Bayangkan mesin yang biasanya dipasang di sayap Boeing 747, dicopot, dibangun ulang, lalu dipakai buat menyalakan gedung penuh server. Itulah yang sekarang benar-benar terjadi. Sejumlah pengembang mesin jet bekas data center AI di Amerika Serikat mulai memakai turbin dari mesin pesawat sebagai pembangkit listrik sendiri, karena antrean sambungan ke jaringan listrik umum sudah tidak masuk akal panjangnya.
Angkanya bikin geleng kepala. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), menyambungkan satu data center dengan kebutuhan daya 100 megawatt (MW) ke grid di Virginia Utara bisa makan waktu sekitar tujuh tahun. Tujuh tahun. Padahal umur kompetitif sebuah model AI dihitung dalam bulan, bukan tahun. Jadi wajar kalau perusahaan seperti xAI dan OpenAI memilih jalur pintas, walau jalur pintasnya harus lewat mesin pesawat tua.
Kenapa data center AI sampai pakai mesin jet bekas
Semua ini soal kecepatan. Audun Martinsen, analis dari Rystad Energy, bilang ke New York Times bahwa inti masalahnya sederhana: “Semuanya soal mendapatkan listrik secepat mungkin.” Dengan pembangkit berbasis mesin jet, satu fasilitas data center bisa mulai beroperasi dalam waktu sekitar 24 bulan. Bandingkan dengan tujuh tahun menunggu grid. Selisih lima tahun itu, di industri AI, setara beberapa generasi produk.
Pilihan lain sebenarnya ada. Pembangkit gas biasa, baterai skala besar, atau PLTS. Tapi semuanya punya masalah yang sama: kapasitas produksinya terbatas dan waktu pengadaannya juga panjang. Mesin jet bekas menang karena barangnya sudah ada, produsennya sudah ada, dan yang perlu dibangun cuma dudukan plus sistem bahan bakar gas.
Yang menarik, ini bukan solusi resmi yang direncanakan rapi. Ini lebih mirip akal-akalan industri yang tumbuh karena desakan. Ada perusahaan yang benar-benar mengambil mesin dari pesawat yang sudah pensiun, mengoverhaul isinya, lalu menjualnya sebagai genset gas berkapasitas puluhan megawatt.
PE6000, turbin yang lahir dari mesin Boeing 747
Nama yang paling sering muncul adalah ProEnergy. Perusahaan ini membangun ulang mesin buatan GE yang biasa dipakai pesawat Boeing menjadi generator berbahan bakar gas. Produknya diberi nama PE6000, dan jantungnya adalah inti mesin jet CF6-80C2, mesin yang antara lain dipakai di Boeing 747-400.
Satu unit PE6000 disebut bisa menghasilkan listrik hingga 48 MW. Sebagai gambaran kasar, 48 MW itu kira-kira cukup untuk belasan ribu rumah tangga. Untuk skala data center AI modern yang butuh ratusan megawatt, satu unit jelas tidak cukup. Makanya mereka pasang banyak sekaligus, bukan satu-dua.
ProEnergy bukan pemain kecil yang tiba-tiba muncul. Mereka sudah lama berkecimpung di bisnis pembangkit listrik terdistribusi, dan sekarang permintaan datang deras dari sektor yang lima tahun lalu bahkan tidak ada dalam kamus mereka: pusat data kecerdasan buatan.
Siapa saja yang sudah memakai
xAI milik Elon Musk termasuk yang paling cepat bergerak. Menurut laporan New York Times yang mengutip dokumen izin negara bagian dan citra satelit, xAI sudah memasang delapan turbin hasil konversi mesin jet di Mississippi. Turbin itu membantu memasok listrik untuk data center Colossus 2 di Memphis, Tennessee.
OpenAI tidak mau ketinggalan. Pada 2025 mereka memakai turbin gas di lokasi pertama proyek Stargate di Abilene, Texas. Kompleks itu dibangun oleh Crusoe, startup asal Denver yang memang spesialis membangun kampus AI. Pada April 2026, Crusoe memesan 13 unit turbin buatan ProEnergy.
Perusahaan lain ikut melirik ceruk ini. Boom Supersonic, yang sedang mengembangkan pesawat supersonik, juga menjual versi mesin pesawatnya sebagai pembangkit listrik untuk pusat data. Satu mesin, dua pasar. Cukup kreatif, dan cukup nekat.
Baca juga: Tencent Cloud Indonesia Genjot Ekspansi, Migrasi XLSmart Kelar 4,5 Bulan
Soal efisiensi dan polusi, di sini masalahnya
Mesin jet dirancang untuk terbang, bukan untuk menyala 24 jam nonstop di atas tanah. Konsekuensinya jelas: mesin jet bekas kurang efisien dibanding turbin gas yang memang dibangun khusus untuk pembangkit listrik. Untuk menghasilkan listrik dengan jumlah yang sama, pengembang butuh lebih banyak unit. Lebih banyak unit berarti lebih banyak bahan bakar, lebih banyak perawatan, dan lebih banyak emisi.
Isu lingkungannya bukan spekulasi. Di Mississippi, izin yang dikantongi turbin xAI disebut mengizinkan batas polutan yang lebih tinggi, sekitar 25 persen lebih longgar untuk senyawa organik volatil. Southern Environmental Law Center sudah menantang keputusan izin itu. Mereka menilai xAI belum memberi jaminan bahwa turbin berbasis mesin jet tersebut memenuhi standar emisi untuk polutan tertentu, termasuk formalin, dan menuduh proyeksi emisi yang dilaporkan lebih rendah dari seharusnya.
Sejumlah pakar menilai cara ini hanya solusi jangka pendek. Perkiraan mereka, dalam satu sampai dua tahun ke depan isu efisiensi dan dampak lingkungan akan makin disorot, terutama kalau jumlah turbinnya bertambah banyak dan beroperasi permanen.
Batalnya kesepakatan Rp22,7 triliun
Cerita Boom Supersonic sempat manis di atas kertas. Pada September 2026, Crusoe membatalkan kesepakatan senilai 1,25 miliar dollar AS, sekitar Rp22,7 triliun dengan kurs Rp18.168, untuk 29 turbin gas dari Boom. Crusoe bilang mereka tetap berencana memakai turbin, hanya saja bukan dari Boom.
Pembatalan sebesar itu menunjukkan satu hal: pasar pembangkit untuk data center AI sedang panas, tapi juga belum stabil. Kontrak besar bisa muncul dan hilang dalam hitungan bulan, karena semua pihak masih mencari formula yang paling murah dan paling cepat. Tekanan politik ikut main. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump mendorong pusat data untuk membangun pembangkit listrik sendiri, alih-alih membebani grid publik yang sudah sesak.
Bukan cuma masalah Amerika
Antrean listrik juga menghantam Eropa. Di Inggris, Microsoft batal menjadi penyewa utama pusat data milik Nscale di Loughton. Alasannya bukan soal harga sewa atau teknologi, tapi karena perusahaan listrik setempat menyatakan belum bisa memasok daya yang cukup sampai awal atau pertengahan 2030-an.
Itu contoh paling telanjang bahwa infrastruktur listrik sekarang jadi bottleneck nyata bagi industri AI, bukan sekadar wacana di panel diskusi. Selama bertahun-tahun orang membahas chip, GPU, dan model. Sekarang yang menentukan siapa bisa jalan dan siapa tersendat justru hal yang paling kuno: kabel dan pembangkit.
Baca juga: DeepSeek Rilis Super-agent Coding Open Source, Tantang Claude Code
Apa artinya buat Indonesia
Saya tidak akan pura-pura ini cerita yang jauh dari kita. Indonesia sedang gencar membangun pusat data, baik oleh operator lokal maupun raksasa cloud asing. Kalau tren konsumsi daya AI global berlanjut seperti sekarang, pertanyaan yang sama cepat atau lambat akan muncul di sini: siapa yang menyediakan listrik, dan seberapa cepat.
Bedanya, kita punya satu keuntungan yang tidak dimiliki Virginia Utara, yaitu ruang untuk membangun pembangkit baru tanpa harus antre belasan tahun di jaringan yang sudah padat. Tapi keuntungan itu cuma berguna kalau perencanaannya jalan lebih cepat dari pertumbuhan permintaan. Kalau tidak, kita akan mengulang kesalahan yang sama, dengan versi lokal.
Yang bisa dipelajari dari kisah mesin jet bekas ini sederhana. Ketika pasokan listrik jadi hambatan, orang akan mencari jalan pintas, termasuk jalan pintas yang buruk untuk lingkungan. Solusi jangka panjangnya tetap pembangkit yang bersih dan efisien, plus jaringan yang siap. Mesin jet bekas cuma membeli waktu, dan waktu itu dibayar dengan udara yang lebih kotor.
Sumber
Artikel ini disusun dari laporan Kompas Tekno, TechCrunch, dan Tom’s Hardware.