BlackBerry dulu identik sama ponsel ber-keyboard fisik yang jadi simbol kelas pekerja kantoran. Sekarang perusahaan Kanada itu jualan hal yang gak bisa kamu pegang: software. Lewat BlackBerry QNX, mereka jadi otak di balik sistem pengereman mobil, instrumen rumah sakit, sampai robot di gudang. Dan menurut CEO John Giamatteo, robot berbasis AI adalah mesin pertumbuhan berikutnya.
Giamatteo bilang itu langsung di depan Jim Cramer, CNBC, Senin (26/10/2026). “Produk yang kami jual hari ini memang gak bisa digenggam, tapi keberadaannya ada di sekitar kamu. 275 juta mobil, robot, instansi pemerintah, alat medis, rantai pasok. Itulah BlackBerry yang baru,” katanya.
Kalimat itu kedengaran kayak marketing, tapi angkanya memang masuk akal. QNX sudah tertanam di lebih dari 275 juta kendaraan di seluruh dunia, dan divisi robotika disebut sebagai salah satu lini bisnis yang paling cepat tumbuh di dalam QNX.
Dari Ponsel ke Software: Jalan Panjang BlackBerry QNX
Buat yang cuma ingat BlackBerry sebagai merek ponsel yang tumbang, cerita ini agak mengejutkan. QNX sendiri bukan produk baru. Sistem operasi ini sudah ada sejak 1980-an, dipakai di industri yang gak toleran sama crash: reaktor, peralatan medis, sistem kontrol pabrik.
BlackBerry membeli QNX pada 2010, tepat saat era ponsel mereka mulai goyang. Keputusan itu awalnya kelihatan seperti usaha menyelamatkan diri. Lima belas tahun kemudian, justru itu yang menahan perusahaan tetap hidup.
Bedanya jauh banget sama bisnis ponsel. Dulu BlackBerry jualan ke konsumen yang ganti HP tiap dua tahun. Sekarang mereka jualan ke pabrikan mobil yang butuh software stabil selama 10-15 tahun masa pakai kendaraan. Kontraknya lebih panjang, tapi juga lebih rumit.
Di titik terburuknya, BlackBerry cuma dihargai sekitar US$5,4 miliar. Waktu masih bernama Research in Motion, kapitalisasi pasarnya pernah menyentuh hampir US$85 miliar pada 2008, setahun setelah iPhone pertama muncul. Selisihnya bukan sedikit, dan itu menjelaskan kenapa perusahaan ini butuh cerita baru.
Baca juga: Unitree H2-X: Robot Kung Fu 70 Kg yang Bisa Angkat Mobil dan Lompat 4 Meter
Apa Itu Physical AI dan Kenapa Beda dari AI Generatif
Istilah physical AI lagi naik daun, dan bedanya cukup mendasar. AI generatif kayak ChatGPT atau generator gambar bekerja di dalam layar. Output-nya teks, foto, video. Kalau salah, kamu tinggal hapus dan ulang.
Physical AI bekerja di dunia nyata. Robot yang mengangkat palet, forklift otonom, lengan pabrik yang bergerak di sebelah manusia. Kalau software-nya salah hitung, yang rusak bukan cuma file, tapi barang dan mungkin orang.
Makanya standar keamanannya beda level. Sistem operasi buat robot harus bisa menjamin respons dalam batas waktu tertentu, gak boleh freeze, dan harus tetap jalan walau satu komponen gagal. Ini wilayah yang memang sudah lama digarap BlackBerry QNX di industri otomotif, jadi lompatan ke robotika gak terlalu jauh.
Backlog Royalti BlackBerry QNX Tembus US$1,2 Miliar
Angka paling konkret datang dari pengumuman resmi 20 Oktober 2026. QNX mencatat backlog royalti lebih dari US$1,2 miliar, rekor tertinggi untuk divisi ini. Kenaikannya lebih dari US$250 juta, atau sekitar 26 persen, dibanding posisi sekitar US$950 juta di akhir tahun fiskal 2026.
Backlog di sini bukan omzet yang sudah masuk kas. Ini nilai royalti dari kontrak yang sudah menang dan diperkirakan mengalir di masa depan, saat kendaraan atau perangkat yang pakai QNX mulai diproduksi massal. Tetap saja, arah angkanya jelas.
Menurut Giamatteo ada tiga pendorong pertumbuhan. Pertama, pabrikan mobil pindah ke arsitektur komputasi yang lebih terpusat. Dulu satu mobil punya puluhan unit kontrol kecil, sekarang fungsinya digabung ke beberapa komputer besar. QNX bisa jalan di banyak domain sekaligus dalam satu kendaraan, jadi nilai software per mobil ikut naik.
Kedua, paket software mereka makin lengkap. Platform pengembangan QNX SDP 8.0 jadi pintu masuk, sementara Alloy Kore, sistem operasi otomotif baru mereka, mencetak kemenangan desain pertamanya dengan estimasi royalti masa depan lebih dari US$100 juta. Itu kemenangan desain terbesar dalam sejarah QNX.
Ketiga, permintaan dari aplikasi physical AI. Di laporan resminya, QNX menyebut robotika, otomasi industri, dan perangkat medis sebagai pasar yang mereka bidik di luar otomotif.
Baca juga: CATL Gandeng Huawei: Tukar Baterai Mobil Listrik Cuma 99 Detik, 5 Model Meluncur 2027
Nvidia Jadi Pintu Masuk ke Robot Gudang
Faktor yang mungkin paling berpengaruh justru soal kemitraan. Kerja sama BlackBerry dan Nvidia dimulai di sektor otomotif, lalu melebar. Giamatteo bilang Nvidia sekarang menstandarkan BlackBerry QNX sebagai platform pilihan untuk Halos Safety Stack, lapisan keselamatan mereka untuk sistem otonom.
Efeknya langsung ke pipeline. “Itu membuka banyak pintu, pipeline peluang yang luar biasa. Contohnya AMR (autonomous mobile robot), forklift otonom, skateboard yang mengantar palet ke dock,” ujarnya.
Contoh-contoh itu kedengaran sepele dibanding robot humanoid, tapi justru di situ uangnya. Gudang dan pabrik sudah butuh robot yang bergerak di antara manusia setiap hari, dan mereka butuh software yang sudah terbukti aman. Robot humanoid yang viral di media sosial masih jauh dari skala produksi.
Kalau kamu perhatikan, pola BlackBerry di sini konsisten: mereka gak bikin robot, mereka bikin lapisan yang membuat robot bisa dipercaya. Posisi itu mirip Android di dunia ponsel, cuma pasarnya belum ada yang menguasai.
Kenapa Pabrikan Robot Butuh Sistem Operasi Khusus
Robot otonom di gudang harus menyatukan banyak hal sekaligus: kamera, lidar, sensor jarak, motor, dan modul keselamatan. Semua data itu harus diproses dengan waktu tunda yang bisa diprediksi. Sistem operasi umum bisa jalan, tapi jaminan waktunya lemah.
QNX dibangun sebagai sistem real-time. Artinya ada batas waktu maksimal untuk setiap tugas, dan sistem tahu persis kapan harus memprioritaskan rem daripada pemutar musik. Di mobil, prioritas itu menyangkut nyawa. Di robot gudang, menyangkut keselamatan pekerja dan barang.
Selain itu ada soal sertifikasi. Produsen mobil dan alat medis butuh dokumen bukti bahwa software-nya sudah diuji sesuai standar keselamatan. Membangun itu dari nol makan bertahun-tahun. QNX sudah punya jejak dan sertifikasinya, jadi pabrikan robot tinggal menumpang.
Tantangan yang Masih Menghadang
Ada beberapa hal yang bikin cerita ini belum selesai. Pasar robotika jauh lebih terpecah dibanding otomotif. Mobil punya segelintir pabrikan raksasa, sementara robot punya ratusan pemain dengan kebutuhan berbeda-beda. Menjual software ke pasar yang pecah seperti itu lebih mahal dan lebih lambat.
Harga juga jadi pertimbangan. Robot gudang yang diproduksi ribuan unit punya margin lebih tipis dibanding mobil premium, jadi pabrikan bakal menekan biaya software. BlackBerry QNX perlu membuktikan model royaltinya tetap masuk di volume besar.
Lalu ada pesaing. Linux real-time dan berbagai sistem operasi open source terus membaik, dan sebagian pabrikan robot lebih suka membangun sendiri daripada membayar lisensi. BlackBerry juga harus menjaga reputasi keamanannya, karena QNX pernah jadi sasaran riset kerentanan dan eksploitasi di masa lalu.
Apa Artinya buat Kita
Buat kamu yang gak pernah beli saham BlackBerry, perubahan ini tetap relevan. Makin banyak robot masuk ke gudang, pabrik, dan rumah sakit di Indonesia, makin besar kemungkinan otaknya berasal dari perusahaan yang dulu kita kenal karena ponsel.
Yang menarik, transformasi ini bukan kisah comeback dramatis. BlackBerry gak kembali ke panggung ponsel, dan sepertinya memang gak berniat. Mereka pindah ke lapisan yang lebih dalam, tempat yang gak kelihatan konsumen tapi dipakai semua orang.
Kalau backlog BlackBerry QNX sebesar US$1,2 miliar itu benar-benar terkonversi jadi pendapatan, kita bakal lihat lebih banyak pengumuman robot di tahun-tahun mendatang. Dan kalau gagal, itu juga pelajaran: pindah bisnis bukan jaminan selamat, cuma satu kesempatan lagi untuk mencoba.
Sumber
- CNBC: BlackBerry CEO sees QNX growth in physical AI robots
- CNBC Indonesia: Raja HP Dunia Tenggelam, Sekarang Bangkit dan Berubah Total
- QNX Press Release: BlackBerry’s QNX Royalty Backlog Exceeds $1.2 Billion