Power bank punah dalam beberapa tahun ke depan? Itulah prediksi mengejutkan yang diucapkan langsung oleh CEO Anker, Meng Yang. Perusahaan yang membangun reputasinya dari penjualan power bank justru mengakui bahwa produk andalan mereka sedang menuju kepunahan. Dan kalau kita lihat tren baterai smartphone 2026 yang makin gila-gilaan, prediksi ini bukan isapan jempol belaka.
CEO Anker Sendiri yang Bilang Power Bank Punah
Dalam wawancara dengan media China yang dilansir Gizmochina (11/6/2026), Meng Yang membandingkan power bank dengan produk elektronik konsumen yang sudah punah seperti MP3 player, pemutar kaset, dan CD player. Menurutnya, siklus hidup produk elektronik konsumen itu pendek — sekitar 10 tahun sejak pertama kali dibeli sampai akhirnya tidak dibutuhkan lagi.
“Produk elektronik konsumen sebenarnya datang dan pergi dengan cepat. Jika kamu pernah membeli MP3 player, kemungkinan besar kamu juga pernah membeli pemutar kaset atau CD player. Jarak waktunya hanya sekitar 10 tahun,” ujar Yang.
Pernyataan ini cukup kontroversial mengingat Anker sendiri didirikan pada 2011 dan membangun ekspansi internasionalnya berkat power bank. Tapi data keuangan mereka tahun 2025 justru mendukung pergeseran ini — pendapatan Anker mencapai 30,5 miliar yuan (sekitar Rp80 triliun), naik 23,49% year-over-year, dengan produk pengisian daya dan penyimpanan energi menyumbang sekitar 50% dari total pendapatan.
Yang juga mengakui bahwa Anker pernah terlalu agresif memperluas lini power bank — pada 2024 saja, mereka menjual sekitar 100 model power bank berbeda. “Tidak realistis bagi perusahaan mana pun untuk mempertahankan standar kualitas tinggi pada 100 model produk yang berbeda secara bersamaan,” tambahnya.
Tren Baterai Smartphone 8000-10000mAh yang Makin Gila
Prediksi power bank punah bukan tanpa alasan. Tren baterai smartphone di 2026 bergerak ke arah yang luar biasa. Kalau dulu baterai 5000mAh dianggap besar, sekarang standarnya sudah naik drastis.
Menurut data Counterpoint Research, rata-rata kapasitas baterai smartphone di China sudah mencapai 5.418mAh per Mei 2025 — naik 11% year-over-year. Dan angka itu terus meroket di 2026:
- iQOO Z11 — baterai 9.020 mAh, sudah resmi masuk Indonesia
- realme P4R 5G — baterai 8.000 mAh, harga terjangkau
- Tecno POVA 8 — baterai 8.000 mAh dengan fitur “Alive Matrix”
- Honor Power2 — baterai 10.080 mAh, memasuki era 10.000 mAh
- Vivo Y500 — baterai 8.200 mAh, ketebalan hanya 8,23mm
Yang menarik, ponsel-ponsel ini tidak tebal dan berat seperti yang kita bayangkan. Tecno Pova Curve 2 misalnya, memasang baterai 8000mAh dalam bodi setipis 7mm. Rahasianya ada pada teknologi baterai carbon-silicon anode yang punya kerapatan energi jauh lebih tinggi dari anode grafite konvensional.
Baca juga: Honor Magic V6: HP Lipat Tertipis di Dunia dengan Ketahanan Maksimal
Samsung dan Apple Masih Tertinggal
Sementara brand China berlomba-lomba membesarkan baterai, Samsung dan Apple justru terlihat lebih konservatif. Samsung Galaxy S25 series dan iPhone 17 Pro Max masih di bawah angka 5.000 mAh. Ini menciptakan kesenjangan yang cukup signifikan — brand China sudah di angka 8.000-10.000 mAh, sementara dua raksasa global masih setia di 4.800-an mAh.
Tapi bukan berarti Samsung dan Apple tidak punya strategi. Mereka lebih mengandalkan efisiensi chipset dan optimasi software untuk memperpanjang daya tahan baterai. Pendekatan ini memang berbeda — bukan memperbesar kapasitas, tapi mengurangi konsumsi daya.
Pertanyaannya, mana yang lebih efektif? Kalau kamu pengguna berat yang main game atau streaming berjam-jam, baterai 8000mAh jelas lebih menjanjikan. Tapi untuk penggunaan normal sehari-hari, optimasi software seperti yang dilakukan Apple dengan iOS memang bisa membuat baterai 4800mAh terasa lebih awet dari yang seharusnya.
Teknologi Fast Charging Jadi Kunci Lainnya
Selain baterai yang makin besar, teknologi pengisian daya cepat juga berkembang pesat. Saat ini, banyak smartphone yang sudah mendukung fast charging 100W hingga 240W. Artinya, baterai 8000mAh bisa terisi penuh dalam waktu kurang dari 30 menit.
Kombinasi baterai jumbo plus fast charging super cepat ini yang membuat power bank makin kehilangan relevansinya. Bayangkan: kamu bangun pagi, colok charger selama 20 menit sambil mandi, dan baterai sudah terisi 60-70%. Untuk apa bawa power bank?
Ditambah lagi, infrastruktur pengisian daya publik juga makin banyak. Stasiun pengisian nirkabel di kafe, bandara, dan mall sudah jadi pemandangan umum di kota-kota besar Indonesia. Power bank yang dulu jadi penyelamat di saat genting, perlahan tergantikan oleh ekosistem charging yang makin mudah diakses.
Baca juga: Intel Arc G-Series: Chipset Gaming Handheld Terbaru yang Bikin Main Game Lebih Lama
Apakah Power Bank Punah dalam Waktu Dekat?
Jawaban jujurnya: tidak dalam waktu dekat, tapi trennya sudah jelas mengarah ke sana. Saat ini, power bank masih relevan untuk:
- Pengguna yang sering bepergian ke daerah terpencil tanpa akses listrik
- Traveler yang butuh mengisi daya beberapa perangkat sekaligus
- Pengguna smartphone lama dengan baterai kecil yang sudah mulai degradasi
Tapi untuk mayoritas pengguna smartphone 2026 yang punya baterai 8000mAh ke atas, kebutuhan akan power bank memang makin berkurang. Apalagi kalau fast charging 100W+ sudah jadi standar.
Prediksi power bank punah dari CEO Anker ini juga bisa dibaca sebagai sinyal pergeseran strategi bisnis. Anker sendiri sudah diversifikasi ke kategori produk lain — dari aksesori smart home, solusi penyimpanan energi, hingga perangkat audio. Mereka tahu bahwa masa depan bukan di power bank tradisional. Narasi power bank punah ini sejalan dengan data industri yang menunjukkan penurunan permintaan aksesori charging portabel di pasar Asia.
Kesimpulan: Era Power Bank Memang Sedang Meredup
Ketika CEO perusahaan power bank terbesar di dunia sendiri yang bilang bahwa produknya akan punah, itu artinya kita perlu serius memperhatikan sinyal ini. Tren baterai smartphone 8000-10000mAh, teknologi carbon-silicon anode, dan fast charging 100W+ adalah kombinasi yang sulit ditolak. Prediksi power bank punah bukan lagi sekadar wacana — ini adalah refleksi dari perubahan nyata di industri smartphone.
Untuk sekarang, power bank mungkin masih ada di tas kamu. Tapi lima tahun ke depan? Kemungkinan besar sudah jadi barang yang jarang dipakai — persis seperti CD player yang sekarang cuma jadi pajangan. Kalau kamu mau investasi aksesori charging, lebih baik beli charger fast charging berkualitas tinggi daripada power bank baru. Itu investasi yang lebih future-proof.
Sumber
- Gizmochina — Anker CEO says power banks will “die in a few years”
- IDN Times — CEO Anker Prediksi Power Bank akan Punah
- Hover Technology — Smartphone Battery Enters 10,000mAh Era
- Gizmochina — How phone makers are fitting 8000mAh batteries in a 7mm body