Bayangkan kamu berhenti di sebuah kotak beton, keluar sebentar buat regangkan kaki, lalu lima menit kemudian mobilmu sudah penuh energi lagi. Bukan ngecas. Baterainya benar-benar ditukar. Itu gambaran yang mau dijual CATL dan Huawei lewat kerja sama anyar mereka: tukar baterai mobil listrik dengan target waktu 99 detik, tanpa sopir harus turun dan ngoprek apa pun.
Kesepakatannya diteken 19 Oktober 2026. Yang duduk di meja bukan cuma dua nama besar tadi, tapi juga Yinwang, unit bisnis kendaraan cerdas Huawei. Isinya sederhana kalau diringkas: sistem nyetir pintar Huawei dipasangkan ke jaringan penukaran baterai Choco-Swap milik CATL. Hasil yang dijanjikan, mobil bisa cari stasiun sendiri, parkir presisi di alat tukar, lalu keluar lagi dengan baterai terisi penuh.
Isi kesepakatan CATL dan Huawei
Kerja sama ini menyasar satu masalah yang bikin banyak orang ragu pindah ke mobil listrik: waktu nunggu. Ngecas cepat butuh minimal 20 sampai 30 menit kalau stasiunnya kosong. Kalau antre, bisa sejam lebih. Penukaran baterai memotong itu jadi hitungan detik, dan itu jadi nilai jual utama CATL sejak mereka masuk bisnis ini pada 2022 lewat EVOGO.
Menurut keterangan yang dikutip IDN Times, target konkretnya lima model kendaraan penukar baterai yang meluncur pada 2027. Model perdana datang dari Epicland, merek hasil patungan Dongfeng dan Huawei. Aistaland, merek lain yang juga dibesarkan bareng Huawei, memasukkan teknologi ini ke rencana produknya.
Huawei juga tidak masuk sebagai pemasok komponen biasa. Yinwang punya kepentingan lebih besar. Struktur kepemilikannya 80 persen dipegang Huawei, sisanya dibagi rata antara Seres dan Avatr, anak perusahaan Changan. Jadi posisi Huawei di sini setara mitra strategis yang ikut menentukan arah produk, bukan sekadar penjual chip.
Baca juga: Volvo dan NVIDIA Perluas Kerja Sama: Nyetir Otomatis Mata Bebas Debut Sebelum 2030
Cara kerja tukar baterai mobil listrik 99 detik
Bagian yang paling sering dilewatkan orang: 99 detik itu bukan cuma soal kecepatan alatnya. Yang bikin proses panjang justru tahap sebelum dan sesudahnya. Mobil harus tahu kapan baterainya perlu ditukar, stasiun mana yang kosong, dan bagaimana masuk ke bilik tanpa nyenggol apa pun.
Di sinilah sistem Qiankun dari Huawei ambil peran. Mobil memantau kondisi baterai dan pola perjalanan pengemudi secara real time, lalu mengatur sendiri jadwal penukaran. Kalau baterai diprediksi tidak cukup buat rute besok pagi, mobil bisa menyarankan atau langsung memesan slot di stasiun terdekat. Begitu masuk, proses penukaran berjalan otomatis sampai kendaraan keluar sendiri.
Pendekatan ini beda dari NIO yang juga sudah lama main penukaran baterai. NIO lebih dulu membangun jaringan sendiri dengan pendekatan penuh otomatis, sementara beberapa operator lain seperti GAC Aion masih butuh pengemudi ikut turun atau membantu proses. CATL dan Huawei mencoba menggabungkan dua hal: jaringan stasiun yang luas plus kendaraan yang benar-benar paham kapan harus mampir.
2.520 stasiun Choco-Swap, target 3.000 akhir 2026
Jaringan stasiun untuk tukar baterai mobil listrik ini bukan janji di atas kertas. Per 29 September 2026, CATL sudah mengoperasikan 2.520 stasiun Chocolate Swap yang tersebar di 200 kota di China. Awal 2025 angkanya masih 1.020. Artinya dalam kurang dari dua tahun jumlahnya naik sekitar dua setengah kali lipat.
Sampai akhir 2026, CATL menargetkan 3.000 stasiun beroperasi. Untuk jangka panjang, mereka menyebut angka 30.000 stasiun sebagai target akhir. Angka itu masuk akal kalau melihat ambisi perusahaan: CATL tidak lagi ingin dikenal cuma sebagai pembuat sel baterai, tapi sebagai penyedia layanan energi yang ikut meraup pendapatan dari tiap transaksi penukaran.
Perubahan posisi ini penting. Penjualan baterai itu bisnis sekali beli dengan margin yang makin tipis karena perang harga. Layanan tukar baterai mobil listrik menghasilkan pendapatan berulang, plus kontrol atas siklus hidup baterai. CATL bisa mengatur kapan baterai diisi, kapan dipakai, dan kapan ditarik dari jaringan untuk didaur ulang.
Epicland X9, model pertama yang kena teknologi ini
Epicland X9 sudah dijual di China sejak 24 September 2026 dengan banderol 289.800 sampai 369.800 yuan, setara sekitar Rp 680 juta sampai Rp 870 juta. Mobil ini SUV besar: panjang 5,3 meter dengan jarak sumbu roda 3.120 mm, masuk kelas yang bersaing langsung dengan Li Auto L9 dan AITO M9.
Versi listrik murninya sudah muncul di dokumen Kementerian Industri China. Ada dua pilihan penggerak: roda belakang 300 kW, atau versi empat roda dengan motor 150 kW di depan dan 300 kW di belakang. Baterainya pakai LFP buatan CATL. Kombinasi ini menjelaskan kenapa Epicland jadi kandidat pertama: platform, baterai, dan sistem cerdasnya semuanya sudah satu ekosistem.
Untuk pasar di luar China, Epicland masih tanda tanya. Merek ini baru dibentuk 2025 dan fokus awal mereka jelas di dalam negeri, tempat jaringan Choco-Swap sudah padat.
Hitungan bisnis di baliknya
Bagi CATL, bisnis tukar baterai mobil listrik adalah cara mengunci pelanggan. Kalau sebuah model didesain dari awal buat penukaran baterai, pemiliknya praktis terikat ke jaringan Choco-Swap selama mobil itu dipakai. Itu bukan loyalitas karena iklan, tapi karena secara teknis tidak ada pilihan lain.
Sisi Huawei lain lagi: nilainya ada di data dan ekosistem. Setiap penukaran menghasilkan informasi soal kondisi baterai, jarak tempuh, dan kebiasaan pengisian. Data itu jadi bahan bakar buat sistem otonom mereka, sekaligus alasan buat produsen mobil memakai platform Huawei secara lebih dalam.
Bagi konsumen, untungnya jelas kalau stasiunnya dekat. Kamu bisa beli mobil dengan baterai lebih kecil, lebih murah, lalu menukarnya saat butuh jarak jauh. Model bisnis sewa baterai seperti ini sudah dijalankan NIO dan terbukti menarik buat sebagian pembeli. Risikonya juga nyata: kalau jaringan stasiunnya sepi di kota kamu, teknologi secanggih apa pun jadi tidak berguna.
Apa artinya buat Indonesia?
Jujur saja, dampak langsungnya masih nol dalam waktu dekat. Indonesia belum punya satu pun stasiun Choco-Swap, dan layanan tukar baterai mobil listrik di sini praktis belum ada. Infrastruktur penukaran yang jalan justru milik sepeda motor listrik. Jarak antar kota juga bikin model bisnis penukaran lebih rumit dibanding China yang pasar mobil listriknya sudah raksasa.
Tapi arah anginnya kelihatan. Pemerintah sedang mendorong kendaraan listrik lewat insentif, dan beberapa merek China yang masuk pasar Indonesia memakai platform yang sama dengan versi China mereka. Kalau CATL benar-benar membawa Choco-Swap ke Asia Tenggara seperti yang mereka isyaratkan sejak 2025, Indonesia jadi kandidat yang masuk akal karena volumenya besar.
Yang perlu dicatat, penukaran baterai bukan obat segala masalah. Butuh standar baterai yang sama antar merek, investasi lahan, dan listrik yang stabil. Tanpa tiga itu, stasiun penukaran cuma jadi bangunan mahal yang sepi.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah semua mobil listrik bisa pakai stasiun Choco-Swap? Tidak. Baterai harus didesain khusus dengan format yang bisa dilepas mesin, jadi hanya model yang memang dibangun buat itu yang bisa masuk.
Berapa biaya tukar baterai mobil listrik sekali jalan? CATL belum membuka tarif resminya untuk publik. Di China, model bisnisnya biasanya berupa langganan bulanan atau bayar per pemakaian energi, mirip skema NIO.
Apakah baterainya baru atau bekas? Baterai yang kamu terima sudah diisi dan diperiksa sistem. Baterai lama masuk antrean pengisian di stasiun yang sama, lalu dipakai pengguna lain. Karena itu kondisi tiap baterai dipantau terus.
Sumber
Artikel ini disusun dari liputan IDN Times, Akurat.co, dan ChinaEVHome.