<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kecerdasan Buatan &#8211; Preset</title>
	<atom:link href="https://preset.id/tag/kecerdasan-buatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://preset.id</link>
	<description>Insight cepat, tajam, dan relevan seputar teknologi, entertainment, dan lifestyle.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Sep 2026 02:09:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1</generator>

<image>
	<url>https://preset.id/wp-content/uploads/2026/02/preset-favicon-512-150x150.png</url>
	<title>Kecerdasan Buatan &#8211; Preset</title>
	<link>https://preset.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Fenomena AI Cleanup: Freelancer Kebanjiran Job Bereskan Sampah AI</title>
		<link>https://preset.id/2026/09/08/ai-cleanup-freelancer-bereskan-sampah-ai/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Davina]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2026 02:08:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[AI]]></category>
		<category><![CDATA[ChatGPT]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Grafis]]></category>
		<category><![CDATA[Freelancer]]></category>
		<category><![CDATA[Kecerdasan Buatan]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan Digital]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://preset.id/2026/09/08/ai-cleanup-freelancer-bereskan-sampah-ai/</guid>

					<description><![CDATA[Pekerjaan AI cleanup lagi naik daun. Freelancer kebanjiran job buat beresin hasil AI yang belum layak pakai, dari gambar cacat sampai tulisan kaku. Data Freelancer.com, Upwork, dan Fiverr nunjukin tren ini makin gede.]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Bayangin kamu kerja di bidang desain, tapi job yang masuk bukan bikin karya baru, melainkan <strong>beresin hasil AI yang berantakan</strong>. Itulah keseharian segelintir freelancer sekarang. Fenomena ini dikenal sebagai <strong>AI cleanup</strong>, pekerjaan baru yang lagi naik daun karena banyak perusahaan pakai AI buat bikin konten, lalu sadar hasilnya belum layak pakai.</p>
<p>KompasTekno baru-baru ini menyoroti tren ini, merangkum laporan The Guardian yang terbit awal September 2026. Angkanya bikin melongo: lowongan dengan kata kunci &#8220;correct AI&#8221;, &#8220;AI hallucination&#8221;, dan &#8220;AI error&#8221; di platform Freelancer.com naik 87 persen, jadi 10.760 job secara global dalam periode Agustus 2025 sampai Juni 2026. Upwork juga mencatat kenaikan 70 persen untuk job perbaikan hasil AI, sementara pencarian layanan &#8220;AI cleanup&#8221; di Fiverr melonjak lebih dari 20 kali lipat sejak 2023.</p>
<h2>Apa Itu AI Cleanup dan &#8220;Sampah AI&#8221;?</h2>
<p>&#8220;Sampah AI&#8221; alias AI slop adalah istilah buat hasil generatif yang kualitasnya rendah: gambar yang cacat (jari kebanyakan, wajah aneh), tulisan yang kaku dan berulang, sampai video dengan animasi atau suara yang gak natural. Penyebabnya sederhana: AI bisa bikin draf dalam hitungan detik, tapi belum tentu draf itu langsung layak tayang.</p>
<p>Nah, di celah itulah <strong>AI cleanup</strong> muncul. Tugasnya bukan bikin dari nol, tapi merapikan: mempertajam gambar yang buram, membetulkan desain yang melanggar aturan merek, menghaluskan teks yang terasa robotik, sampai memperbaiki video yang fisiknya &#8220;gak masuk akal&#8221;. Singkatnya, manusia jadi tukang beres-beres di belakang mesin.</p>
<p>Menariknya, pekerjaan ini justru lahir dari gelombang AI yang tadinya ditakuti bakal mematikan profesi kreatif. Data dari studi di jurnal Management Science menunjukkan, lowongan freelance yang rentan otomatisasi memang sempat turun 21 persen dalam delapan bulan setelah ChatGPT rilis, dan job pembuatan gambar drop 17 persen setelah generator gambar AI hadir. Tapi di sisi lain, muncul kebutuhan baru: manusia yang paham desain, bahasa, dan estetika buat &#8220;menyelamatkan&#8221; keluaran AI yang jelek.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/09/04/gpt-6-astra-resmi-rilis-openai-era-agi/">GPT-6 Astra Resmi Rilis: Model AI Terbaru OpenAI dan Klaim Masuk Era AGI</a></p>
<h2>Data Lonjakan Job AI Cleanup di Platform Freelance</h2>
<p>Kalau dilihat dari data yang dibagikan ke Guardian, tren ini bukan sekadar anekdot. Berikut angka-angkanya:</p>
<ul>
<li><strong>Freelancer.com</strong>: lowongan dengan kata kunci &#8220;correct AI&#8221;, &#8220;AI hallucination&#8221;, dan &#8220;AI error&#8221; naik 87 persen menjadi 10.760 job global (Agustus 2025–Juni 2026).</li>
<li><strong>Upwork</strong>: job perbaikan hasil AI naik 70 persen secara tahunan.</li>
<li><strong>Fiverr</strong>: pencarian layanan &#8220;AI cleanup&#8221; tumbuh lebih dari 20 kali lipat antara 2023 dan 2026.</li>
</ul>
<p>Bidang yang paling banyak kena job begini: desain grafis di urutan pertama, disusul penyuntingan video, proofreading, dan penulisan konten. CEO Freelancer.com, Matt Barrie, menjelaskan bahwa kliennya kebanyakan perusahaan kecil dan entrepreneur yang pakai AI buat bikin draf pertama, lalu mentok di masalah yang gak bisa mereka bereskan sendiri. Hemat waktu di draf awal, habis lagi di tahap &#8220;memoles&#8221; yang ternyata luar biasa makan waktu.</p>
<h2>Kisah Freelancer yang Hidup dari Beresin Sampah AI</h2>
<p>Lisa, desainer grafis lepas di Spanyol, merasakan pergeseran ini sejak ChatGPT rilis 2022. Dulu dia bikin logo dan desain kemasan dari nol; sekarang 90 persen permintaan yang masuk adalah memperbaiki desain bikinan AI. Job semacam ini bahkan menyumbang 60–70 persen pendapatannya sepanjang 2025.</p>
<p>Tapi gak semuanya indah. Lisa mengaku pekerjaan itu melelahkan dan &#8220;terasa tanpa jiwa&#8221;. Banyak klien menawar rendah, padahal hasil AI yang harus diperbaiki kadang parah banget sampai harus dibuat ulang dari awal. Ada juga kekhawatiran soal hak cipta. Beberapa klien bahkan &#8220;bohong&#8221; dan mengaku karyanya bikinan manusia, padahal ada logo Gemini menempel di sudut gambar. Akhir 2025, Lisa mulai menolak job AI cleanup dan balik fokus ke desain manual. Dia juga mulai melatih diri kembali ke kanvas dan cat air, karena prediksinya dalam satu-dua tahun AI bakal bisa bikin logo sebagus manusia.</p>
<p>Cerita serupa datang dari Todd Van Linda, ilustrator lepas di Florida. Sejak 2023 dia menerima job membersihkan gambar AI: menghilangkan noise visual, menaikkan resolusi, sampai berburu glitch seperti jari kelebihan. Pernah ada klien nawar 500 dolar AS buat memperbaiki 13–15 ilustrasi AI buku anak, dengan ekspektasi tiap gambar cuma butuh 15 menit. Todd menolak. Proyek kayak gitu bisa makan waktu berjam-jam sampai berhari-hari. Akhir tahun lalu dia berhenti total dari AI cleanup dan balik ke gambar tangan. Hasilnya? Justru makin banyak klien yang datang, sebagian karena kecewa sama hasil AI.</p>
<p>Di sisi penulisan, Kym Dunbar, penulis dan editor lepas asal Australia, sekarang menghabiskan sekitar 60 persen waktunya buat merombak artikel dan buku hasil AI. Penghasilannya dari nulis konten original tinggal sepertiga dibanding masa pandemi. Sejak 2024 dia sudah menangani sekitar 40 buku nonfiksi, artikel panjang, dan paper teknis yang &#8220;dilahirkan&#8221; AI. Kym agak pesimistis soal masa depan job ini. Menurutnya, dalam 5 sampai 10 tahun model AI makin bagus dan pekerjaan humanisasi bisa mengering.</p>
<p>Ada juga Nathan McConnell, editor multimedia yang kerja lepas di sela pekerjaan tetapnya. Job edit video AI-nya naik dari 2–3 proyek di 2023 jadi 8–10 proyek tahun ini. Salah satu kliennya pernah kasih 100 gambar AI hewan humanoid buat kartu tarot, penuh jari ekstra dan kaki kiri dobel. Butuh 2–3 jam per gambar di Photoshop, dan dia berhenti setelah 10 kartu karena kondisi kesehatan. Pernah juga dia bilang ke klien: kontennya &#8220;terlalu slop&#8221;, gak ada cara buat diperbaiki. Menurut Nathan, AI tetap perlu &#8220;diawasi&#8221; karena kesalahannya sering luput dari mata yang gak terlatih.</p>
<p><strong>Baca juga:</strong> <a href="https://preset.id/2026/09/05/nubia-navix-ultra-smartphone-ai-agent-pertama/">Nubia NaviX Ultra Siap Rilis September: Smartphone AI Agent Pertama di Dunia</a></p>
<h2>Peluang atau Jebakan buat Kreator?</h2>
<p>Kalau dilihat sekilas, AI cleanup kayak berkah di tengah ancaman otomatisasi. Tapi kalau dibedah, ada beberapa hal yang bikin tren ini rapuh.</p>
<p>Pertama, nilai jualnya ditentukan oleh seberapa jeleknya AI. Begitu model generatif makin mumpuni (dan itu pasti terjadi), kebutuhan &#8220;tukang beres&#8221; otomatis menyusut. Kedua, banyak klien menganggap pekerjaan ini murah dan cepat, padahal realitanya bisa seberat bikin dari nol. Ketiga, ada risiko hukum: memperbaiki karya yang entah dibuat dari data siapa bisa bikin freelancer ikut terseret soal hak cipta.</p>
<p>Buat kamu yang kerja sebagai kreator, baik desainer, penulis, atau editor video, pelajaran dari tren ini cukup jelas. AI cleanup bisa jadi pemasukan tambahan yang lumayan sekarang, tapi jangan jadikan satu-satunya andalan. Yang lebih penting justru membangun skill yang susah ditiru AI: originalitas, taste, pemahaman konteks, dan hubungan dengan klien. Freelancer yang bertahan bukan yang paling cepat nge-print prompt, tapi yang paling bisa kasih nilai yang gak bisa diganti mesin.</p>
<h2>Kesimpulan</h2>
<p>Fenomena <strong>AI cleanup</strong> nunjukin satu hal menarik: AI gak selalu menggantikan manusia, kadang dia cuma mindahin jenis pekerjaannya. Dari bikin karya, jadi merawat karya mesin. Buat sebagian orang ini peluang emas, buat sebagian lain ini pengingat buat terus ngasah kemampuan yang murni manusiawi. Satu yang pasti: selama AI masih bisa ngaco, selama itu pula manusia masih punya pekerjaan. Tapi jangan heran kalau jendela peluangnya gak selebar sekarang.</p>
<h3>Sumber</h3>
<ul>
<li><a href="https://tekno.kompas.com/read/2026/09/08/07000007/freelancer-kebanjiran-job-untuk-bersihkan-sampah-ai-" target="_blank" rel="noopener">KompasTekno: Freelancer Kebanjiran Job untuk Bersihkan &#8220;Sampah AI&#8221;</a></li>
<li><a href="https://www.theguardian.com/technology/2026/sep/02/ai-jobs-freelance-cleanup" target="_blank" rel="noopener">The Guardian: Freelancers are getting buried with &#8216;soulless&#8217; AI slop cleanup</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
