Posted in

Chip Merah Putih Masuk Tahap Harmonisasi, Target 11 November

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto saat berbicara di Peruri Digital Summit 2026, Jakarta, 21 Oktober 2026
Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam Peruri Digital Summit 2026 di Jakarta, 21 Oktober 2026. Foto: ANTARA/HO-Kemdiktisaintek

Proyek Chip Merah Putih akhirnya keluar dari ruang rapat dan masuk ke jalur birokrasi. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bilang prosesnya sedang disiapkan menuju tahap harmonisasi, dengan target awal 11 November. Badan Pengelola BUMN sudah menyatakan siap mengajukan izin prakarsa.

“Dari pertemuan terakhir, sudah disampaikan kesiapan dari BP BUMN untuk mengajukan izin prakarsa. Hari ini kita akan mendengar perkembangan terbaru dan mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu dilengkapi,” kata Brian dalam keterangannya, Senin (2/11), dikutip Antara.

Buat saya, kalimat itu kedengarannya kecil. Padahal isinya besar: Indonesia sedang mencoba membangun kemampuan merancang chip sendiri, bukan cuma membeli chip jadi dari luar negeri. Dan seperti biasa, masalahnya bukan niat, tapi ekosistem.

Apa itu Chip Merah Putih dan kenapa repot dibikin?

Chip adalah otak dari hampir semua dokumen dan layanan digital kita. e-KTP, e-paspor, e-SIM, sampai kartu pembayaran semuanya butuh chip. Di dalamnya ada lapisan keamanan data yang bikin dokumen itu susah dipalsukan.

Selama ini Indonesia mengimpor komponen tersebut. Brian menyebut penguasaan teknologi memang bukan pilihan. “Kalau kita mau sejahtera, kalau kita mau sejajar dengan negara-negara lain, sesuai yang dikatakan Bapak Presiden, mau tidak mau kita harus menguasai teknologi,” ujarnya di Peruri Digital Summit 2026, Rabu (21/10).

Yang sering terlewat dari diskusi publik: Chip Merah Putih itu soal desain, bukan pabrik. Merancang chip dan memproduksinya adalah dua dunia berbeda. Untuk tahap awal, pemerintah fokus menyiapkan kemampuan desain dulu, karena di situ talentanya bisa dilatih tanpa harus menunggu investasi fabrikasi yang mahalnya bukan main.

Baca juga: Kriptografi Tahan Kuantum: Indonesia Diminta Bersiap Migrasi Sebelum 2030

Sandbox Desain Chip Merah Putih, pintu masuk buat mahasiswa

Langkah paling konkret sejauh ini adalah peluncuran Sandbox Desain Chip Merah Putih oleh Peruri pada 27 Juli 2026 di Gedung Subono Mantofani, kantor Peruri, Jakarta. Fasilitas ini berupa lingkungan eksperimen digital yang bisa diakses gratis lewat browser.

Kenapa perlu sandbox? Karena hambatan merancang chip di Indonesia cukup mendasar. Tenaga ahli masih sedikit, perangkat kerja mahal, dan akses ke fasilitas praktikum nyaris tidak ada di banyak kampus. Mahasiswa yang tertarik desain chip biasanya cuma dapat teori, tanpa tempat buat coba-coba.

Sandbox memangkas tiga hambatan itu sekaligus. Software desain chip yang biasanya berlisensi mahal diganti dengan akses berbasis web. Kampus tidak perlu membangun laboratorium sendiri. Dan mahasiswa bisa langsung praktik, bukan cuma menghafal diagram blok.

Sejak diluncurkan, sandbox sudah dipakai dalam hackathon desain chip yang diikuti 98 tim dari 41 perguruan tinggi, dengan total 338 mahasiswa. Angka itu bukan revolusi, tapi juga bukan nol. Untuk bidang yang sebelumnya hampir tidak punya jalur masuk bagi pemula, 338 orang yang benar-benar mencoba desain chip itu lumayan.

Chip untuk e-KTP dan e-paspor sudah di tahap uji

Bagian yang paling jarang dibahas: purwarupa chip untuk e-paspor sudah tiba di Indonesia. Chip itu hasil kerja sama Peruri dengan ITB lewat PT LAPI ITB, dan sekarang masuk tahap uji keandalan akhir di laboratorium.

Uji keandalan bukan formalitas. Chip dokumen resmi harus tahan dipakai bertahun-tahun, tahan gesekan, tahan suhu, dan tetap aman dari upaya pembacaan ilegal. Kalau satu spesifikasi gagal, seluruh dokumen bisa bermasalah. Jadi tahap ini justru penentu apakah chip lokal layak masuk produksi massal.

Selain lewat hackathon, jalur pelatihannya juga jalan di luar sandbox. Kementerian mencatat sekitar 1.500 orang sudah lulus pelatihan desain chip. Sebagian dari mereka kini jadi instruktur atau terlibat di proyek kampus, jadi efeknya berlipat meski angkanya belum besar.

Baca juga: TelkomGroup Luncurkan Sovereign Digital Technology di DTIIF 2026, Empat Kapabilitas Buat Kedaulatan Digital

Tiga teknologi yang dikejar bersamaan

Semikonduktor bukan proyek tunggal. Di forum yang sama, Brian menempatkan Chip Merah Putih sebagai satu dari tiga bidang prioritas: kecerdasan artifisial, teknologi pascakuantum, dan semikonduktor.

Ketiganya saling nyambung. Chip dibutuhkan untuk menjalankan model AI secara efisien. Sementara teknologi pascakuantum jadi penting karena komputer kuantum, cepat atau lambat, akan menembus metode enkripsi yang dipakai hari ini. Kalau chip keamanan kita baru dirancang sekarang, standarnya harus sudah memikirkan ancaman itu.

Ada satu peringatan dari Brian yang saya rasa relevan buat semua orang, bukan cuma dosen: jangan sampai semua pekerjaan diserahkan ke AI sampai dasar ilmunya bolong. “Saya sering bilang di kampus, tolong dosennya jangan pakai AI bikin soal, karena nanti mahasiswa juga jawabnya pakai AI, nanti yang memeriksa AI juga,” katanya.

Buat proyek semikonduktor, ini bukan guyon. Desain chip tidak bisa dikerjakan dengan menebak. Salah satu jalur logika, satu timing yang meleset, dan chip gagal total saat diproduksi. Justru di bidang seperti ini AI paling berbahaya kalau dipakai tanpa pemahaman.

Yang masih jadi pekerjaan rumah

Target 11 November bukan garis finis. Izin prakarsa dan harmonisasi regulasi cuma pintu masuk. Setelah itu masih ada urusan yang jauh lebih berat.

  • Kesiapan industri. Belum ada kepastian siapa yang akan memproduksi chip dalam jumlah besar, dan dengan kapasitas berapa.
  • Keberlanjutan talenta. 1.500 lulusan pelatihan perlu tempat kerja nyata, bukan cuma sertifikat.
  • Standar dan sertifikasi keamanan. Chip dokumen negara harus lolos uji yang diakui internasional, terutama untuk e-paspor yang dipakai lintas negara.
  • Pendanaan jangka panjang. Proyek semikonduktor tidak selesai dalam satu tahun anggaran.

Ada juga risiko yang jarang disebut: proyek semacam ini gampang berhenti di tahap seremonial. Sandbox diluncurkan, hackathon digelar, lalu perhatian pindah ke isu lain. Supaya tidak begitu, hasil desain dari kampus sebaiknya punya jalur jelas menuju prototipe dan produksi, bukan berhenti di presentasi akhir.

Apa artinya buat kamu

Kalau kamu mahasiswa teknik elektro atau informatika, ini momen yang layak diambil. Sandbox-nya gratis dan bisa diakses dari laptop biasa. Bidang desain chip selama ini dianggap terlalu jauh karena alatnya mahal, dan sekarang hambatan itu sebagian sudah dibuka.

Kalau kamu pengguna biasa, dampaknya lebih pelan tapi nyata. Dokumen elektronik yang chipnya dirancang dan diproduksi di dalam negeri lebih gampang diaudit keamanannya. Kalau ada celah, pemerintah tidak harus menunggu vendor asing memberi perbaikan.

Saya sendiri belum mau terlalu optimistis soal tenggat 11 November. Rekor proyek teknologi nasional kita cukup campur: ada yang jalan, ada yang berhenti di tengah. Tapi untuk sekali ini, arahnya masuk akal. Mulai dari desain, latih orangnya dulu, baru bicara pabrik. Urutan itu lebih realistis daripada langsung membangun fabrikasi tanpa siapa pun yang bisa mendesain chip-nya.

Yang perlu ditunggu sekarang bukan pengumuman baru, tapi apakah izin prakarsa benar-benar keluar bulan ini dan apakah hasil hackathon kampus berlanjut jadi prototipe. Dua hal kecil itu lebih menentukan daripada pidato mana pun.

Pertanyaan yang sering muncul

Apa itu Sandbox Desain Chip Merah Putih? Fasilitas eksperimen digital dari Peruri yang diluncurkan 27 Juli 2026 untuk merancang chip lewat browser secara gratis.

Apakah Indonesia sudah bisa memproduksi chip sendiri? Belum. Tahap yang berjalan sekarang adalah desain dan pelatihan talenta. Purwarupa chip e-paspor masih diuji keandalannya di laboratorium.

Siapa saja yang terlibat? Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Peruri, BP BUMN, serta perguruan tinggi. Kolaborasi chip e-paspor melibatkan Peruri dan ITB lewat PT LAPI ITB.

Kapan target penyelesaiannya? Untuk tahap administratif, target awalnya 11 November, dengan proses masuk tahap harmonisasi. Untuk produksi massal, belum ada tanggal resmi.

Sumber: CNN Indonesia, ANTARA, Kemdiktisaintek, RRI. Foto: ANTARA/HO-Kemdiktisaintek.