Dunia kripto lagi gonjang-ganjing. Peretasan Binance bikin aset digital senilai 6,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp114 triliun berpindah tangan dalam hitungan menit, dan jadi pencurian kripto terbesar yang pernah tercatat. Bukan cuma soal angka. efeknya kelihatan langsung di antrean penarikan dana pengguna.
Binance sempat mengunci total layanan setor dan tarik selama kurang lebih 48 jam. Begitu pintu penarikan dibuka lagi Minggu (1/11/2026) pagi, nasabah berbondong-bondong memindahkan aset mereka keluar. Dalam sehari, arus keluar bersih tercatat 3,64 miliar dollar AS menurut CNBC, atau sekitar Rp66 triliun. Reuters dan Binance menyebut angka kumulatif 4,72 miliar dollar AS, sekitar Rp85,61 triliun. Beda angka ini wajar karena cakupan waktu hitungnya beda, tapi arah ceritanya sama: orang panik dan memilih aman.
Saya sendiri ngikutin berita ini dari Kamis malam sampai bantahan resmi Korea Utara hari ini. Yang menarik bukan cuma siapa pelakunya, tapi bagaimana sebuah bursa sebesar Binance bisa kehilangan miliaran dolar dalam waktu sesingkat itu.
Peretasan Binance cuma butuh sekitar 20 menit
Menurut laporan WIRED yang mengutip beberapa firma pelacak blockchain, penyedotan dana mulai sekitar pukul 16.00 waktu Timur AS, Kamis (29/10/2026). Dana diambil dari dompet milik Binance yang tersebar di beberapa blockchain sekaligus, bukan dari satu titik lemah saja. Sebagian besar aset keluar dalam rentang sekitar 20 menit.
Cara kerjanya belum dijelaskan lengkap oleh Binance. Yang jelas, pelaku punya akses ke kunci atau jalur otorisasi yang seharusnya tertutup rapat. Ini pola yang sudah lama dipakai kelompok peretas bersponsor negara: masuk pelan-pelan lewat rekayasa sosial ke karyawan, panen kredensial, baru bergerak saat posisinya sudah kuat. Bukan gebrakan ala film, tapi kerja rapi berbulan-bulan.
Binance langsung menutup deposit dan penarikan. Langkah ini masuk akal secara teknis, karena selama sistem belum diaudit, setiap transaksi baru berisiko jadi jalan keluar dana berikutnya. Tapi buat pengguna, 48 jam tanpa akses ke uang sendiri itu terasa sangat lama.
Arus dana keluar: 66 sampai 85 triliun rupiah dalam sehari
Angka yang paling sering dikutip adalah 4,72 miliar dollar AS, sekitar Rp85,61 triliun, merujuk pada keterangan Binance yang dilaporkan Reuters. CNBC memecahnya lebih detail untuk 1 November: 4,65 miliar dollar AS penarikan dan 1,01 miliar dollar AS setoran baru, jadi net keluar 3,64 miliar dollar AS.
Binance bilang arus keluar bersih itu cuma sekitar 2,1 sampai 2,8 persen dari total aset yang mereka pegang. Basisnya data proof of reserves per 28 Oktober 2026 yang menyebut total aset sekitar 171 miliar dollar AS. Artinya, secara proporsi, tidak terjadi bank run besar-besaran. Tapi proporsi kecil dari 171 miliar tetap duit yang sangat besar.
Sejumlah analis menilai reaksi nasabah justru menunjukkan kepercayaan yang masih lumayan kuat. Saya agak skeptis dengan pembacaan itu. Yang menarik duit bukan cuma yang takut, tapi juga yang mau ambil untung dari situasi kacau. Dua-duanya bercampur, dan susah dipisahkan dari data arus dana saja.
Baca juga: Agen AI Bobol 100 Perusahaan, Satu Hacker Serang 1.200 Website dalam 23 Jam
Siapa yang menanggung kerugiannya?
Ini bagian yang bikin saya agak angkat topi. Binance menyatakan tidak akan membebankan kerugian ke pengguna. Perusahaan menyiapkan sekitar 6 miliar dollar AS, sekitar Rp108,83 triliun, dari kas perusahaan, dana asuransi, dan cadangan khusus untuk menutup insiden keamanan.
Co-CEO Binance, Yi He, lewat unggahan di X menyebut keamanan sistem jadi prioritas sebelum layanan kembali normal. “Prioritas utama kami saat ini adalah memastikan sistem benar-benar aman. Setelah itu, pengguna dapat menarik dana mereka dan Binance dapat kembali beroperasi,” katanya.
Janji menutup kerugian dari kantong sendiri itu penting, karena bursa kripto umumnya tidak punya jaminan setara LPS atau lembaga penjamin simpanan. Kalau bursanya bangkrut, dana pengguna bisa ikut hilang. Di kasus ini Binance punya bantalan modal yang cukup, tapi jelas tidak semua exchange punya kemampuan yang sama.
FBI tuduh Korea Utara, Kim Yo-jong langsung membantah
FBI menyimpulkan Korea Utara berada di balik serangan ini. Bersama Secret Service dan sejumlah lembaga AS lainnya, FBI meminta bursa kripto, operator DeFi, dan firma analisis blockchain memblokir transaksi yang terkait alamat-alamat yang diduga dipakai pelaku. Firma pelacak menyebut kelompok di baliknya adalah TraderTraitor, aktor yang sudah lama dikaitkan dengan Pyongyang.
Tom Robinson, chief scientist Elliptic, bilang pihaknya menilai Korea Utara kemungkinan besar bertanggung jawab. Kalau benar, satu pencurian ini hampir menyamai total kripto yang sudah dicuri rezim itu selama bertahun-tahun.
Pyongyang tentu tidak tinggal diam. Kim Yo-jong, pejabat senior sekaligus adik Kim Jong-un, membantah lewat KCNA, Selasa (3/11/2026). Dia menyebut tudingan AS sebagai retorika yang tidak masuk akal dan “provokasi politik serius terhadap DPRK”, karena menurutnya AS menyesatkan opini publik internasional seolah semua kejahatan siber di dunia adalah perbuatan mereka.
Kita sudah sering dengar pola ini. Tudingan, bantahan, lalu sengketa bukti yang berlarut-larut. Yang bisa dipastikan cuma satu: dana hilang, dan pelacakan lintas blockchain jadi satu-satunya cara mengejar.
Separuh dana berhasil dibekukan
Kabar yang sedikit melegakan: Binance bersama firma keamanan dan bursa lain mengklaim sudah membekukan sekitar separuh dana curian. Itu prestasi tersendiri, karena memindahkan aset lintas blockchain biasanya dipakai pelaku untuk mengaburkan jejak.
Masalahnya, sisa dananya kemungkinan besar tidak bisa dibekukan. Sebagian kripto mungkin sudah lewat mixing service, sebagian lagi dipecah ke ribuan alamat kecil. Kalau dana itu sudah masuk dompet yang dikuasai penuh pelaku, tidak ada mekanisme pusat yang bisa menariknya kembali. Di sinilah beda mendasar kripto dengan rekening bank: tidak ada teller yang bisa membatalkan transfer.
Apa yang bisa dipelajari pengguna kripto di Indonesia?
Peretasan Binance ini bukan alasan panik, tapi memang alasan untuk beres-beres kebiasaan. Beberapa hal yang menurut saya paling praktis:
- Jangan simpan semua aset di satu exchange. Kalau porsi besar, pindahkan ke wallet yang kamu pegang sendiri kuncinya.
- Cek proof of reserves bursa tempat kamu menaruh dana. Kalau laporannya tidak pernah diperbarui, itu tanda tanya.
- Kalau bursa membuka penarikan setelah insiden, coba tarik nominal kecil dulu sebelum memindahkan semuanya.
- Waspadai phishing yang menumpang nama Binance. Setelah insiden besar, email dan situs palsu biasanya muncul beruntun.
- Aktifkan 2FA, dan jangan pernah menyerahkan kode OTP ke siapa pun yang mengaku tim support.
Buat Binance sendiri, ujian sebenarnya baru mulai. Peretasan Binance boleh ditutup pakai kas perusahaan, tapi Menutup kerugian dengan kas perusahaan bisa menyelamatkan reputasi jangka pendek, tapi pertanyaan soal bagaimana kunci bisa diambil tetap harus dijawab terbuka. Sampai sekarang, penjelasan resmi soal titik masuk peretas masih minim.
Saya akan terus pantau perkembangan pelacakan dananya, terutama soal apakah sisa dana yang belum dibekukan benar-benar hilang permanen. Kalau ada update soal hasil investigasi atau perubahan kebijakan penarikan, saya tulis lagi di sini.
Sumber
- Kompas.com: Usai Binance Dibobol Hacker, Nasabah Ramai-ramai Tarik Dana Rp 85,61 Triliun
- Kompas Tekno: Korut Bantah Bobol Binance Rp 114 Triliun, Sebut Tudingan AS Absurd
- CNBC: Binance sees $3.64 billion in net outflows as withdrawals resume
- WIRED: The $6.3 Billion Binance Hack Was Pulled Off in Just 20 Minutes
- Kompas.com: FBI Tuding Korea Utara Bobol Aset Rp 109 Triliun dari Binance