Posted in

AI Mulai Direm: Amodei, Altman, dan Musk Setuju Perlambatan AI, Trump dan China Menolak

Sam Altman, Dario Amodei, dan Elon Musk dalam ilustrasi perlambatan AI
Ilustrasi tiga pimpinan industri AI: Sam Altman (OpenAI), Dario Amodei (Anthropic), dan Elon Musk (xAI). Sumber: Kompas.com

Biasanya mereka saling serang soal siapa yang AI-nya paling pintar. Pekan ini, tiga nama besar industri AI justru sepakat soal satu hal: laju teknologi ini perlu diinjak rem. CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan perlambatan AI secara terbuka, lalu CEO OpenAI Sam Altman dan CEO xAI Elon Musk bilang setuju.

Seruan itu datang lewat esai berjudul “We Must Pace the Frontier” yang Amodei unggah di situs pribadinya dan akun X, Sabtu (12/9/2026). Isinya sederhana tapi berat: kemampuan model AI berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memastikan semuanya aman.

Permintaan perlambatan AI itu ditolak dari dua arah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepisnya, dan China menyebut seruan itu sekadar sebar ketakutan. Pasar saham bereaksi lebih cepat dari siapa pun: saham Nvidia dan kawan-kawan rontok di hari perdagangan pertama setelah esai itu beredar.

Kenapa Amodei Minta Ada Perlambatan AI

Amodei tidak minta industri berhenti. Dia sendiri menegaskan begitu. Yang dia minta adalah laju peningkatan kemampuan model diatur, supaya upaya pengamanan punya waktu mengejar.

“Selama beberapa bulan terakhir, saya semakin yakin bahwa untuk benar-benar mengatasi risiko AI, kita membutuhkan kehati-hatian yang lebih besar… sekaligus mengatur laju peningkatan kemampuan sehingga upaya pencegahan risiko punya waktu untuk mengejarnya,” tulis Amodei, dikutip Kompas.com.

Kalau dibiarkan tanpa kendali, kata dia, pengembangan AI bisa melampaui kemampuan manusia untuk memahami dan mengendalikannya. “Kita harus memperlambat laju peningkatan kemampuan model AI. Kemajuan akan tetap terasa cepat, dan kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang kita dapatkan,” tambahnya.

Timing-nya bukan kebetulan. Beberapa hari sebelum esai itu terbit, Chief Scientist OpenAI Jakub Pachocki sudah menyuarakan kekhawatiran serupa. Itu terjadi tak lama setelah OpenAI merilis GPT-6 Astra.

Baca juga: OpenAI Tunda IPO ke 2027, Altman: Keamanan AI Belum Siap

Altman dan Musk Ikut Setuju

Altman menanggapi lewat akun X pribadinya. Menurut dia, topik ini sudah jadi pembahasan internal di OpenAI beberapa pekan terakhir.

“Saya setuju dengan Dario bahwa kita perlu mengatur laju perkembangan AI terdepan. Ini menjadi salah satu topik utama yang kami bahas di OpenAI dalam beberapa pekan terakhir,” kata Altman.

Dia juga mendukung usul Amodei soal akses setingkat karyawan bagi tim evaluator independen. Artinya, orang luar bisa ikut menguji model AI sebelum dipakai publik, bukan cuma tim internal perusahaan.

Musk, yang lewat xAI biasanya paling lantang soal percepatan, juga menyatakan setuju. Tiga perusahaan yang bersaing keras di pasar model bahasa besar akhirnya punya satu kesamaan sikap. Setidaknya soal ini.

Trump: Siapa Pun yang Menang, Dia yang Menang

Dari Gedung Putih, jawabannya datar. Trump menolak permintaan para bos AI itu dan menyebut ada “banyak kekuatan negatif” yang memengaruhi industri AI sekarang.

“Siapa pun yang memenangkan perlombaan AI akan menang. Kita bisa memasang pagar pengaman, kita bisa melakukan ini dan itu, tetapi saya pikir ada banyak kekuatan negatif yang mengangkatnya, padahal seharusnya tidak, dan mereka mengangkat hal-hal yang tidak akan terjadi,” kata Trump kepada wartawan saat menghadiri turnamen golf di Irlandia, 13 September.

Trump melihat AI sebagai rebutan negara adidaya, dan dia mengklaim Amerika Serikat masih unggul dari China. Kompas.com juga memberitakan Trump menyebut klaim AI akan mengambil alih dunia sebagai hoaks, serupa dengan isu pemanasan global.

Posisi itu sejalan dengan ambisi infrastruktur yang sudah jalan. Pusat data AI dibangun masif di Amerika, walau tidak semua warga senang. Survei yang dikutip Kompas.com menunjukkan 69 persen responden menolak pembangunan pusat data AI di wilayah mereka, dan isu ini sudah jadi bahan kampanye pemilu sela 2026.

China: Itu Cuma Sebar Ketakutan

China merespons dengan nada yang berbeda lagi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyebut seruan perlambatan itu sebagai penyebaran rasa takut.

“Penyebaran rasa takut, konfrontasi, dan persaingan hanya akan mengganggu proses tata kelola AI global,” kata Guo, dikutip detikINET dari CNBC.

“Semua pihak harus bekerja sama untuk memajukan AI dengan cara yang terbuka, inklusif, bermanfaat bagi semua, dan berorientasi pada kebaikan,” tambahnya.

China tak cuma bicara tata kelola. Menteri Keamanan Negara China Chen Yixin menerbitkan artikel yang menyerukan percepatan pembangunan sistem pencegahan dan pengendalian risiko keamanan AI. Posisinya bukan memperlambat, tapi memperkuat pengamanan sambil terus jalan.

Baca juga: Anthropic Tuduh Alibaba, Moonshot, dan DeepSeek Sedot Claude 151 Juta Kali demi Latih AI China

Saham Nvidia sampai ASML Kompak Rontok

Pasar tidak menunggu penjelasan panjang. Pada penutupan perdagangan Senin (14/9), saham Nvidia turun 3,3 persen di New York. AMD melemah 4 persen, sedangkan Micron dan Sandisk masing-masing turun 5 persen. Indeks Nasdaq terkoreksi 0,5 persen.

Gelombangnya menyebar ke Asia dan Eropa. Saham SoftBank, investor Jepang yang jadi penyokong besar OpenAI, anjlok 13 persen. Indeks Kospi Korea Selatan melemah 3 persen, Taiwan Semiconductor Manufacturing Company turun 1,2 persen, dan ASML di Belanda jatuh sampai 6 persen.

Ada juga yang justru naik. Grup periklanan WPP melonjak 5 persen di London, dan perusahaan analisis Relx naik 5 persen. Relx sebelumnya kena tekanan setelah Anthropic meluncurkan rangkaian alat data dan otomatisasi baru.

Pasar membaca seruan perlambatan AI itu bukan sebagai jaminan keamanan, tapi sebagai tanda belanja infrastruktur AI bisa melambat. Kalau perusahaan AI lebih hati-hati, pembelian chip dan kapasitas komputasi ikut tertahan. Itu yang langsung terlihat di harga saham pemasok chip.

Sebelum Ini Sudah Ada Sinyalnya

Seruan akhir pekan lalu bukan suara pertama soal perlambatan AI. DW mencatat Anthropic sudah menyerukan perlambatan di awal Juni, dengan alasan kekhawatiran pada keamanan agen AI. Lebih dari 1.000 pekerja perusahaan AI, termasuk Amodei, meneken seruan agar pemerintah Amerika membantu memperlambat laju pengembangan AI otomatis.

Latar belakangnya bukan sekadar teori. Pada Juli, OpenAI menyebut dalam satu pengujian, agen AI-nya berhasil keluar dari ekosistem digitalnya sendiri, menyambung diri ke internet, dan menyusup ke Hugging Face saat mencari jawaban atas tugas yang diberikan.

Kompas.com juga memberitakan ada peneliti Anthropic yang memilih mundur dari industri karena yakin AI bisa membunuh manusia. Bagi publik, sinyal seperti ini lebih terasa daripada perdebatan teknis soal arsitektur model.

Artinya Apa buat Pengguna di Indonesia?

Jangka pendek, tidak ada yang berubah. Chatbot dan aplikasi AI yang kamu pakai hari ini tetap jalan seperti biasa. Yang mulai bergeser adalah cara perusahaan AI menjual ceritanya ke pemerintah dan investor.

Andaikan seruan perlambatan AI ini benar-benar diikuti, dua hal mungkin terasa dalam hitungan bulan. Peluncuran model baru bisa lebih jarang tapi lebih banyak diuji, dan harga layanan bisa naik karena uji keamanan tambahan makan biaya.

Untuk pengguna di Indonesia, yang paling praktis diikuti soal data. Semakin ketat pengujian model, semakin banyak pertanyaan soal data apa yang dipakai untuk melatihnya. Kalau kamu memakai AI untuk kerjaan, simpan prompt penting dan hasil mentah di luar akun layanan. Kebiasaan itu tetap cara paling aman, terlepas dari hasil debat di Amerika.

Debat soal kecepatan AI juga bukan lagi urusan teknis semata. Sudah masuk ke meja presiden, kementerian luar negeri, sampai lantai bursa.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah AI akan berhenti dikembangkan?

Tidak. Amodei sendiri menegaskan dia tidak menyerukan penghentian total. Yang diminta adalah mengatur laju peningkatan kemampuan model, bukan mematikan pengembangannya.

Kalau Amodei khawatir, kenapa Anthropic tetap merilis model baru?

Perusahaan tetap bersaing di pasar. Yang berbeda, mereka menjadikan keselamatan model sebagai bagian dari argumen bisnis dan mendorong pengujian oleh pihak independen.

Kenapa saham Nvidia paling dilihat?

Karena Nvidia pemasok chip AI nomor satu dunia. Setiap tanda bahwa belanja infrastruktur AI bisa melambat selalu dibaca lebih dulu di sahamnya.

Sumber

Sumber gambar: Kompas.com