2026) di Bali. Model bahasa besar ini dikembangkan khusus untuk memahami bahasa Indonesia dan bahasa daerah, dari Jawa, Sunda, Bali, sampai Batak. Yang bikin menarik: modelnya dibagikan gratis, bisa dipakai universitas, startup, dan institusi publik tanpa perlu pusat data raksasa.</p>
<p>Saya sudah lama ngikutin proyek AI dalam negeri, dan ini salah satu langkah paling konkret yang pernah saya lihat. Bukan sekadar demo atau pilot project. GoTo benar-benar membuka modelnya ke publik dengan alasan yang masuk akal: AI buatan luar negeri sering kikuk saat menghadapi cara orang Indonesia berkomunikasi.</p>
<h2>LLM Open-Source GoTo Dirancang untuk Konteks Lokal</h2>
<p>CEO Grup GoTo, Hans Patuwo, bilang Indonesia sudah memanfaatkan teknologi AI buatan luar negeri dengan baik. Tapi kita tetap perlu mengembangkan AI buatan sendiri untuk menjawab tantangan dan kebutuhan lokal.</p>
<p>Pernyataannya soal ini cukup jujur. AI yang dirancang untuk penggunaan global, menurut Hans, mungkin belum sepenuhnya optimal dalam memahami data lokal dan cara masyarakat Indonesia berkomunikasi. Mulai dari singkatan sehari-hari sampai bahasa daerah yang dipakai sejak kecil di rumah.</p>
<p>&#8220;Membuka akses model ini kepada publik adalah cara kami berkontribusi untuk negara,&#8221; begitu intinya. GoTo ingin ikut membangun fondasi pengembangan AI yang memahami konteks lokal dan bisa dimanfaatkan siapa saja di Indonesia.</p>
<h2>Bahasa Daerah Jadi Senjata Utama</h2>
<p>Model ini dilatih pakai teks berbahasa Indonesia dari berbagai mitra media dan situs web sektor publik. Bagian yang paling saya suka: untuk bahasa Batak, GoTo kolaborasi dengan Universitas Sumatera Utara (USU) supaya datanya benar-benar mencerminkan penggunaan bahasa itu hari ini, bukan teks kaku hasil arsip lama.</p>
<p>Hasilnya? Di pengujian dengan tolok ukur model open-source sejenis di kelasnya, LLM open-source GoTo ini secara konsisten meraih skor tertinggi pada setiap bahasa daerah yang diuji. Artinya, kalau kamu ngobrol pakai campuran Indonesia-Jawa atau Indonesia-Sunda, model ini kemungkinan besar nyambung, bukan malah menerjemahkan mentah-mentah.</p>
<p>Untuk konteks Indonesia dengan 700+ bahasa daerah, ini bukan hal sepele. Model global umumnya cuma jago di bahasa Inggris dan segelintir bahasa besar lainnya.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/19/gemini-4-argon-google-harga-akses-global/">Gemini 4 Argon Resmi Global: Model AI Google Buat Kerjaan Kompleks</a></p>
<h2>Kenapa 27 Miliar Parameter, Bukan Lebih Besar?</h2>
<p>Angka 27 miliar mungkin terdengar kecil dibanding model frontier yang ratusan miliar parameter. Tapi ini pilihan teknis yang sadar. Dengan ukuran itu, modelnya cukup mumpuni untuk tugas bahasa kompleks, namun tetap ringan dijalankan mandiri di peladen milik universitas, startup, atau institusi publik.</p>
<p>Gampangnya: kamu gak perlu cluster GPU mahal atau sewa pusat data besar buat jalanin model ini. Satu server kelas menengah sudah cukup. Justru di situ nilai &#8220;open-source&#8221;-nya kerasa, aksesiblenya nyata, bukan cuma seremoni.</p>
<p>Sebagai konteks, GoTo bukan pemain baru di jalur ini. Proyek tersebut kelanjutan garis Sahabat-AI yang lahir pada 2024 lewat kerja bareng Indosat Ooredoo Hutchison, dengan versi sebelumnya berkekuatan 70 miliar parameter berbasis Llama 3.1. Turun ke 27B terasa seperti keputusan pragmatis: lebih hemat, lebih gampang disebar, tetap relevan untuk bahasa lokal.</p>
<h2>Kedaulatan AI dan Visi Indonesia Digital 2045</h2>
<p>Peluncuran ini sejalan dengan Visi Indonesia Digital 2045 dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang mendorong ekosistem digital inklusif, kolaboratif, dan berbasis inovasi. Narasi besarnya: Indonesia berdaulat di bidang AI.</p>
<p>Ini nyambung sama isu yang sering saya bahas di Preset ID: infrastruktur AI dalam negeri lagi panas. Kebutuhan listrik pusat data melonjak, dan sebagian proyek besar bahkan tersendat. Datanya bisa lihat di artikel <a href="https://preset.id/2026/10/14/data-center-ai-indonesia-listrik-jatiluhur/">Data Center AI Indonesia</a>. Model lokal yang ringan seperti punya GoTo jadi jawaban masuk akal, karena gak semuanya butuh model raksasa yang rakus daya.</p>
<p>Transformasinya jelas: dari sekadar pengguna teknologi AI jadi pencipta. Klaimnya memang masih besar, tapi setidaknya arahnya benar.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/18/deepseek-v4-1-flash-1017-rilis/">DeepSeek V4.1-Flash-1017 Resmi Rilis: Skor Coding 77 Persen</a></p>
<h2>Apa yang Masih Pertanyaan</h2>
<p>Marilah jujur. Dari pengumuman peluncurannya, detail arsitektur, volume dataset, lisensi resmi, dan nama teknis model belum dijabarkan lengkap ke publik. Angka 27 miliar parameter dan sifat keterbukaannya memang sudah dinyatakan, tapi developer yang mau mengadopsi tentu butuh lebih dari itu.</p>
<p>Lisensi misalnya, bakal nentuin apakah model ini benar-benar bebas dipakai komersial atau ada batasnya. Saya berharap GoTo segera memublish kartu model dan tautan bobotnya di Hugging Face supaya komunitas bisa ikut menguji, bukan cuma menilai dari rilis pers.</p>
<p>Tolok ukur bahasa daerah yang diklaim tertinggi juga perlu dilihat angkanya secara terbuka. Yang penting bukan menang skor, tapi apakah modelnya tidak mengarang saat ditanya dalam bahasa Batak atau Bali. Halusinasi dalam bahasa daerah itu risiko nyata yang jarang dibicarakan.</p>
<h2>Yang Bisa Dilakukan Developer dan Kampus</h2>
<p>Kalau kamu developer atau pengajar, ini momentumnya. LLM open-source GoTo yang cuma 27 miliar parameter bisa di-fine-tune buat chatbot layanan publik berbahasa daerah, asisten pendidikan, sampai alat pendokumentasian bahasa yang hampir punah. Universitas yang sudah ikut menyumbang data, seperti USU, jelas paling diuntungkan.</p>
<p>Startup lokal juga bisa memangkas biaya API model luar negeri. Gak gratis total sih, tetap ada ongkos server, tapi untuk aplikasi berbahasa Indonesia yang volumenya besar, hitung-hitungannya bisa jauh lebih masuk akal dibanding bayar token per pemakaian ke penyedia global.</p>
<h2>Pandangan Saya</h2>
<p>LLM open-source GoTo bukan model tercanggih di dunia, dan emang gak perlu. Kontribusinya lain: ia dibuat untuk bahasa dan konteks yang diabaikan model besar global. Itu jenis kerja yang gak akan dilakukan lab luar negeri karena pasarnya kecil bagi mereka.</p>
<p>Saya agak campuran rasanya melihat ini. Bangga karena Indonesia akhirnya punya model lokal serius, tapi juga nunggu bukti: buka bobotnya, publish datanya, biar komunitas yang menilai. Rilis tanpa keterbukaan penuh cuma setengah jalan.</p>
<p>Kalau GoTo konsisten menggarap jalur ini dan membuka detail tekniknya, saya siap bilang ini salah satu momen paling penting buat AI Indonesia tahun 2026.</p>
<h2>Sumber</h2>
<ul>
<li><a href="https://www.suara.com/tekno/2026/10/19/143724/goto-rilis-ai-27-miliar-parameter-gratis-bisa-pahami-bahasa-jawa-hingga-batak" target="_blank" rel="noopener">Suara.com &#8211; GoTo Rilis AI 27 Miliar Parameter</a></li>
<li><a href="https://www.atnews.id/portal/news/34894/goto-luncurkan-llm-terbaru-open-source-27-miliar-parameter-untuk-indonesia" target="_blank" rel="noopener">ATNews &#8211; GoTo Luncurkan LLM Terbaru Open-Source 27 Miliar Parameter</a></li>
<li><a href="https://radarbali.jawapos.com/ekonomi/2610190014/khusus-dikembangkan-untuk-indonesia-goto-luncurkan-llm-terbaru-open-source-27-miliar-parameter" target="_blank" rel="noopener">Radar Bali Jawa Pos &#8211; LLM Open-Source 27 Miliar Parameter</a></li>
<li><a href="https://ai-release.org/posts/goto-vypustila-otkrytuyu-llm-na-27-mlrd-parametrov-dlya-indoneziyskih-f1488027_en.html" target="_blank" rel="noopener">AI Release &#8211; GoTo releases open 27B-parameter LLM</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gemini 4 Argon Resmi Global: Model AI Google Buat Kerjaan Kompleks, Harga Mulai Rp 35 Ribu</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/19/gemini-4-argon-google-harga-akses-global/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2026 02:04:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI Coding]]></category>
		<category><![CDATA[AI Google]]></category>
		<category><![CDATA[Gemini 4 Argon]]></category>
		<category><![CDATA[Google DeepMind]]></category>
		<category><![CDATA[Google Gemini]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Gemini 4 Argon]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Buatan]]></category>
		<category><![CDATA[Model AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/19/gemini-4-argon-google-harga-akses-global/</guid>

					<description><![CDATA[Google resmi buka akses global Gemini 4 Argon, model AI frontier yang jago buat coding, riset, dan kerjaan kompleks. Harga mulai Rp 35 ribu per juta token, dan sudah bisa dicoba dari Indonesia.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Google akhirnya buka akses global buat <strong>Gemini 4 Argon</strong>, model AI terbaru mereka yang dibuat khusus buat kerjaan berat. Bukan buat nulis caption atau jawab chat receh, tapi buat ngerjain tugas panjang yang butuh nalar bertingkat: coding, riset keuangan, drafting dokumen hukum, sampai bantu pertahanan siber. Yang bikin menarik, model ini sebelumnya cuma boleh dipakai sekelompok kecil pakar keamanan pilihan. Sekarang pengembang, perusahaan, sampai pelanggan berbayar sudah bisa mencobanya.</p>
<p>Pengumuman resminya keluar 30 September 2026 langsung dari Koray Kavukcuoglu, SVP Google DeepMind sekaligus Chief AI Architect Google. Akses publiknya baru dibuka 13 Oktober 2026, dan menurut pantauan KompasTekno, per 14 Oktober model ini sudah bisa dicoba dari Indonesia. Jadi kalau kamu penasaran, sekarang sudah bisa ngintip.</p>
<h2>Apa Itu Gemini 4 Argon?</h2>
<p>Gemini 4 Argon adalah model frontier pertama di generasi Gemini 4. Google mendesainnya buat penalaran mendalam dalam satu rangkaian kerja panjang, bukan sekadar tanya jawab singkat. Salah satu spesifikasi paling menonjol: batas token input dan output terpadu sampai 1 juta token. Model Gemini generasi sebelumnya mentok di 64 ribu token output. Bedanya besar, karena Argon bisa ngerjain satu basis kode besar atau nulis dokumen panjang tanpa terputus di tengah jalan.</p>
<p>Kalau kamu masih ingat Gemini Agent for Work yang rilis awal Oktober, Argon ini kelas yang beda. Agent itu soal asisten yang nyambung ke Gmail dan Kalender. Argon lebih ke otak yang dipakai buat mikir dan ngerjain tugas teknis, bukan cuma ngeksekusi rutinitas.</p>
<h2>Dari Fairwind Program ke Akses Global</h2>
<p>Sebelum bebas dipakai siapa saja, Gemini 4 Argon cuma beredar di kalangan terbatas lewat Fairwind Program. Isinya tim peneliti dan penegak pertahanan siber yang dipercaya, bagian dari proses pengujian Google sebelum kemampuan secanggih ini dilepas ke publik. Google sengaja main hati-hati karena model ini punya kemampuan ofensif kalau salah tempat.</p>
<p>Sekarang jalurnya kebuka lebar. Pengembang bisa akses Argon lewat API di Google AI Studio dan Android Studio. Perusahaan bisa lewat Gemini for business, API, dan Google Antigravity. Pelanggan Google AI Pro dan Ultra bisa nyobain lewat aplikasi Gemini dan AI Mode di Search, sementara Antigravity khusus buat pelanggan paket Ultra. Google juga memperluas Fairwind Program ke ratusan mitra tambahan, salah satunya Wiz yang sudah memakai Argon buat program &#8220;Scan for Good&#8221;.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/10/gemini-agent-for-work-agen-ai-google-cloud/">Google Rilis Gemini Agent for Work: Agen AI yang Punya Gmail dan Kalender Sendiri</a></p>
<h2>Harga Gemini 4 Argon: Mulai Rp 35 Ribu per Juta Token</h2>
<p>Soal biaya, Google memasang tarif perkenalan yang lumayan masuk akal buat kelas frontier. Angkanya 2 dolar AS per juta token input, atau sekitar Rp 35 ribu, dan 10 dolar AS per juta token output, sekitar Rp 178 ribu. Token input yang sudah tersimpan di cache dapat potongan sampai 95 persen.</p>
<p>Harga perkenalan ini cuma berlaku sampai 30 November 2026. Setelah itu tarifnya naik dua kali lipat jadi 4 dolar per juta token input dan 20 dolar per juta token output. Buat tim yang lagi nyusun anggaran, tanggal ini penting dicatat. Naik dua kali lipat bukan angka kecil kalau pemakaian modelmu sudah jalan tiap hari.</p>
<p>Ada satu catatan penting buat pengguna di Indonesia. Akses Argon di aplikasi Gemini belum gratis. Kamu perlu langganan Google AI Pro yang dibanderol Rp 309.000 per bulan, atau Google AI Ultra Rp 1,58 juta per bulan. Kalau kamu pilih model Argon 4 di aplikasi Gemini tanpa langganan, kamu bakal diarahkan buat beli salah satu paket itu dulu.</p>
<h2>Sekuat Apa? Ini Hasil Benchmark-nya</h2>
<p>Klaim &#8220;frontier&#8221; gampang diucapkan, jadi mari lihat angkanya. Di benchmark coding agentik DeepSWE v1.1, Argon mencetak 77,9 persen, angka yang diklaim mengungguli GPT-6 Astra. Untuk urusan kerjaan ekonomi nyata, Argon duduk di peringkat satu Vals Index, pengukuran performa model di sektor keuangan, coding, hukum, dan perpajakan.</p>
<p>Yang paling mencolok justru AutomationBench dari Zapier, di mana Argon dapat 51,3 persen. Benchmark ini ngukur seberapa jago model ngerjain alur kerja bisnis dari awal sampai akhir. Tambahan lagi, Argon mencetak 91,7 persen di LVBench buat pemahaman video durasi panjang, dan 87 persen di Embodied Reasoning alias ERQA, benchmark yang ngetes kemampuan model memahami masalah fisik dan spasial di lingkungan 3D.</p>
<p>Kombinasi itu menjelaskan kenapa Google sampai memakai robot humanoid sebagai contoh. Dalam uji internal, Argon nonton video orang main cornhole, memetakan koordinat ruang, menghitung gerakan sendi yang dibutuhkan, lalu bikin kode simulasi sendiri. Setelah diterapkan ke robot humanoid Apollo buatan Apptronik, robot itu mencetak tujuh lemparan beruntun. Proses yang biasanya makan berpekan-pekan modeling manual jadi selesai dalam beberapa jam.</p>
<h2>Google Sendiri Pakai Argon Buat Apa</h2>
<p>Ini bagian yang menurut saya paling seru, karena Google nggak cuma jualan angka benchmark. Mereka benar-benar memakai Argon di dalam rumah sendiri, dan hasilnya lumayan ekstrem.</p>
<ul>
<li><strong>Hemat memori data center.</strong> Argon menganalisis pola pemakaian memori di pusat data Google dan membantu membebaskan lebih dari 300 TiB memori. Google memperkirakan potensi penghematan totalnya bisa menyentuh 500 TiB sampai 1 PiB.</li>
<li><strong>Bongkar kode legacy Chrome.</strong> Argon membantu tim Chrome memisahkan penanganan halaman web inti dari folder legacy berisi sekitar 6 juta baris fitur browser, di dalam basis kode Chromium yang panjangnya 40 juta baris. Refactor arsitektur ratusan file yang biasanya butuh hitungan bulan jadi kelar dalam beberapa pekan.</li>
<li><strong>Migrasi C dan C++ ke Rust.</strong> Argon mengganti 32 ribu baris kode SIMD di decoder video libgav1 dengan port Rust yang 2,7 kali lebih cepat. Kernel Zircon di Fuchsia OS yang panjangnya lebih dari 800 ribu baris juga dipindahkan.</li>
<li><strong>Percepat framework agent.</strong> Tim di balik Agent Development Kit (ADK) Python minta Argon menghilangkan overhead framework. Kerja semalaman itu memotong waktu persiapan sesi di memori sampai 40 persen dan mempercepat cold import 21 persen.</li>
<li><strong>Optimasi paket kimia kuantum.</strong> Dengan bantuan Argon, paket open source xTB jadi sampai 2,3 kali lebih cepat untuk memprediksi struktur molekul dan 1,8 kali lebih cepat di pencarian konformer.</li>
<li><strong>Bikin Gemma makin ngebut.</strong> Argon membantu mencapai percepatan inferensi 2,85 kali pada A100 lewat vLLM, dari sekitar 37.900 jadi lebih dari 108.000 token per detik di Gemma 4 E2B, tanpa penurunan kualitas.</li>
</ul>
<p>Migrasi kode berjumlah ratusan ribu baris bukan proyek yang biasanya selesai dalam hitungan minggu kalau dikerjakan manual. Google juga melaporkan bahwa Argon di Antigravity menaikkan pengiriman kode berbasis agen AI lebih dari 35 persen, sekaligus menekan rollback kode hampir sepertiga.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/15/microsoft-maia-300-resmi-meluncur-chip-ai-288-gb-hbm4-dan-klaim-7-kali-lipat-per-rack/">Microsoft Maia 300 Resmi Meluncur: Chip AI 288 GB HBM4 dan Klaim 7 Kali Lipat per Rack</a></p>
<h2>Kenapa Rilisnya Bertahap</h2>
<p>Gemini 4 Argon nggak langsung dibuka bebas begitu jadi. Google menahan dulu di Fairwind Program, ikut proses sukarela pemerintah Amerika Serikat, dan minta pengujian dari pihak ketiga. Alasannya jelas: model yang bisa menemukan celah keamanan dan menulis tambalannya juga bisa dipakai buat hal yang salah.</p>
<p>Di sisi pengaman, Google melaporkan beberapa angka. Uji coba bio red teaming eksternal cuma bisa membuka kurang dari 1 persen sub-tugas bio yang diuji. Pada kumpulan uji adversarial, pelanggaran aturan turun hampir dua kali lipat dibanding model Gemini sebelumnya. Percobaan jalan pintas agen, misalnya ketika model mentok izin atau tes yang gagal, turun jadi cuma 2 persen. Argon juga memimpin benchmark Gray Swan Indirect Prompt Injection dengan tingkat keberhasilan serangan 0,7 persen di 15 percobaan adaptif.</p>
<h2>Apa Artinya Buat Pengguna di Indonesia</h2>
<p>Kabar baiknya, Indonesia nggak ketinggalan jauh. Per pertengahan Oktober, Argon sudah bisa dicoba dari sini, entah lewat API buat yang ngoding, atau lewat aplikasi Gemini buat yang berlangganan. Google juga membuka kesempatan buat 10.000 ilmuwan mendapat tier penggunaan tertinggi di Google Antigravity secara gratis selama enam bulan, dengan pendaftaran dibuka bertahap.</p>
<p>Yang perlu dicermati, akses di aplikasi Gemini terikat paket langganan. Pengguna gratis nggak serta merta bisa memilih Argon di menu model. Developer lokal yang mau ngetes lewat API punya jendela waktu sampai 30 November dengan tarif separuh harga. Habis itu, hitung-hitungan biaya jadi jauh lebih penting, apalagi buat aplikasi yang memanggil model ribuan kali sehari.</p>
<h2>Catatan Saya</h2>
<p>Persaingan model frontier sekarang makin rapat. Argon unggul di pekerjaan panjang, migrasi kode, dan alur kerja otomatis, tapi belum tentu menang di semua indeks penalaran umum. Jadi pilih model sesuai kebutuhan, bukan sesuai urutan peluncuran. Kalau kerjaanmu banyak ngurus dokumen panjang, refactor kode, atau riset lintas domain, Argon masuk daftar pertimbangan serius.</p>
<p>Yang bikin saya agak mikir justru cerita internal Google. Perusahaan yang bikin modelnya sendiri sampai bisa membebaskan ratusan terabita memori dan memindahkan ratusan ribu baris kernel, itu tanda AI sudah masuk ke lapisan paling teknis dari bisnis mereka. Efeknya bakal kerasa ke produk yang kita pakai sehari-hari, cepat atau lambat. Google juga bilang Argon baru permulaan dari keluarga Gemini 4, jadi sisanya tinggal nunggu.</p>
<h2>Sumber</h2>
<ul>
<li><a href="https://blog.google/innovation-and-ai/models-and-research/gemini-models/introducing-gemini-4-argon/" target="_blank" rel="noopener">Google Blog &#8211; Gemini 4 Argon: Built to solve your hardest problems</a></li>
<li><a href="https://blog.google/innovation-and-ai/models-and-research/gemini-models/gemini-4-argon/" target="_blank" rel="noopener">Google Blog &#8211; Gemini 4 Argon: our next era of frontier intelligence</a></li>
<li><a href="https://cloud.google.com/blog/products/ai-machine-learning/gemini-4-argon-available-on-google-cloud" target="_blank" rel="noopener">Google Cloud Blog &#8211; Gemini 4 Argon now available on Google Cloud</a></li>
<li><a href="https://www.liputan6.com/tekno/read/8312711/gemini-4-argon-tersedia-global-harga-mulai-rp-35-ribu" target="_blank" rel="noopener">Liputan6 &#8211; Gemini 4 Argon Tersedia Global, Harga Mulai Rp 35 Ribu</a></li>
<li><a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/10/14/09270027/gemini-4-argon-sudah-bisa-dicoba-di-indonesia-model-ai-google-untuk-tugas" target="_blank" rel="noopener">KompasTekno &#8211; Gemini 4 Argon Sudah Bisa Dicoba di Indonesia, Model AI Google untuk Tugas Kompleks</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>DeepSeek V4.1-Flash-1017 Resmi Rilis: Skor Coding 77 Persen, Biaya per Tugas Turun 60 Persen</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/18/deepseek-v4-1-flash-1017-rilis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 08:34:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Agentic AI]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[AI Agent]]></category>
		<category><![CDATA[AI China]]></category>
		<category><![CDATA[API AI]]></category>
		<category><![CDATA[DeepSeek]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Buatan]]></category>
		<category><![CDATA[Model AI]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/?p=1503</guid>

					<description><![CDATA[DeepSeek V4.1-Flash-1017 resmi rilis 17 Oktober 2026. Skor DeepSWE naik ke 77 persen, tapi biaya per tugas justru turun jadi di bawah 0,2 dollar AS.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>DeepSeek nambah satu nama lagi di daftar rilisnya. Pada 17 Oktober 2026, perusahaan AI asal China itu merilis <strong>DeepSeek V4.1-Flash-1017</strong>, pembaruan dari V4.1-Flash yang datang sekitar sebulan sebelumnya. Yang bikin rilis ini menarik: skor benchmark naik, biaya menjalankan tugas malah makin murah.</p>
<p>Klaim DeepSeek cukup lugas: model ini lebih kuat di coding dan kerja agen AI, selesai lebih cepat, jawabannya lebih ringkas, dan tagihannya tidak berubah. Buat saya, poin terakhir itu yang paling penting. Model bagus tapi mahal cuma berguna buat demo.</p>
<h2>Apa Itu DeepSeek V4.1-Flash-1017?</h2>
<p>Nama belakangnya bukan nomor versi baru, cuma tanggal rilis: 17 Oktober. DeepSeek pakai pola ini buat nandain pembaruan model tanpa ganti nama besar. Jadi <strong>DeepSeek V4.1-Flash-1017</strong> masih bagian dari keluarga V4.1 Flash, model kelas menengah yang diposisikan buat kerja cepat dan murah, bukan model reasoning paling mahal di katalog mereka.</p>
<p>Karena itu, versi baru ini langsung dipasang di produk konsumen DeepSeek. Situs web dan aplikasi resmi mereka sudah memakai model ini. Buat developer, tidak ada endpoint baru yang perlu dipelajari: tetap pakai ID model <code>deepseek-flash</code>, dan panggilan API lama tetap jalan.</p>
<p>Yang berubah isinya. DeepSeek bilang model ini dioptimalkan buat dipakai di harness agen, termasuk DeepSeek Harness versi 0.2.1-rc.1 ke atas, Tencent CodeBuddy, dan WorkBuddy. Kalau kamu punya pipeline agen yang masih jalan di DeepSeek Harness versi lama, ada baiknya upgrade dulu sebelum mengukur ulang performanya.</p>
<h2>Skor DeepSWE Naik ke 77 Persen</h2>
<p>Benchmark yang paling disorot DeepSeek adalah DeepSWE v1.1, ujian buat mengukur kemampuan model menyelesaikan tugas rekayasa perangkat lunak. Di pengujian internal mereka, <strong>DeepSeek V4.1-Flash-1017</strong> mencetak 77,0 persen, naik dari 74,2 persen yang dicatat V4.1-Flash.</p>
<p>Kenaikan paling tajam justru ada di Terminal-Bench 4.0, dari 31,2 ke 42,3. ProgramBench juga lompat dari 20,3 ke 29,1, dan NL2Repo-Bench dari 65,4 ke 68,2. HLE tanpa alat naik dari 36,8 ke 42,6, sementara Automation-Bench v1.0.6 ada di 60,5 dan Apex Bench v1.1 di 72,1.</p>
<p>Ada juga beberapa angka yang diukur pakai alat bantu. Chartography dapat 83,0, BabyVision 92,5, dan ZeroBench-main 51,0 dengan Pass@5. Semua angka ini datang dari tabel resmi DeepSeek, bukan pengujian pihak ketiga, jadi anggap sebagai klaim vendor dulu.</p>
<p>Yang bikin ramai, DeepSeek mengklaim skor ini melampaui beberapa model yang ukurannya jauh lebih besar, termasuk Claude Opus 5, GPT-5.6-Sol, Kimi K3, dan GLM 5.3. Klaim yang berani, tapi belum diverifikasi di luar.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/08/16/deepseek-v4-pro-resmi-meluncur-penantang-kimi-k3-yang-fokus-ke-ai-agent/">DeepSeek V4 Pro Resmi Meluncur, Penantang Kimi K3 yang Fokus ke AI Agent</a></p>
<h2>Biaya per Tugas di Bawah 0,2 Dollar AS</h2>
<p>Ini bagian yang bikin saya angkat alis. DeepSeek mengukur biaya per tugas, bukan cuma harga per token. Hasilnya, <strong>DeepSeek V4.1-Flash-1017</strong> butuh rata-rata kurang dari 0,20 dollar AS buat menyelesaikan satu tugas, turun dari sekitar 0,50 dollar AS di versi sebelumnya.</p>
<p>Artinya biayanya turun lebih dari 60 persen sementara skornya naik. DeepSeek juga menyebut ada konfigurasi yang lebih hemat lagi: skor di atas 72 persen dengan biaya sekitar 0,10 dollar AS per tugas. Buat tim yang menjalankan agen coding dalam jumlah banyak, selisih segitu menumpuk cepat.</p>
<p>Sebagai pembanding, grafik DeepSeek menempatkan GPT-6 Astra, Gemini 3.8 Flash, dan Claude Opus 5 di kisaran 2 dollar AS sampai lebih dari 10 dollar AS per tugas. Selisihnya bisa 10 sampai 50 kali lipat. Wajar kalau DeepSeek jualan dengan sudut &#8220;performa cukup, harga jauh lebih murah&#8221;.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/05/27/perang-harga-ai-china-deepseek-xiaomi-mimo-api/">AI China: Perang Harga DeepSeek, Alibaba, dan Tencent</a></p>
<h2>Harga API deepseek-flash Tidak Berubah</h2>
<p>Kabar bagusnya buat developer: harga API tidak ikut naik. DeepSeek tetap memasang tarif yang sama untuk <code>deepseek-flash</code>, dengan pembagian tarif jam sibuk dan jam sepi.</p>
<p>Untuk cache hit, tarifnya 0,003 dollar AS per juta token di jam sepi dan 0,006 dollar AS di jam sibuk. Cache miss 0,15 dollar AS dan 0,30 dollar AS. Output 0,60 dollar AS dan 1,20 dollar AS per juta token. Konteksnya 1 juta token, output maksimal 384 ribu token, dan model ini sudah mendukung input gambar.</p>
<p>Batas konkurensi API-nya 2.500. Buat skala startup kecil sampai menengah, angka itu lebih dari cukup. Dan karena ID modelnya tetap sama, kamu bisa dapat peningkatan performa ini cuma dengan memanggil endpoint yang sudah ada. Tidak ada migrasi, tidak ada kode baru.</p>
<h2>RLSF: Model yang Menilai Dirinya Sendiri</h2>
<p>Cara DeepSeek melatih model ini juga layak dibahas. Mereka pakai metode bernama Reinforcement Learning with Self-feedback, atau RLSF. Intinya, model memakai skor keyakinan internal dan kritik yang dihasilkan dirinya sendiri sebagai sinyal reward selama pelatihan lanjutan.</p>
<p>Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada penilai manusia dan model reward eksternal. Dari sisi biaya pelatihan, itu masuk akal: memberi label manusia buat tugas software yang panjang dan rumit itu mahal dan lambat.</p>
<p>Tapi ada catatan. Kalau model jadi hakim buat dirinya sendiri, dia juga bisa mewarisi biasnya sendiri. Model yang salah tapi yakin tetap dapat reward kalau tidak ada pemeriksa dari luar. DeepSeek tidak merinci bagaimana mereka mencegah masalah ini, jadi buat saya ini masih pertanyaan terbuka.</p>
<h2>Search API Internal Ikut Dibuka</h2>
<p>Di tanggal yang sama, DeepSeek juga membuka Search and Fetch API. Mesin pencarinya internal, dipakai buat melayani ratusan juta permintaan pencarian per hari, dan mengindeks ratusan miliar halaman web.</p>
<p>Yang menarik, DeepSeek menyebut mesin ini menyaring spam SEO, manipulasi GEO, dan konten AIGC berkualitas rendah. Buat agen AI yang butuh data segar, kualitas hasil pencarian sering jadi titik lemah. Kalau filter ini benar-benar bekerja, itu nilai jual tersendiri.</p>
<p>Harganya 0,75 dollar AS per 1.000 permintaan. Masih jauh lebih murah dibanding banyak penyedia search API khusus agen, meski kualitasnya perlu diuji sendiri.</p>
<h2>Apa Artinya buat Developer Indonesia?</h2>
<p>Buat yang membangun produk dengan biaya API ketat, rilis ini relevan. Agen coding, asisten internal, atau tool otomasi yang jalan ribuan kali sehari bisa memakai DeepSeek V4.1-Flash-1017 tanpa tagihan meledak. Selisih 0,30 dollar AS per tugas terdengar kecil, tapi kalikan 100.000 tugas sebulan.</p>
<p>Yang lebih penting, DeepSeek mulai menggeser cara mengukur harga. Selama ini kita bandingkan harga per juta token. Padahal biaya nyata sebuah agen ditentukan berapa banyak token yang dia bakar buat menyelesaikan satu tugas. Model yang jawabannya ringkas dan tidak muter-muter bisa lebih murah meski tarif per tokennya sama.</p>
<p>Buat tim yang masih menimbang, saran saya: uji dengan tugas nyata dari repo sendiri, bukan benchmark. Ambil 20 sampai 50 issue yang sudah pernah diselesaikan, jalankan di model lama dan model baru, lalu bandingkan biaya dan tingkat keberhasilan. Angka vendor bagus buat pembanding awal, bukan buat keputusan akhir.</p>
<h2>Catatan Kritis: Benchmark Internal Bukan Segalanya</h2>
<p>Semua angka di atas datang dari DeepSeek sendiri. Tidak ada satu pun yang sudah diverifikasi lembaga independen saat artikel ini ditulis. Benchmark juga dijalankan dengan framework tertentu, misalnya Terminal-Bench pakai Claude Code dan DeepSWE pakai Mini-SWE-V2, jadi hasilnya bisa berbeda di setup lain.</p>
<p>DeepSeek sendiri mengakui skor benchmark tidak selalu menggambarkan kualitas coding sehari-hari. Pengalaman developer waktu membangun software bisa jauh dari angka di tabel. Saya setuju. Model yang bagus di benchmark tetap bisa bikin frustrasi kalau dia salah paham konteks proyek.</p>
<p>Yang belum dijawab: berapa biaya pelatihannya, data apa yang dipakai, dan apakah peningkatan ini bertahan di tugas panjang dengan banyak file. Sampai ada pengujian pihak ketiga, klaim DeepSeek V4.1-Flash-1017 soal mengalahkan model lebih besar sebaiknya dibaca sebagai klaim pemasaran yang masuk akal, bukan fakta final.</p>
<p>Yang jelas, DeepSeek konsisten dengan strateginya: bersaing di harga sambil mengejar performa. Buat pasar AI yang harganya masih sering bikin kaget, tekanan seperti ini sehat. Tinggal tunggu apakah pemain lain ikut menurunkan harga atau malah fokus ke fitur.</p>
<h2>Sumber</h2>
<ul>
<li><a href="https://api-docs.deepseek.com/updates" target="_blank" rel="noopener">DeepSeek API Docs &#8211; Change Log</a></li>
<li><a href="https://api-docs.deepseek.com/quick_start/pricing" target="_blank" rel="noopener">DeepSeek API Docs &#8211; Models &amp; Pricing</a></li>
<li><a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/10/18/10030077/deepseek-rilis-ai-baru-kalahkan-model-lebih-besar-dengan-biaya-murah" target="_blank" rel="noopener">Kompas Tekno &#8211; DeepSeek Rilis AI Baru, Kalahkan Model Lebih Besar dengan Biaya Murah</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Label AI YouTube Music Mulai Muncul: Begini Cara Cek Lagu Bikinan Mesin</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/18/label-ai-youtube-music-cek-lagu-buatan-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2026 02:04:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI Generatif]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Buatan]]></category>
		<category><![CDATA[Musik AI]]></category>
		<category><![CDATA[Streaming Musik]]></category>
		<category><![CDATA[YouTube]]></category>
		<category><![CDATA[YouTube Music]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/18/label-ai-youtube-music-cek-lagu-buatan-ai/</guid>

					<description><![CDATA[YouTube Music mulai memasang label AI di halaman pemutar lagu. Tandanya ikon kecil di bawah judul, dan bisa diketuk buat lihat keterangan lengkapnya.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mulai pekan ini, <strong>label AI YouTube Music</strong> resmi nangkring di halaman pemutar lagu. Bentuknya kecil saja: ikon &#8220;i&#8221; dengan inisial &#8220;AI&#8221; di bawah judul lagu, tepat di dekat nama artis atau kanal pengunggah. Ketuk ikon itu, muncul keterangan singkat soal seberapa besar campur tangan kecerdasan buatan dalam lagu yang lagi kamu dengar.</p>
<p>Perubahan ini kelihatan sepele. Tapi buat siapa pun yang masih menganggap semua lagu di platform streaming dibuat manusia, ini patahan yang cukup jelas. Sekarang kamu punya alat buat cek sendiri, tanpa harus jadi detektif audio atau hafal gaya vokal tiap penyanyi.</p>
<h2>Cara kerja label AI YouTube Music</h2>
<p>YouTube Music nggak asal tempel stempel &#8220;AI&#8221; di semua lagu. Label cuma muncul kalau sebuah track dibuat terutama pakai AI generatif. Contoh yang disebut YouTube: model AI dipakai buat bikin komposisi sekaligus vokalnya.</p>
<p>Kalau kamu buka halaman Now Playing, label itu ada persis di bawah judul lagu. Ketuk, lalu keluar menu sederhana berisi penjelasan tambahan. Salah satu teks yang dipakai adalah &#8220;Made with AI&#8221;, yang artinya audio di lagu tersebut diubah atau sepenuhnya dibuat pakai AI.</p>
<p>YouTube juga nggak kerja sendirian. Mereka menggandeng mitra industri musik dan memakai teknologi pendeteksi buatan sendiri. Sistem ini sebenarnya sudah dipakai YouTube di konten video, sekarang diperluas ke ranah musik.</p>
<p>Mitra musik juga punya jalur buat menyatakan keterlibatan AI di karyanya. Ada tiga kategori yang dipakai: &#8220;Fully Gen AI&#8221; buat lagu yang sepenuhnya dibuat AI, &#8220;Partly Gen AI&#8221; buat yang sebagian, dan &#8220;No Gen AI&#8221; buat yang bersih dari AI generatif. Jadi label ini bukan cuma hasil tebakan mesin, tapi gabungan antara pengakuan pemilik karya dan deteksi platform.</p>
<h2>Kenapa label AI YouTube Music baru muncul sekarang</h2>
<p>Alasannya cukup sederhana: jumlah musik bikinan AI sudah naik jauh lebih cepat daripada kemampuan pendengar buat membedakannya. Di blog resminya, YouTube bilang pendengar sendiri yang meminta transparansi. Mereka ingin tahu apakah yang lagi diputar lagu manusia atau hasil model generatif.</p>
<p>Masalahnya bukan cuma soal selera. Awal Oktober 2026, pengadilan Amerika Serikat menjatuhkan vonis 18 bulan penjara ke Michael Smith (54). Pria itu terbukti memakai ribuan akun bot buat memutar lagu-lagu AI miliknya di beberapa platform, termasuk YouTube Music.</p>
<p>Angkanya bikin geleng kepala. Di April 2023, akun-akun botnya memutar lagu AI milik Smith 80,9 juta kali dalam sebulan. Di bulan dan aplikasi yang sama, seluruh katalog Taylor Swift cuma diputar 9,3 juta kali. Smith juga diwajibkan menyerahkan 8 juta dollar AS hasil kejahatannya. Ini kasus pidana pertama di AS yang menyangkut penipuan streaming berbantuan AI.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/13/penipuan-royalti-musik-ai/">Penipuan Royalti Musik AI: Pria AS Dipenjara 18 Bulan, Raup Rp126 Miliar</a></p>
<p>Kasus itu memperlihatkan satu hal: musik AI bukan cuma soal estetika. Ada uang royalti yang diperebutkan, dan pendengar sering nggak punya cara buat tahu apa yang sebenarnya mereka dengar. Label AI YouTube Music jadi jawaban paling tidak ribet buat masalah itu.</p>
<h2>Bukan cuma di YouTube Music</h2>
<p>Label ini bakal ikut pindah ke aplikasi utama YouTube. Jadi bukan cuma di tab musik, di video biasa pun penanda serupa akan muncul.</p>
<p>Aturan mainnya sebenarnya sudah lama ada. YouTube mewajibkan kreator mengungkap konten yang dibuat atau diubah pakai AI generatif, termasuk salah satu poin spesifik: musik yang jadi fokus utama video. Pengungkapan dilakukan lewat setelan &#8220;AI use&#8221; di YouTube Studio, baik versi desktop maupun HP. Setelah dicentang dan video diunggah, kontennya diberi tanda sebagai AI generated atau altered.</p>
<p>Yang perlu dicatat, kewajiban ini nggak berlaku buat semua hal. Editan kecil yang cuma estetis, atau konten yang jelas-jelas nggak realistis, nggak wajib dilaporkan. Tapi begitu AI dipakai buat membuat lagu yang jadi pusat perhatian, keterangan jadi wajib.</p>
<h2>Apa artinya buat pendengar di Indonesia</h2>
<p>Buat kamu yang tiap hari dengar playlist di YouTube Music, label ini berguna di dua situasi. Pertama, saat nemu lagu dari artis yang nggak kamu kenal tapi suaranya terasa terlalu mulus. Kedua, saat nemu cover atau remix yang mirip banget dengan penyanyi aslinya.</p>
<p>Kamu nggak harus berhenti dengar musik AI. Banyak lagu bikinan model generatif memang enak didengar, dan sebagian musisi memakainya sebagai alat bantu, bukan pengganti. Yang penting sekarang kamu tahu posisinya. Kamu bisa memutuskan sendiri mau lanjut dengar, masukin ke playlist, atau lewati.</p>
<p>Buat playlist bersama atau siaran di tempat umum, informasi ini juga berguna. Setidaknya kamu nggak salah menyebut lagu AI sebagai karya musisi sungguhan di depan orang lain.</p>
<h2>Buat musisi dan kreator: ini yang perlu diperhatikan</h2>
<p>Kalau kamu bikin musik pakai AI dan mengunggahnya ke YouTube, jangan pura-pura semuanya buatan tangan. Sistem deteksi YouTube sudah jalan, dan label bisa muncul walaupun kamu nggak pernah mencentang apa pun.</p>
<p>Lebih aman mengungkap dari awal. Kategori &#8220;Fully Gen AI&#8221; atau &#8220;Partly Gen AI&#8221; justru membantu pendengar memahami prosesmu. Ada penonton yang memang mencari lagu eksperimental hasil AI, dan mereka bakal lebih percaya kalau kamu terbuka.</p>
<p>Sebaliknya, menyembunyikan penggunaan AI punya risiko jangka panjang. Selain label bisa tetap muncul, reputasi kamu sebagai musisi jadi taruhannya. Di industri yang hidup dari kepercayaan penggemar, itu mahal.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/14/aiseal-android-17-brankas-ai-lokal/">AISeal Android 17: Brankas AI Lokal yang Cuma Dapat HP Mahal</a></p>
<h2>Yang masih jadi pertanyaan</h2>
<p>Label AI YouTube Music ini langkah bagus, tapi belum selesai. Batas kata &#8220;terutama&#8221; masih abu-abu. Lagu yang cuma memakai AI buat mastering atau bikin harmoni kecil mungkin nggak kena label, padahal pendengar bisa saja menganggapnya penting.</p>
<p>Deteksi otomatis juga nggak pernah sempurna. Model audio terus berkembang, dan alat pendeteksi selalu ketinggalan beberapa langkah. Ada kemungkinan lagu AI lolos tanpa label, dan ada juga kemungkinan lagu manusia salah ditandai. YouTube sendiri nggak merinci seberapa akurat sistemnya.</p>
<p>Sampai sekarang belum ada informasi soal filter khusus buat menyaring lagu AI dari pencarian atau rekomendasi. Kalau fitur itu ada, pendengar bakal punya kontrol lebih besar. Tapi untuk tahap awal, label di halaman pemutar sudah cukup buat memberi tahu.</p>
<p>Buat saya, ini contoh bagus bagaimana platform menangani perubahan teknologi tanpa harus melarangnya. YouTube nggak memblokir musik AI, juga nggak pura-pura semuanya beres. Mereka cuma menambah satu baris keterangan kecil, lalu membiarkan pendengar menilai sendiri. Menurut saya, pendekatan sesederhana itu yang paling masuk akal.</p>
<p>Kalau kamu penasaran, buka YouTube Music sekarang dan cek lagu yang lagi diputar. Kalau di bawah judulnya ada ikon &#8220;AI&#8221;, berarti kamu sedang dengar hasil kerja model generatif, bukan vokalis manusia.</p>
<h2>Sumber</h2>
<ul>
<li><a href="https://blog.youtube/news-and-events/youtube-music-ai-labels/" rel="noopener" target="_blank">YouTube Official Blog</a> &#8211; pengumuman resmi label AI untuk musik di YouTube Music</li>
<li><a href="https://support.google.com/youtube/answer/14328491?hl=en" rel="noopener" target="_blank">YouTube Help</a> &#8211; aturan pengungkapan konten AI generatif, termasuk musik sebagai fokus utama video</li>
<li><a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/10/16/10340067/youtube-music-mulai-tandai-lagu-buatan-ai" rel="noopener" target="_blank">Kompas Tekno</a> &#8211; detail tampilan label, ikon &#8220;i&#8221; dan &#8220;AI&#8221;, serta tiga kategori mitra musik</li>
<li><a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/10/10/19200047/lagu-buatan-ai-kalahkan-taylor-swift-di-youtube-music" rel="noopener" target="_blank">Kompas Tekno</a> &#8211; kasus penipuan streaming Michael Smith dan perbandingan dengan Taylor Swift</li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Volvo dan NVIDIA Perluas Kerja Sama: Nyetir Otomatis Mata Bebas Debut Sebelum 2030</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/17/volvo-dan-nvidia-nyetir-otomatis/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2026 08:34:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[AI 2026]]></category>
		<category><![CDATA[Hyperion]]></category>
		<category><![CDATA[Mobil Otonom]]></category>
		<category><![CDATA[Nvidia]]></category>
		<category><![CDATA[Nyetir Otomatis]]></category>
		<category><![CDATA[Volvo]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/17/volvo-dan-nvidia-nyetir-otomatis/</guid>

					<description><![CDATA[Volvo dan NVIDIA memperluas kerja sama untuk sistem nyetir otomatis Hyperion dan Alpamayo, dari jalan tol sampai parkiran, sebelum 2030.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Volvo dan NVIDIA</strong> resmi memperluas kerja sama mereka di bidang nyetir otomatis. Kesepakatan itu diumumkan 15 Oktober 2026, dan isinya bukan cuma ganti chip: keduanya menyiapkan fondasi buat mobil Volvo generasi berikutnya yang bisa mengemudi sendiri dari jalan tol sampai parkiran, tanpa kamu harus terus pegang setir.</p>
<p>Saya sudah baca rilis resmi NVIDIA Newsroom soal pengumuman ini, plus laporan Reuters dan beberapa media teknologi yang mengulasnya. Yang paling saya perhatikan bukan soal &#8220;mobil tanpa sopir&#8221; yang sering dipakai buat sensasi, tapi soal tahapannya. Volvo dan NVIDIA memilih jalan pelan, dan itu justru bagian yang paling masuk akal dari cerita ini.</p>
<p>Volvo sendiri bukan pemain baru di sini. Keduanya sudah kerja bareng sejak 2017, dan Volvo EX90 generasi sekarang pakai NVIDIA DRIVE AGX Orin sebagai komputer utamanya. Artinya pengumuman pekan lalu bukan titik awal, tapi lompatan dari kerja sama yang sudah jalan hampir satu dekade.</p>
<h2>Apa yang Sebenarnya Didapat Volvo dan NVIDIA</h2>
<p>Ada tiga komponen NVIDIA yang masuk ke mobil Volvo mendatang, dan ketiganya punya peran yang beda-beda.</p>
<p><strong>Hyperion</strong> adalah arsitektur sensor dan komputer di dalam mobil. Anggap saja ini kerangka sarafnya: kamera, radar, lidar, dan otak komputasi yang mengolah semua masukan jadi satu gambaran utuh soal jalanan di sekitar mobil.</p>
<p><strong>Halos</strong> adalah lapisan keamanannya. Fungsinya menjaga supaya keputusan sistem tetap dalam batas aman, dan ada jalur cadangan kalau salah satu bagian bermasalah. Ini semacam rem tangan otomatis yang bekerja di level sistem, bukan di level sopir.</p>
<p><strong>Alpamayo Stack</strong> adalah software nyetirnya sendiri. NVIDIA membuka sebagian model ini ke publik pada Agustus 2026, tepatnya Alpamayo 2, yang mengemudi sambil menjelaskan alasan keputusannya. Jadi kalau sistemnya menghindari truk di lajur kanan, ada jejak penalaran yang bisa diperiksa insinyur.</p>
<p>Kombinasi ketiganya itulah yang dipakai Volvo dan NVIDIA buat satu target yang jelas: nyetir dari pintu ke pintu alias door to door. Bukan cuma jalan tol, tapi juga jalan kota dan area parkir.</p>
<h2>Kenapa Sistemnya Dipasang di Mobil Baru, Bukan Model Lama</h2>
<p>Volvo dan NVIDIA menyebut teknologi ini bakal debut di &#8220;mobil Volvo generasi berikutnya&#8221; yang masuk dalam gelombang produk terbesar dalam sejarah Volvo. Sayangnya, tidak satu pun dari dua perusahaan mau menyebut modelnya atau tanggal peluncurannya.</p>
<p>Kontekstnya begini: Volvo punya rencana merilis belasan model baru sampai 2030, termasuk mobil listrik yang menyasar segmen menengah. Jadi wajar kalau nyetir otomatis versi baru ini dipasang di mobil yang benar-benar baru dari awal, bukan sekadar ditambal ke model yang sudah ada.</p>
<p>Ini pilihan yang masuk akal dari sisi teknis. Sistem Hyperion butuh sensor dan pengkabelan yang dirancang sejak tahap pengembangan bodi. Menempelkan sensor ke mobil yang sudah jadi selalu berakhir dengan kompromi, entah posisinya aneh atau kalibrasinya susah.</p>
<h2>Eyes-Off sampai Mind-Off: Bedanya Level 3 dan Level 4</h2>
<p>Kalau kamu pernah lihat istilah &#8220;eyes-off&#8221; dan &#8220;mind-off&#8221;, ini penjelasan sederhananya.</p>
<p>Eyes-off artinya mata boleh lepas dari jalan, tapi kamu harus siap ambil alih kalau sistem minta. Itu definisi Level 3 menurut standar SAE J3016. Mind-off lebih jauh lagi: kamu boleh sepenuhnya tidak memperhatikan jalan, karena tidak ada permintaan takeover dalam kondisi yang sudah ditentukan. Itu Level 4.</p>
<p>NVIDIA dan Volvo menyebut akan ada pengenalan bertahap menuju dua level itu, jadi urutannya jelas: dulu fitur tersupervisi, lalu hands-free di jalan tol dan kota, baru kemudian mata bebas.</p>
<p>Menariknya, Volvo pernah punya rencana lain. Sistem Ride Pilot yang menyasar Level 3 sempat diumumkan, tapi Volvo memutuskan menahannya setelah gagal mendapat lampu hijau regulator di Amerika Serikat. Jadi keputusan &#8220;pelan-pelan&#8221; sekarang ini bukan gaya pemasaran, tapi pelajaran dari pengalaman pahit sendiri.</p>
<p>Ada juga contoh dari BMW. Mereka sempat menawarkan Level 3 di Seri 7, lalu menariknya dan menggantinya dengan sistem Level 2++ yang harganya jauh lebih murah. Pelajaran yang sama: Level 3 itu mahal, rumit secara hukum, dan manfaatnya masih sulit dirasakan pengguna biasa.</p>
<h2>Waktu Peluncuran, Wilayah, dan Harga</h2>
<p>Reuters melaporkan teknologi ini diperkirakan muncul di mobil Volvo sebelum 2030, dan akan rilis di beberapa wilayah sekaligus. Yang menarik, China tidak termasuk di daftar awal itu, kemungkinan karena regulasi dan karena Volvo punya mitra lokal sendiri di sana.</p>
<p>Soal harga, Volvo dan NVIDIA belum memilih model bisnisnya. Alwin Bakkenes, kepala bidang software engineering Volvo, menyebut perusahaan masih menimbang apakah fitur ini akan dijual sekali bayar, langganan bulanan, atau dibundel ke varian mobil tertentu. Artinya belum ada angka yang bisa kita pakai buat menghitung.</p>
<p>CEO Volvo, Håkan Samuelsson, menyebut kesepakatan ini membuka peluang besar sekaligus menegaskan bahwa keselamatan tetap nomor satu. Jensen Huang, CEO NVIDIA, menimpali dengan nada yang santai: tidak ada alasan buat buru-buru kalau teknologinya belum benar-benar aman. Buat saya, pernyataan dua orang ini justru tanda paling jujur bahwa nyetir otomatis penuh belum jadi kenyataan tahun depan.</p>
<h2>Mercedes-Benz Ikut Gabung Sehari Kemudian</h2>
<p>Sehari setelah pengumuman Volvo dan NVIDIA, giliran Mercedes-Benz yang memperluas kerja sama dengan NVIDIA. Kombinasinya mirip: sistem operasi MB.OS dipadukan dengan Hyperion, Alpamayo Stack, dan lapisan keamanan Halos.</p>
<p>Jörg Burzer, CTO Mercedes-Benz Group, menyebut NVIDIA sebagai mitra strategis terpenting mereka di bidang nyetir otomatis, dan menyatakan keduanya bersama-sama mengembangkan sistem bantuan kemudi point-to-point perkotaan pertama untuk dunia barat.</p>
<p>Target Mercedes lebih agresif. Mereka menyiapkan aplikasi Level 4, termasuk yang disebut robolimousine, yaitu kendaraan yang mengangkut penumpang tanpa sopir dalam kondisi tertentu. Di situs resminya, Mercedes juga menargetkan navigasi perkotaan point-to-point di sejumlah kota Jerman sampai akhir 2026.</p>
<p>NVIDIA tidak berhenti di mobil. Silicon mereka juga masuk ke jaringan produksi MO360 dan infrastruktur simulasi engineering Mercedes, jadi perannya menyentuh proses pabrik sampai pengujian virtual.</p>
<h2>Kenapa Ini Tetap Penting buat Kita di Indonesia</h2>
<p>Realistis saja: mobil Level 4 tidak akan muncul di jalanan Surabaya atau Jakarta dalam waktu dekat. Infrastruktur jalan, rambu, marka, dan perilaku lalu lintas kita jauh dari kondisi yang diasumsikan sistem seperti Alpamayo.</p>
<p>Tapi bukan berarti cerita ini tidak relevan. Ada tiga hal yang menurut saya layak diperhatikan.</p>
<p>Pertama, arah industri chip otomotif makin terpusat ke segelintir pemain. Volvo, Mercedes-Benz, BYD, Geely, Isuzu, sampai Nissan berjalan di atas arsitektur yang sama. Ketika sebagian besar produsen memakai otak yang sama, pembedaannya pindah ke kualitas sensor, perangkat lunak, dan data lokal.</p>
<p>Kedua, harga fitur ADAS di mobil kelas menengah Indonesia kemungkinan ikut terpengaruh. Fitur seperti adaptive cruise control dan lane centering sekarang sudah muncul di mobil Rp300 jutaan. Kalau platform Hyperion nantinya bisa dipakai lintas model, biaya pengembangannya lebih cepat turun.</p>
<p>Ketiga, regulasi. Volvo tertahan karena masalah izin di Amerika. Di Indonesia, aturan soal tanggung jawab hukum ketika sistem yang mengemudi bikin masalah masih belum jelas. Selama belum ada kerangka itu, produsen mana pun hanya berani sampai Level 2, maksimal.</p>
<h2>Jadi, Seberapa Dekat Kita ke Mobil Tanpa Sopir?</h2>
<p>Kesepakatan Volvo dan NVIDIA ini bukan gebrakan viral. Yang mereka lakukan lebih mirip langkah besar yang disiapkan pelan-pelan: teknologi dirilis di mobil baru, keamanan dibuat berlapis, dan tanggal muluk sengaja tidak dijanjikan. Kalau kamu menunggu mobil yang bisa bobok sambil jalan, jawabannya masih belum, dan orang-orang yang paling paham teknologinya justru yang paling berhati-hati soal itu.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/16/tesla-roadster-generasi-baru-pendorong-spacex/">Tesla Roadster Generasi Baru Resmi Dipamerkan: Bisa Terbalik di Dinding dan Lompat Pakai Pendorong SpaceX</a></p>
<h2>Pertanyaan yang Sering Muncul</h2>
<p><strong>Apakah mobil Volvo bisa nyetir sendiri sepenuhnya?</strong><br />Belum. Tahap awalnya masih tersupervisi, di mana pengemudi tetap bertanggung jawab. Level 4 direncanakan bertahap setelah semua pengujian keamanan selesai.</p>
<p><strong>Kapan bisa dibeli di Indonesia?</strong><br />Belum ada tanggal resmi. Volvo menargetkan sebelum 2030 untuk beberapa wilayah, dan Indonesia belum disebut dalam daftar awalnya.</p>
<p><strong>Apa bedanya Hyperion, Halos, dan Alpamayo?</strong><br />Hyperion adalah kerangka sensor dan komputer, Halos adalah lapisan keamanan dengan jalur cadangan, dan Alpamayo adalah software yang menjalankan fungsi mengemudinya.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/15/microsoft-maia-300-resmi-meluncur-chip-ai-288-gb-hbm4-dan-klaim-7-kali-lipat-per-rack/">Microsoft Maia 300 Resmi Meluncur: Chip AI 288 GB HBM4 dan Klaim 7 Kali Lipat per Rack</a></p>
<h2>Sumber</h2>
<p>1. <a href="https://nvidianews.nvidia.com/news/volvo-cars-and-nvidia-expand-partnership-to-advance-safe-automated-driving" target="_blank" rel="noopener">NVIDIA Newsroom &#8211; Volvo Cars and NVIDIA Expand Partnership to Advance Safe Automated Driving</a><br />
2. <a href="https://nvidianews.nvidia.com/news/mercedes-benz-and-nvidia-expand-strategic-partnership-to-advance-safe-highly-automated-driving-in-the-next-decade" target="_blank" rel="noopener">NVIDIA Newsroom &#8211; Mercedes-Benz and NVIDIA Expand Strategic Partnership</a><br />
3. <a href="https://thenextweb.com/news/mercedes-benz-volvo-nvidia-self-driving" target="_blank" rel="noopener">The Next Web &#8211; Mercedes-Benz and Volvo will build their next driving systems on Nvidia</a><br />
4. <a href="https://www.digitaltoday.co.kr/en/view/115405/volvo-teams-up-with-nvidia-to-develop-next-generation-assisted-driving-system" target="_blank" rel="noopener">DigitalToday &#8211; Volvo teams up with Nvidia for next-generation assisted driving</a><br />
5. <a href="https://group.mercedes-benz.com/technology/autonomous-driving/" target="_blank" rel="noopener">Mercedes-Benz Group &#8211; Autonomous Driving</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Samsung Galaxy A18 Resmi Dijual di Indonesia: Harga Mulai Rp 4,3 Juta, Chip Beda dari Versi Eropa</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/17/samsung-galaxy-a18-indonesia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Oct 2026 02:05:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Galaxy]]></category>
		<category><![CDATA[Galaxy A]]></category>
		<category><![CDATA[Galaxy AI]]></category>
		<category><![CDATA[Gemini AI]]></category>
		<category><![CDATA[Harga Smartphone]]></category>
		<category><![CDATA[MediaTek]]></category>
		<category><![CDATA[One UI 9]]></category>
		<category><![CDATA[Samsung]]></category>
		<category><![CDATA[Smartphone]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/17/samsung-galaxy-a18-indonesia/</guid>

					<description><![CDATA[Samsung Galaxy A18 4G resmi dijual di Indonesia mulai Rp 4.299.000. Chip Helio G99+ beda dari versi Eropa, layar AMOLED 90 Hz, dan update OS 6 tahun.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>HP kelas menengah terbaru Samsung akhirnya mendarat di Indonesia. <strong>Samsung Galaxy A18</strong> resmi dijual di Tanah Air mulai 16 Oktober 2026, dengan harga awal Rp 4.299.000. Yang menarik, versi yang masuk sini bukan sekadar salinan versi Eropa. Samsung mengganti chipsetnya, dan alasannya cukup masuk akal: harga komponen memori sedang naik, jadi mereka cari jalan supaya banderol HP-nya tetap terjangkau.</p>
<p>Saya sendiri cukup penasaran dengan langkah Samsung kali ini. Pasar HP Indonesia tahun ini memang sedang tidak santai, dan Samsung Galaxy A18 datang tepat di tengah gejolak itu. Peningkatan dibanding generasi sebelumnya ada di RAM, ketahanan bodi, dan versi software, tapi yang paling banyak dibahas orang justru pilihan chipsetnya.</p>
<h2>Spesifikasi Samsung Galaxy A18: Harga Mulai Rp 4,3 Juta</h2>
<p>Ada dua varian yang dijual resmi di Indonesia, dan selisih harganya lumayan:</p>
<ul>
<li><strong>4 GB RAM / 128 GB</strong> — Rp 4.299.000</li>
<li><strong>8 GB RAM / 128 GB</strong> — Rp 5.299.000</li>
</ul>
<p>Spesifikasi lainnya:</p>
<ul>
<li>Layar Super AMOLED 6,7 inci, resolusi FHD+, desain Infinity-U, refresh rate 90 Hz</li>
<li>Chipset MediaTek Helio G99 Plus</li>
<li>RAM LPDDR5 (naik dari LPDDR4 di Galaxy A17 4G)</li>
<li>Penyimpanan internal 128 GB, bisa diperluas lewat microSD</li>
<li>Baterai 5.000 mAh dengan pengisian cepat 25W</li>
<li>Kamera belakang tiga: 50 MP (f/1.8, autofocus), ultrawide 5 MP, dan makro 2 MP</li>
<li>Kamera depan 13 MP</li>
<li>Sertifikasi IP64, tahan debu dan cipratan air dari segala arah</li>
<li>Keamanan Samsung Knox Vault</li>
<li>Bobot 196 gram, tebal 7,7 mm</li>
<li>Warna: Silver, Light Blue, dan Black</li>
</ul>
<p>Kalau dibanding Galaxy A17 4G, peningkatan paling terasa ada di RAM, sertifikasi tahan air, dan versi software. Samsung klaim chip Helio G99 Plus bikin performa Samsung Galaxy A18 naik sampai 20 persen dibanding generasi sebelumnya.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/13/penjualan-smartphone-global-anjlok-20-persen-kuartal-iii-2026/">Penjualan Smartphone Global Anjlok 20 Persen di Kuartal III 2026, Harga HP di Indonesia Ikut Naik</a></p>
<h2>Chip Samsung Galaxy A18 Versi Indonesia Beda dari Eropa: Helio G99+ vs Exynos 1610</h2>
<p>Ini bagian yang paling sering ditanyakan orang di kolom komentar berita teknologi, jadi saya bahas agak panjang. Unit yang dijual di Eropa pakai chip Exynos 1610 buatan Samsung sendiri. Sementara Samsung Galaxy A18 yang dijual di Indonesia pakai MediaTek Helio G99 Plus.</p>
<p>Menurut Very Octavianus dari Samsung Electronics Indonesia, pilihan itu bukan kebetulan. Chip Helio G99 Plus dipakai sebagai strategi Samsung untuk kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, guna menyiasati harga HP yang makin mahal akibat kelangkaan memori. Jadi soal chip di sini bukan cuma cerita performa, tapi juga soal hitung-hitungan biaya supaya harga jualnya tetap bisa diterima pasar lokal. Saya pikir ini keputusan yang jujur, dan mereka terbuka soal alasannya.</p>
<p>Soal performa, Helio G99 Plus sebenarnya sudah familiar. Chip ini sempat dipakai di beberapa HP kelas menengah tahun lalu, dan reputasinya lumayan stabil untuk pemakaian harian. Bukan chip untuk main game berat di setelan maksimal, tapi cukup untuk media sosial, video, dan game casual. Kalau kamu butuh HP yang lebih kencang untuk gaming, ada pilihan lain yang harganya sedikit berbeda, seperti <a href="https://preset.id/2026/10/16/redmagic-12-pro-plus-harga-game-steam/">RedMagic 12 Pro Plus</a> yang memang didesain untuk kebutuhan itu.</p>
<h2>Layar, Kamera, dan Baterai untuk Pemakaian Harian</h2>
<p>Layar Super AMOLED 6,7 inci dengan refresh rate 90 Hz adalah nilai jual utama Samsung Galaxy A18 di kelasnya. Panel AMOLED di harga Rp 4 jutaan masih cukup jarang, apalagi dengan resolusi FHD+. Buat nonton video dan scrolling media sosial, tampilannya bakal terasa lebih enak dibanding layar LCD biasa.</p>
<p>Konfigurasi kameranya standar kelas menengah: sensor utama 50 MP yang jadi tulang punggung, ditemani ultrawide 5 MP dan makro 2 MP. Kamera makro 2 MP ini jujur saja jarang saya pakai, tapi ada baiknya daripada tidak ada sama sekali. Kamera depan 13 MP cukup untuk video call dan selfie.</p>
<p>Baterai 5.000 mAh dengan pengisian 25W sudah jadi standar aman. Untuk pemakaian normal, satu hari penuh seharusnya bisa dilewati tanpa mencari colokan. Yang berubah dari generasi sebelumnya adalah sertifikasi IP64, naik dari IP54 di Galaxy A17 4G. Artinya ponsel ini lebih tenang dibawa saat hujan ringan atau kena cipratan air.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/14/aiseal-android-17-brankas-ai-lokal/">AISeal Android 17: Brankas AI Lokal yang Cuma Dapat HP Mahal</a></p>
<h2>One UI 9 dan Janji Update Software Enam Tahun</h2>
<p>Ini yang menurut saya paling layak dipertimbangkan. Samsung Galaxy A18 sudah menjalankan Android 17 dengan One UI 9 langsung dari kotaknya. Pengguna tidak perlu menunggu update besar pertama, dan itu artinya ponsel ini sudah punya fitur terbaru sejak hari pertama pemakaian.</p>
<p>Samsung juga menjanjikan enam generasi pembaruan sistem operasi plus pembaruan keamanan sampai akhir Oktober 2032. Untuk HP seharga Rp 4 jutaan, komitmen selama itu bukan hal kecil. Kalau kamu tipe orang yang ganti HP setiap empat atau lima tahun sekali, jaminan ini yang bikin ponsel tetap aman dipakai jangka panjang.</p>
<p>Di sisi AI, Galaxy A18 mengandalkan integrasi Google Gemini untuk kebutuhan seperti mencari informasi, merangkum, atau mengedit foto. Fitur AI on-device yang lebih canggih masih terbatas di HP mahal, seperti yang kita bahas soal brankas AI lokal di Android 17. Jadi ekspektasi soal AI di sini sebaiknya disesuaikan dengan kelas harganya.</p>
<h2>Bonus Pembelian dan Skema Cicilan</h2>
<p>Untuk periode penjualan perdana, Samsung menyiapkan paket bonus senilai hingga Rp 927.000. Isinya travel adapter 25W, earphone, clear case, dan paket data AXIS 300 GB.</p>
<p>Selain bonus, ada opsi cicilan mulai Rp 300 ribuan per bulan dengan bunga 0 persen dan DP 0 persen lewat multifinancing. Skema seperti ini memang jadi cara paling umum orang Indonesia membeli HP kelas menengah, jadi wajar Samsung menyiapkannya sejak awal.</p>
<h2>Buat Siapa Samsung Galaxy A18?</h2>
<p>Kalau kamu cari HP dengan layar AMOLED bagus, software terbaru, dan jaminan update panjang dengan harga di bawah Rp 5 juta, Samsung Galaxy A18 masuk daftar pertimbangan. Buat pelajar, pekerja kantoran, atau orang tua yang butuh ponsel awet, kombinasi ini cukup masuk akal.</p>
<p>Tapi kalau prioritas kamu adalah performa gaming atau baterai super besar, ada pilihan lain di rentang harga serupa. Contohnya <a href="https://preset.id/2026/10/06/oppo-a7-pro-series-5g-baterai-10000-mah/">OPPO A7 Pro Series 5G</a> yang mengandalkan baterai 10.000 mAh. Pilihannya kembali ke kebutuhan masing-masing, bukan soal mana yang paling hebat secara umum.</p>
<p>Yang jelas, keputusan Samsung memakai chip berbeda untuk Indonesia menunjukkan mereka serius menjaga harga tetap kompetitif. Kita lihat saja apakah pasar merespons positif, mengingat penjualan HP global sedang lesu dan harga komponen terus menekan margin produsen.</p>
<h2>Pertanyaan yang Sering Muncul</h2>
<p><strong>Kapan Samsung Galaxy A18 mulai dijual di Indonesia?</strong><br />Resmi tersedia mulai 16 Oktober 2026.</p>
<p><strong>Berapa harganya?</strong><br />Rp 4.299.000 untuk varian 4 GB/128 GB dan Rp 5.299.000 untuk 8 GB/128 GB.</p>
<p><strong>Apa bedanya dengan versi Eropa?</strong><br />Versi Eropa memakai chip Exynos 1610, versi Indonesia memakai MediaTek Helio G99 Plus.</p>
<p><strong>Apakah dapat update Android jangka panjang?</strong><br />Ya, enam generasi pembaruan OS dan pembaruan keamanan sampai Oktober 2032.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <a href="https://inet.detik.com/consumer/d-8705117/ini-harga-dan-spesifikasi-samsung-galaxy-a18-di-indonesia" target="_blank" rel="noopener">detikINET</a>, <a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/10/13/12140717/samsung-galaxy-a18-4g-resmi-di-indonesia-beda-chip-harga-mulai-rp-4-jutaan" target="_blank" rel="noopener">Kompas Tekno</a>, <a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/09/16/06575627/samsung-galaxy-a18-4g-meluncur-pakai-chip-exynos-baru-dan-one-ui-9" target="_blank" rel="noopener">Kompas Tekno (versi Eropa)</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tesla Roadster Generasi Baru Resmi Dipamerkan: Bisa Terbalik di Dinding dan Lompat Pakai Pendorong SpaceX</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/16/tesla-roadster-generasi-baru-pendorong-spacex/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2026 08:36:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Elon Musk]]></category>
		<category><![CDATA[Mobil Listrik]]></category>
		<category><![CDATA[Mobil Sport]]></category>
		<category><![CDATA[Mobil Terbang]]></category>
		<category><![CDATA[Otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[SpaceX]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi SpaceX]]></category>
		<category><![CDATA[Tesla]]></category>
		<category><![CDATA[Tesla Roadster]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/16/tesla-roadster-generasi-baru-pendorong-spacex/</guid>

					<description><![CDATA[Tesla Roadster generasi baru resmi dipamerkan di Texas. Bisa menempel terbalik di lintasan dan salto di udara pakai pendorong gas dingin SpaceX. Produksi mulai 2028.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sembilan tahun setelah prototipe pertamanya dipamerkan, <strong>Tesla Roadster</strong> generasi baru akhirnya benar-benar dibuka selubungnya. Elon Musk dan tim Tesla menggelar acaranya di lokasi pengujian SpaceX di McGregor, Texas, Kamis lalu, dan yang ditunjukkan bukan cuma mobil listrik yang cepat. Mobil ini bisa menempel terbalik di lintasan miring, melompat, lalu berputar di udara sebelum mendarat lagi.</p>
<p>Buat yang cuma kenal Tesla dari Model 3 atau Model Y, Roadster itu kelas yang beda. Ini mobil sport dua kursi yang dijanjikan sejak 2017, dengan janji pengiriman yang terus mundur. Versi terbaru yang dipamerkan pekan ini masih memakai konsep yang sama, tapi kali ini Tesla serius membawa teknologi roket ke jalanan.</p>
<h2>Demo Tesla Roadster di Texas: Naik Dinding Lalu Salto di Udara</h2>
<p>Peragaan dibuka dengan Roadster menanjak di lintasan melengkung sampai badannya berhenti dalam posisi terbalik, tegak lurus dengan tanah. Menurut Wakil Presiden Engineering Kendaraan Tesla, Lars Moravy, kemampuan itu datang dari sistem kipas isap yang bisa menghasilkan daya hisap sampai 2G. Udara di bawah mobil diisap keluar, lalu disegel, jadi bodinya benar-benar menempel ke lintasan.</p>
<p>Mobilnya kemudian mundur menuruni lintasan, melesat naik lagi, berguling di udara, dan mendarat dengan bantuan pendorong gas dingin. Ada juga demo lain, di mana Roadster melompati barisan kendaraan Tesla, termasuk Tesla Semi yang tingginya 4,1 meter. Di kursi pengemudi, robot Optimus sempat duduk tenang. Itu murni buat panggung, karena seluruh atraksinya memang sudah diprogram ke mobilnya, bukan improvisasi pengemudi.</p>
<p>Yang perlu dicatat, sebagian adegan itu adalah rekaman B-roll yang direkam terpisah, bukan aksi langsung di depan penonton. Jadi lihatnya sebagai demonstrasi kemampuan teknis, bukan uji jalan biasa.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/06/15/spacex-ipo-elon-musk-resmi-jadi-triliuner-pertama-dunia-lewat-bursa-nasdaq/">SpaceX IPO: Elon Musk Resmi Jadi Triliuner Pertama Dunia Lewat Bursa Nasdaq</a></p>
<h2>Pendorong Gas Dingin SpaceX di Balik Aksi Tesla Roadster</h2>
<p>Bagian paling menarik dari mobil ini bukan motornya, tapi pendorongnya. Tesla memakai empat thruster di bagian belakang yang teknologinya digarap bareng SpaceX. Lewat akun X resminya, Tesla menulis kalau SpaceX sudah puluhan tahun memakai pendorong untuk mengatur posisi wahana antariksa. Bedanya, kali ini alat itu harus bekerja di kendaraan, bukan di ruang hampa, jadi perangkat keras dan sistem kendalinya harus benar-benar baru.</p>
<p>Thruster ini memakai aktuator elektrik, jadi daya dorongnya bisa diatur sangat presisi. Tesla menyebut sistemnya mampu melakukan penyesuaian mikro dalam sepersekian detik, cukup buat mengoreksi posisi mobil saat sedang melayang. Gaya dorong yang dihasilkan kabarnya empat sampai lima kali lipat lebih besar dari gaya cengkeram ban.</p>
<p>Uniknya, bahan dorongnya bukan bahan bakar roket. Setiap ruang kosong yang bisa dipakai di dalam mobil diisi tabung bertekanan yang dibungkus serat karbon alias COPV. Makin banyak gas yang dibawa, makin lama mobilnya bisa bertahan di udara. Jadi konsepnya lebih mirip botol angin terkompresi daripada mesin roket.</p>
<h2>Tiga Versi Tesla Roadster dan Besaran Depositnya</h2>
<p>Tesla menyiapkan tiga versi, dan semuanya belum punya harga resmi. Yang diumumkan baru angka deposit, seperti dilaporkan Reuters.</p>
<ul>
<li><strong>Performance</strong>: versi dua kursi yang disebut siap jalan raya. Ada active aerodynamics dan multi-mode suction system, dengan akselerasi 0-60 mph di bawah 1,6 detik. Depositnya US$50.000, sekitar Rp902 juta (kurs Rp18.051).</li>
<li><strong>Thrust</strong>: versi siap balap dengan tambahan pendorong gas dingin di belakang. Akselerasinya turun ke bawah 0,9 detik untuk 0-60 mph. Depositnya US$250.000 atau sekitar Rp4,5 miliar.</li>
<li><strong>Rocket</strong>: versi satu kursi dengan thruster yang dipasang mengelilingi bodi, jadi bisa bergerak naik dan berotasi. Klaim Tesla, 0-60 mph tembus di bawah 0,59 detik. Versi ini hanya bisa dipesan lewat undangan.</li>
</ul>
<p>Di halaman pemesanan Tesla, calon pembeli diminta membayar US$5.000 pakai kartu, lalu mentransfer sisanya sebesar US$45.000 dalam 10 hari. Untuk versi termahal, angkanya jelas bukan buat yang cuma kepincut lihat videonya.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/10/05/project-suncatcher-google-chip-ai-tpu-di-orbit/">Project Suncatcher Google: Chip AI TPU Dikirim ke Orbit Buat Uji Data Center Luar Angkasa</a></p>
<h2>Spesifikasi Tesla Roadster: 0-96 Km/Jam dalam 0,81 Detik</h2>
<p>Soal angka, Tesla tidak main-main. Empat pendorong di belakang diklaim membuat Roadster berakselerasi dari 0 ke 96 km/jam dalam 0,81 detik. Musk juga menyebut kecepatan puncaknya di atas 370 km/jam. Sebagai gambaran, supercar konvensional butuh sekitar 2,4 detik untuk mencapai kecepatan yang sama.</p>
<p>Ada satu detail yang bikin saya senyum sendiri: saat masuk Track Mode, sayap belakang mobil digerakkan oleh aktuator yang sama seperti yang dipakai robot Optimus. Tesla juga mengklaim paket downforce pasif mobil ini yang terbaik di antara mobil jalan raya, bahkan mendekati level Formula 1. Masuk akal, karena dengan thruster di badan, mobil ini butuh cengkeram ekstra supaya tidak malah terangkat.</p>
<h2>Produksi Baru Mulai 2028, Sembilan Tahun Setelah Debut</h2>
<p>Ini bagian yang paling bikin penggemar geregetan. Konsep Roadster pertama kali muncul November 2017, dan saat itu Tesla menjanjikan pengiriman mulai 2020. Nyatanya jadwalnya mundur berkali-kali, sempat ke 2025, lalu Musk di rapat pemegang saham November 2025 bilang produksinya 2027 dengan peluncuran versi produksi pada April 2026. Peluncuran itu akhirnya bergeser ke Oktober 2026, dan di acara Kamis lalu Musk menyebut produksi baru dimulai 2028.</p>
<p>Artinya, jarak dari prototipe pertama ke produksi massal tembus sembilan tahun. Bagi perusahaan otomotif biasa, itu jadwal yang sulit dipercaya. Buat Tesla, itu sudah jadi pola.</p>
<h2>Kenapa Tesla Tetap Menggarap Mobil Ini?</h2>
<p>Roadster bukan produk yang ditargetkan laku ratusan ribu unit. Volumenya kecil, depositnya mahal, dan dua dari tiga versinya jelas bukan mobil harian. Yang dicari Tesla lebih ke efek lain: menunjukkan kalau teknologi mereka bisa, sekaligus menjaga nama Tesla sebagai perusahaan yang anehnya selalu bikin orang membicarakan mereka.</p>
<p>Momennya juga menarik. Tesla sekarang sedang sibuk dengan robotaxi, robot Optimus, dan bisnis energi. Di tengah semua itu, Roadster hadir sebagai pajangan kemampuan engineering, cara bilang kalau tim mereka masih bisa membuat sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. Dan cara paling gampang membuat orang ingat itu ya dengan menerbangkan mobil di depan kamera.</p>
<h2>Yang Masih Jadi Tanda Tanya</h2>
<p>Sejumlah hal masih belum jelas. Harga resmi ketiga versi tidak diumumkan, cuma depositnya. Legalitas pendorong gas di jalan umum juga belum diatur di banyak negara, jadi versi Rocket kemungkinan besar akan tetap jadi mainan lintasan tertutup. Tesla juga belum menjelaskan berapa banyak gas yang bisa dibawa dan berapa lama mobilnya bisa melayang sebelum isi tabungnya habis.</p>
<p>Dan tentu saja, jadwal 2028 itu belum ada yang bisa menjamin. Tapi setidaknya kali ini kita bukan cuma lihat render. Kita sudah lihat mobilnya benar-benar melayang, walaupun dengan bantuan kamera dan panggung.</p>
<p><strong>Sumber:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://www.antaranews.com/berita/5790841/tesla-pamerkan-roadster-generasi-terbaru-dengan-pendorong-gas-dingin" target="_blank" rel="noopener">ANTARA</a>: Tesla pamerkan Roadster generasi terbaru dengan pendorong gas dingin</li>
<li><a href="https://www.cnnindonesia.com/otomotif/20261016104523-603-1416042/tesla-pamer-mobil-terbang-pakai-pendorong-gas-spacex" target="_blank" rel="noopener">CNN Indonesia</a>: Tesla Pamer Mobil Terbang Pakai Pendorong Gas SpaceX</li>
<li><a href="https://www.tesla.com/roadster" target="_blank" rel="noopener">Tesla</a>: halaman resmi Roadster</li>
<li><a href="https://eletric-vehicles.com/tesla/tesla-unveils-thruster-equipped-roadster-sets-production-for-2028/" target="_blank" rel="noopener">Reuters (via Electric-Vehicles)</a>: Tesla Unveils Thruster-Equipped Roadster, Sets Production for 2028</li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RedMagic 12 Pro+ Resmi Meluncur: Bisa Main Game Steam di HP, Harga Mulai Rp17 Jutaan</title>
		<link>https://preset.id/2026/10/16/redmagic-12-pro-plus-harga-game-steam/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2026 02:23:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gaming]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[HP Gaming]]></category>
		<category><![CDATA[Nubia]]></category>
		<category><![CDATA[RedMagic]]></category>
		<category><![CDATA[Smartphone Gaming]]></category>
		<category><![CDATA[Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6]]></category>
		<category><![CDATA[Steam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/10/16/redmagic-12-pro-plus-harga-game-steam/</guid>

					<description><![CDATA[RedMagic 12 Pro+ resmi rilis di China bawa Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6, layar 185Hz tanpa lubang kamera, baterai 8.400 mAh, dan emulator PC buat main game Steam.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>RedMagic 12 Pro+ resmi meluncur di China, Kamis (15/10/2026). Ponsel gaming terbaru Nubia ini bawa satu kejutan yang agak di luar kebiasaan: emulator PC bawaan yang bisa menjalankan game Steam langsung dari HP, tanpa perlu nyalain laptop atau PC.</p>
<p>Nubia sempat mendemokan fitur ini saat peluncuran. Far Cry 3 jalan di 120 fps, sementara Tomb Raider 9 dapat 60,1 fps. Yang belum disebutkan, setelan grafis apa yang dipakai di kedua game itu.</p>
<p>Emulator PC-nya juga sudah diperbarui. Sekarang ada integrasi Steam Workshop, pengaturan tombol yang bisa dikustom, sampai pelacakan achievement alias pencapaian game. Cuma, Nubia belum menjelaskan apakah semua judul di Steam bisa dimainkan atau hanya game tertentu yang sudah dioptimalkan. Konfigurasi tambahan per game juga masih tanda tanya.</p>
<h2>Layar 185Hz Tanpa Lubang Kamera</h2>
<p>Dari sisi tampilan, RedMagic 12 Pro+ pakai panel BOE X11 OLED 6,85 inci dengan resolusi 2.688 x 1.216 piksel dan refresh rate sampai 185Hz. Bezel-nya cuma 0,96 mm, dan layarnya benar-benar polos karena kamera selfie disembunyikan di bawah permukaan layar. Nggak ada punch-hole sama sekali.</p>
<p>Untuk urusan respons, layar ini punya touch sampling rate 500Hz dengan instantaneous touch sampling sampai 5.000Hz. Panelnya mendukung 10-bit color, kecerahan global 1.900 nits, dan puncak lokal sampai 5.000 nits. Ada juga PWM dimming 2.592Hz di kecerahan rendah plus DC-like dimming di kecerahan tinggi, jadi mata nggak gampang capek buat main lama-lama.</p>
<p>Fitur gaming lain yang masih dipertahankan: trigger bahu L1/R1 dengan respons sentuh 700Hz, speaker stereo simetris 1115E, dan jack audio 3,5 mm. Dua hal terakhir ini sekarang mulai langka di HP flagship, jadi wajar kalau RedMagic tetap mempertahankannya.</p>
<h2>Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6 dan Skor AnTuTu 5,6 Juta</h2>
<p>Dapur pacunya adalah Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6, chip 2 nm buatan TSMC dengan CPU yang disebut menembus 5 GHz dan GPU Adreno 850. Qualcomm sudah resmi meluncurkan chip ini bulan lalu, lengkap dengan varian Extreme-nya.</p>
<p>Nubia menambahkan dua chip pendamping: RedCore R5 untuk urusan gaming dan chip kontrol layar G1. Kombinasi ini yang menangani pengaturan sentuhan, efek pencahayaan, pelacakan frame, sampai peningkatan resolusi gambar.</p>
<p>Soal angka benchmark, RedMagic mengklaim skornya 5.670.006 poin di AnTuTu. Memori yang dipakai LPDDR5T dengan kecepatan transfer sampai 10.667 Mbps, sementara penyimpanannya UFS 4.1 Pro. Ada juga fitur super-resolution dan frame interpolation yang bisa jalan bersamaan sampai resolusi 2K di 185Hz untuk game yang mendukung.</p>
<p>Baca juga: <a href="https://preset.id/2026/09/23/snapdragon-8-elite-gen-6-chip-2nm-qualcomm/">Snapdragon 8 Elite Gen 6 Resmi Meluncur: Chip 2nm Pertama Qualcomm, Ada Varian Extreme</a></p>
<h2>Baterai 8.400 mAh dan Pendingin Cair RGB</h2>
<p>Buat main game marathon, RedMagic 12 Pro+ dibekali baterai 8.400 mAh. Pengisian dayanya 120W lewat kabel dan 80W nirkabel. Ada juga bypass charging, jadi HP bisa ditenagai langsung dari adaptor saat dipakai main, tanpa harus ngecas baterainya. Cara ini membantu suhu tetap adem dan baterai nggak cepat aus.</p>
<p>Sistem pendinginnya bernama ICE Magic Cooling. Di dalamnya ada kipas aktif yang berputar sampai 25.500 rpm dipadukan dengan sistem pendingin cair. Bagian pendingin ini punya rating IPX8, sementara bodi HP-nya sudah IP68 dan IP69. Nubia menyebut ini sebagai sistem pendingin cair RGB pertama di industri, dan kipasnya masih bisa terlihat lewat panel transparan di punggung HP.</p>
<p>Kamera belakangnya terdiri dari sensor utama 50 MP dengan OIS dan kamera ultrawide 50 MP. Kamera depannya 16 MP buatan OmniVision, diletakkan di bawah layar. Fitur lain yang ikut dipasang: sensor sidik jari ultrasonik di layar, Wi-Fi 7, Bluetooth 5.3, NFC, IR blaster, USB 3.2 Gen 2, dan tiga mikrofon. Sistem operasinya RedMagic OS 12 berbasis Android 17.</p>
<p>Baca juga: <a href="https://preset.id/2026/09/30/iqoo-16-baterai-8400-mah-snapdragon-8-elite-extreme/">iQOO 16 Resmi Meluncur: Baterai 8.400 mAh, Layar 165Hz, Snapdragon 8 Elite Extreme Gen 6</a></p>
<h2>Harga RedMagic 12 Pro+</h2>
<p>Di China, RedMagic 12 Pro+ dijual dalam tiga pilihan warna: Dark Night Transparent, Silver Wing Transparent, dan Ice Blue Transparent. Harga resminya:</p>
<ul>
<li>12 GB + 256 GB: 6.999 yuan (sekitar 1.050 dolar AS)</li>
<li>16 GB + 512 GB: 7.999 yuan (sekitar 1.200 dolar AS)</li>
<li>16 GB + 1 TB: 8.999 yuan (sekitar 1.350 dolar AS)</li>
</ul>
<p>Kalau dikonversi ke rupiah, varian termurah setara Rp 17 jutaan. Nubia juga sempat memamerkan edisi terbatas Golden Saga dengan RAM 24 GB, penyimpanan 1 TB, dan desain pendingin forged carbon. Harga dan tanggal rilisnya belum diumumkan.</p>
<p>Yang perlu dicatat, belum ada konfirmasi soal ketersediaan internasional. Jadi belum bisa dipastikan kapan atau apakah HP ini masuk ke Indonesia. Melihat pola RedMagic beberapa tahun terakhir, versi global biasanya menyusul beberapa bulan setelah peluncuran di China, tapi itu masih sekadar dugaan.</p>
<p>Baca juga: <a href="https://preset.id/2026/10/01/infinix-gt-nx-controller-station-harga-indonesia/">Infinix GT NX Resmi Meluncur di Indonesia: Controller FPS Presisi dan Dock Pendingin TEC</a></p>
<h2>Kenapa Ini Penting?</h2>
<p>Selama ini, HP gaming selalu dinilai dari seberapa kencang chipset-nya. RedMagic 12 Pro+ mencoba menggeser pertanyaan itu ke arah lain: bukan cuma kencang, tapi bisa buat apa. Emulator PC yang bisa main game Steam itu menarik, meski masih perlu dibuktikan apakah lancar untuk berbagai judul atau hanya game lawas yang ringan.</p>
<p>Kabar baiknya, dari sisi hardware, fondasinya sudah kuat. Chip 2 nm, RAM LPDDR5T, baterai 8.400 mAh, dan pendingin cair aktif adalah kombinasi yang cukup serius untuk HP sekelas ini. Tinggal tunggu versi globalnya, sekaligus harga resminya kalau benar-benar masuk Indonesia.</p>
<p><strong>Sumber:</strong> <a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/10/16/07580077/hp-gaming-redmagic-12-pro-plus-resmi-bisa-main-game-pc-steam" rel="nofollow noopener" target="_blank">Kompas Tekno</a>, <a href="https://www.gizmochina.com/2026/10/15/red-magic-12-pro-plus-launched-price-specs/" rel="nofollow noopener" target="_blank">Gizmochina</a>, <a href="https://www.topik.id/red-magic-12-pro-plus-meluncur-dengan-snapdragon-8-elite-dan-baterai-8-400-mah" rel="nofollow noopener" target="_blank">Topik.id</a></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
